Ibu Pertiwi Bangkit

Posted: Agustus 9, 2017 in Ke-Indonesian, Sastra

Indonesia kaya akan keberagamannya

Budaya, agama, bahasa semua ada di Indonesia

Perbedaan bukan menjadi perkara

Namun menjadikan kesatuan yang tidak terkalahkan

Hari ini ibu pertiwi sedang merana dan menderita

Kesatuan yang harusnya menjadi kekuatan

Kini telah diruntuhkan oleh ke egoisan seseorang

Saling menghormati dan menghargai yang selalu diinginkan

Sekarang perbedaan menjadi ancaman bagi sebagian orang

Bangsaku kuat dengan perbedaan yang menjadi kekuatan

Kekuasaan, harta dan popularitas menjadi rebutan

Semua menginginkan seperti semula

Indah pada tempatnya

Semuanya mencintai ibu pertiwi

Semua bangga terlahir di Indonesia

Kami ingin Indonesia sejahtera

Tanpa kekacauan

Tanpa ketamakan

Tanpa kebencian

Perbedaan yang mempereratkan kita semua

Menjadi Indonesia yang kuat adalah cita-cita kami

 

By : Itsnaini Afrida

 

Tujuh September 2017 nanti akan menjadi salah satu hari peringatan yang menyedihkan bak membuka luka lama. Pasalnya pada tanggal dan bulan tersebut di tahun 2004 telah terjadi sebuh kasus pelanggaran HAM yang cukup menggegerkan publik Indonesia. Munir Said Thalib seorang tokoh aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) di Indonesia tewas dalam pesawat Garuda Indonesia. Munir tewas setelah memakan makanan yang telah diberi racun arsenik saat ia tengah dalam perjalanan menuju Belanda. Kasus Munir itu merupakan salah satu contoh dari puluhan kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia.

Nyatanya, kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia banyak sekali. Bagaimana bisa kita melupkan pembantaian sadis para anggota dan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia)  yang mereka ditangkap, ditahan, disiksa, dan di bunuh tanpa proses pengadilan yang jelas. Tak berhenti disitu kasus Marsinah sang aktivis buruh perempuan yang ditemukan tewas terbunuh lima hari setelah aksi demo buruh pada PT Catur Putra Surya Porong yang dimotorinya dilaksanakan. Kasus-kasus tersebut dan masih banyak kasus-kasus lain yang belum terungkap menjadi daftar panjang potret kelam Indonesia dalam hal penegakan HAM.

Menurut Wikipedia, Hak Asasi Manusia pada dasarnya adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma , yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional (id.wikipedia.org). Miriam Budiarjo mendefinisikan HAM sebagai hak yang dimiliki setiap orang yang dibawa sejak lahir ke dunia, hak itu sifatnya universal sebab dipunyai tanpa adanya perbedaan kelamin, ras, budaya, suku, agama maupun sebagainya. Karena sifatnya universal dan dimiliki oleh semua orang, jadi kita perlu menghormatinya dalam arti lain kita tidak melanggar, mengurangi atau merampas hak tersebut dari orang lain.

Sifatnya yang universal serta dimiliki semua orang, menjadikan HAM menjadi batas bagi hak orang lain. Dalam kata lain, hak seseorang dibatasi oleh hak orang lain. Sehingga bila seseorang telah tidak mengenal lagi batas prinsip-prinsip moral maka dia akan dengan mudah melanggar hak orang lain.

Dalam upaya penegakkan HAM di Indonesia, masih banyak ditemui tantangan. Pemasalahan tersebut antara lain masih banyaknya penduduk Indonesia yang belum tersosialisasi mengenai apa itu HAM. Di desa-desa sebagai contoh tempat saya tinggal, banyak sekali warga yang belum mengerti perihal HAM. Warga yang saya maksud disini adalah para ibu-ibu dan bapak-bapak yang kebanyakan hanya pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar. Tangan panjang dari hal tersebut mereka belum mengetahui apa saja hak-hak mereka, sehingga ketika orang lain melanggar, mengurangi atau mermapas hak mereka merek tidak mengetahuinya.

Tantangan penegakan HAM yang tak kalah serius adalah rendahnya kepercayaan masyarakat Indonesia  kepada aparat penegak hukum, terlebih lagi ketidakpercayaan itu berasal dari kalangan alit (kecil). Barangkali kita sudah mafhum bahwa dalam suatu tatanan masyarakat disadari atau tidak ada stratifikasi, mereka yang menganggap dirinya kaum alit memiliki tingkat kepercayaan pada aparat hukum lebih rendah dibandingkan dengat mereka yang berada di kelas elit. Hal ini bisa dilihat dari seringnya terjadi “main hakim sendiri” di kalangan masyarakat, ini menunjukkan kecenderungan mereka yang menyukai budaya kekerasan.

Tantangan lain datang dari pihak pihak yang ingin untuk menghidupkan diskriminasi kelompok masyarakat tertentu yang mereka anggap sebagai minoritas. Mereka mencoba mendiskriminasi secara hubungan sosial, dalam forum-forum masyarakat misalnya. Bahkan beberapa kalangan minoritas tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Percaya atau tidak, sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa HAM merupakan produk bangsa barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Kita masih bisa temui anggapan itu dengan mudah. Beberapa adat-istiadat bahkan bertentangan dengan nilai-nilai HAM. Sebgaimana dikutip dariartikel di laman kompas.com yang berjudul “Sebagian Hukum Adat Dinilai Melanggar HAM” hukum adat Amole Papua yang mewajibkan pengantin perempuan ketika malam pertama harus berhubungan badan dengan saudara pengantin pria terlebih dahulu.

Tak hanya hukum adat di Amole Papua, di Sumbawa terdapat suatu adat Belis dimana bila seorang laki-laki harus memeberi mahar sejumlah binatang kerbau atau kuda kepada keluarga mempelai wanita. Semakin banyak binatang yang diberikan, maka suami semakin bebas memukul istrinya. Selain itu di Sumbawa arat terdapat tradisi perang dengan tombak sambil berkuda. Tradisi ini berlangsung setahun sekali.dalam kepercayaan warga Sumbawa Barat bahwa semakin banyak darah yang tumpah, luka atau meninggal maka semakin banyak pula hasil panen wilayah tersebut. Tradisi-tradisi tersebut nyatanya didukung oleh masyarakatnya, karena mereka masih berpegang teguh pada adat.

Melihat banyaknya kasus pelanggaran HAM, terlihat belum ada komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menegakkan HAM secara efektif sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Ketika hukum dan Tradisi Adat suatu golongan mencderai HAM, aparat penegak hukum tidak menindak lanjutinya secara tegas, karena masyarakatnya menyepakati ada tersebut. Kurang seriusnya aparat penegak hukum dalam menindak lanjuti kasus pelanggaran HAM juga terkesan berlarut-larut.

Sebagaimana telah dijabarkan secara panjang lebar rekan jejak kasus pelanggarn HAM di Indonesia. Dapat diketahui bahwa masih banyak sekali kasus yang belum terungkap serta masih banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Tantangan-tantangan yang diungkapkan tersebut masihlah belum mencakup semua. Perlu usaha keras dari berbagi pihak elemen masyaraat untuk tantangan-tantangan dalam usaha penegakan HAM di Indonesia.

Tidak semua urusan penanganan pelanggaran HAM dan kasus kasus lain mengenai HAM kita serahkan secara sepenuhnya kepada aparatur negara, KOMNAS HAM misalnya. Tapi penegakan HAM perlu partisipasi aktif dari masyarakat pula. Mengutip dari perkataan Nelson Mandela, “To deny people their human rights is to challenge their very humanity” (menolak memberikan hak asai manusia sama halnya dengan menantang rasa kemanusiaan mereka.

 

By : Sifa Lutfiyani Atiqoh

 

 

 

Disinilah Kami

Posted: Agustus 8, 2017 in Sastra

Disinilah kami memulai

Disinilah segalanya

Saat usia kami bayi bahkan sampai usia senja

Bahkan sampai di akhir hayat kami

Disinilah kami ingin …

Bumi pertiwi yang akan menjadi sebuah saksi

Lahir dan akan mati hanya di Negeri ini

Tidak ada yang lebih senyaman di Ibu Pertiwi

Tidak ada yang bisa menggantikannya

Disinilah kami memulai dan berakhir

Semua raga kami akan kembali di Ibu Pertiwi

Rasa cinta ini terlalu besar

Ingin rasanya memberikan semuanya untuk Bangsa ini

Untuk kemajuan dan kesejahteraan Negeri

 

By : Itsnaini Afrida

POSISI wahyu dalam Islam sangatlah sentral. Berdasarkan kondisi histories maupun normatif, posisi wahyu itu  demikian penting dalam mengarahkan, membimbing, dan meletakkan dasar relasi antara manusia dengan realitas transenden yang diyakininya. Wahyu pulalah yang mampu menjadi mediasi strategis bagi proses komunikasi ilahiyah antara manusia dengan  Tuhannya. Baca entri selengkapnya »

Teknik Persidangan

Posted: Agustus 8, 2017 in Keorganisasian

Pendahuluan

Wadah serta proses kerjasama sejumlah manusia yang terkait dalam hubungan formal dalam rangkaian hirarki untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebagai sebuah organisasi. Dalam pencapaian tujuan itu sendiri  ditentukan dalam proses manajemen organisasi yang merupakan strukutur sistem kerja yang telah  disepakati bersama. Sistem kerja yang tertuang dalam struktur dan mekanisme kerja organisasi menjadi landasan dan formulasi dalam pengambilan kebijakan internal ataupun eksternal, dan distribusi kewenangan serta tanggung jawab yang jelas pada kepengurusan organisasinya. Baca entri selengkapnya »

            Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

                Kini Bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan, semua itu merupakan perjuangan seluruh rakyat terutama para pemuda yang luar biasa berjuang demi tanah air, dan melahirkan SUMPAH PEMUDA yang disebut-sebut sebagai lahirnya bangsa Indonesia untuk itu maka diperingati setiap tanggal 28 oktober sebagai hari “Sumpah Pemuda”.

               Para pemuda tidak harus mengangkat senjata untuk membela negara, berperang melawan penjajah. Namun ketika suasana di sekitarnya terlihat aman, tidak ada masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak berbuat, lebih apatis, mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Baik dalam tataran moral, sosial dan akademik, pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini, dalam urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa. Baca entri selengkapnya »

Posted: Maret 24, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-HMI-an

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

foto di pantaiPerkaderan merupakan aspek terpenting dalam proses perkembangan sebuah organisasi, termasuk HMI. Bahkan dalam HMI perkaderan diumpamakan jantung, yang apabila tidak bergerak (berdetak) berarti matilah HMI. Maka sudah seharusnya perkaderan dianggap sebagai substansi yang sangat penting dalam organisasi, bahkan dijadikan tolak ukur bagi perkembangan organisasi itu sendiri. Hal ini tidak berbeda dengan lembaga semi otonom dalam badan HMI, yaitu Korps HMI-wati (KOHATI).

KOHATI menitikberatkan pada pembinaan HMI-wati dengan menilik peran HMI-wati sebagai seorang anak, seorang (calon) isteri, dan (calon) ibu. Eksistensi KOHATI menjadi sangat penting, karena menjadi “laboratorium hidup” yang akan menghasilkan HMI-wati berkualitas untuk masa depan. Kualitas terbaiknya sebagai seorang putri bagi kedua orangtuanya, calon istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya kelak serta kualitas terbaik sebagai anggota masyarakat.[1] Sehingga badan khusus KOHATI yang memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi HMI-wati serta membekalinya dengan apa-apa yang dibutuhkannya nanti dalam rangka mempersiapkan HMI-wati untuk melaksanakan perannya dengan baik. Potensi dan bekal yang diusahakan KOHATI agar sesuai dengan kebutuhan HMI-wati membutuhkan data-data penunjang untuk mewujudkan pembinaan dan perkaderan yang terukur dan terarah. Baca entri selengkapnya »

20150814_222603Kondisi hukum di Indonesia di ibaratkan seperti pedang tajam ke bawah dan tumpuk ke atas. Inilah bukti bahwa pemimpin bangsa Indonesia yang tak amanah dalam menjalankan kewajibannya serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan di kalangan masyarakat menengah. Selain itu semakin meningginya saham-saham asing yang di tanam di Indonesia berdampak pada melemahnya ekonomi masyarakat kecil di Indonesia. Ini juga berdampak pada meningkatnya penduduk miskin di Indonesia. Sensus data penduduk miskin di Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik     yang diambil pada bulan Maret 2015 mencapai 11, 22% meningkat 0,86% dari tahun sebelumnya. Bila itu terus menerus terjadi di Indonesia makan kriminalitas di Indonesia akan meningkat tajam.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini mengharuskan kita lebih peka terdapat kondisi bangsa yang makin ambruk dan memberikan solusi terhadap permasalah tersebut. Ini menjadi salah satu tugas yang perlu benar-benar di emban sebagai mahasiswa. Disinilah peran dan fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam penyeimbang antara masyarakat dan pemerintah agar kebijakan-kebijakan yang diambil tidak merugikan bangsa Indonesia.

Dalam pengembangan perannya, dilihat dalam tatanan Universitas, mahasiswa menempati posisi strategis sebagai kaum elit di jurusan yang telah di pilih. Pengembangan potensi masing-masing pribadi mahasiswa dapat dilakukan dengan kegiatan- kegiatan reflektif dengan kajian intensif untuk menambah wacana keilmuan. Selanjutnya melakukan tindakan yang efektif berupa aksi untuk menghimpun masyarakat dalam bentuk aliansi- aliansi memperjuangkan hak kaum yang tertindas. Inilah salah satu bentuk hegemoni intelektual seorang mahasiswa dalam pengawalan kebijakan pemerintah agar keputusannya tidak menyengsarakan rakyat. Daya tonjok psikologis atau psychologycal striking force akan memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan bangsa dalam pembangunan nasional.

Dari daya tonjok psikologis mahasiswa yang kuat akan terbentuk karakter intelektual yang memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi agar terlibat aktif dalam dunia pembangunan nasional. Inilah pentingnya pengawalan isu sebagai mahasiswa yang berhegemoni intelektual demi keberlangsungan harkat dan bangsa Indonesia di kancah pertarungan dunia.

Terpelajar bukan hanya terlihat dari buah pemikirannya saja tetapi terpelajar juga harus mampu menunjukkan sikap keterpelajarannya melalui perbuatannya.

 

foto 1Mahasiswa………………………….

Seperti status yang sangat membanggakan. Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah yang bisa dibanggakan dari seorang mahasiswa? Apakah dengan keberaniaanya atau karena sebutan akademis bagi seorang siswa yang sudah mengalami jenjang pendidikan lebih tinggi ataukah dengan nilai yang dikatakan sempurna atau comluade. Tak anyal mahasiswa hanya mampu bersenang-senang dengan kegiatannya yang terkadang tidak bermanfaat untuk pribadinya dan orang lain atau bisa dikatakan mereka menerapkan perilaku yang hedonis. Melihat realita sebagian besar kegiatan mahasiswa dikampus yang hanya 3D+1H (datang, duduk, domblong dan hangout). Lalu bagaimanakah kita memaknai mahasiswa yang berkualitas itu sendiri?

Berbicara mengenai mahasiswa yang berkualitas maka kita akan berbicara mengenai potensi-pontensi yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Tetapi ada kesalahpahaman dari beberapa orang bahwasanya mahasiswa yang berkualitas selalu diidentikan dengan mahasiswa yang mendapatkan nilai bagus (comluade) atau yang sering kita sebut dengan mahasiswa akademis. Padahal nilai bagus dan prestasi bukan satu-satunya ukuran seorang dapat dikatakan sebagai mahasiswa yang berkualitas.

Mahasiswa dikatakan berkualitas dinilai dari sejauh mana seorang mahasiswa peka terhadap lingkungan sekitarnya dan mampu mengkritisinya sehingga berguna untuk peningkatan kemajuan dilingkungan kemahasiswaan dan dilingkungan masyarakat. Sehingga Prestasi tidak cukup bahkan tidak berkualitas apabila tidak berguna bagi orang lain dan masyarakat pada umumnya. Mahasiswa yang berkualitas tidak hanya sekedar mengetahui tetapi apa ia yang diketahuinya harus diterapkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memaknai kata akademis itu sendiri bukan hanya dilihat dari nilai yang tinggi tetapi lebih ditekankan pada memiliki wawasan yang luas, berfikir kritis, berfikir rasional, objektif, memiliki kemampuan teoritis serta mampu berdiri sendiri dengan disiplin ilmu yang dia pilih. Kemampuan intelektual dan analisis yang kuat harus didukung dangan keilmuan yang dipelajari sehingga menjadikan kekritisan tersebut berbasis intelektual bukan berdasarkan omongan belaka tanpa teori dasar yang jelas. Belum pantas seseorang disebut mahasiswa berkualitas tanpa memenuhi konsekuensi-konsekuensi dari identitas yang melekat pada diri seorang mahasiswa. Mahasiswa dikatakan agen of change, social control, iron stock itulah identitas dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa akan mengenal apa itu Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai slogan dan menjadi tugas yang diemban oleh setiap mahasiswa. Mahasiswa harus mampu mendayagunakan semua ilmu pengetahuannya (pendidikan) untuk menciptakan inovasi-inovasi baru (penelitian) dan mendharma baktikan ilmu pengetahuannya (pengabdi). Selain itu sebagai mahasiswa akademis, pencipta, pengabdi, kita harus mampu mewujudkan cita-cita dan ikhlas dalam mengamalkan ilmunya untuk kepentingan dan kemajuan umat dan bangsa. Selain itu penguatan kualitas keilmuan diperlukan pula kualitas religiusitas untuk membentuk “unity personal” agar tercegah dari sikap “split personality. Sehingga kualitas ini mampu mengintegrasikan masalah pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan bangsa Indonesia. Pemenuhan keseluruhan konsekuensi tersebut menjadikan mahasiswa memiliki kebermaknaan sebagai mahasiswa yang sebenarnya dan mahasiswa seutuhnya.

Yakusa……………Yakin Usaha Sampai……………

 

 

KATA PENGANTAR

ﺑﺴﻢﺍﻠﻠﻪﺍﻠﺮﺤﻣﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻡ

hegemoni intelektualAssalamu’alaikum.Wr.Wb

Puja, puji serta syukur selalu kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa. Shalawat beriring salam senantiasa kita sanjungkan kepada Muhammad SAW, sang Revolusioner Sejati, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada umatnya hingga akhir zaman.

Makalah dengan tema KONSTRUKSI PARADIGMA PANDANGAN DUNIA ISLAM MENUJU IDEOLOGI ISLAM TRANSFORMATIF “IMPLEMENTASI PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID (NDP)   SEBAGAI IDEOLOGI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM GUNA MEWUJUDKAN MASYARAKAT CITA disusun sebagai syarat dalam Latihan Kader II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang pada tanggal 10 s.d 16 Agustus 2015.

Semoga makalah ini dapat menjadi bahan evaluasi kritis dan diharapkan mampu memberikan solusi yang solutif untuk himpunan tercinta ini. Akhirnya penyusun mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan dalam penyusunan makalah ini.

Billahittaufik wal hidayah

Wassalamu’alaikumm wr. wb Baca entri selengkapnya »