Makalah
Spirit Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Pengembalian Fitrah Kader HMI
Guna memenuhi persyaratan mengikuti Intermediate Traning LK 2
HMI Cabang Kudus 2017

lambang

Disusun oleh:
Sifa Lutfiyani Atiqoh

Himpunan Mahasiswa Islam
Cabang Sukoharjo
Komisariat Ahmad Dahlan I
2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehinggatersusunlah Makalah dengan berjudul “Spirit Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Pengembalian Fitrah Kader HMI” sebagai syarat mengikuti Intermediate Basic Training (Latihan Kader 2) yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Kudus.

Sholawat serta salam tak lupa senantiasa tercurahkan Nabi besar Muhammad saw, sang pelopor dari segala peloppor, yang luar biasa dalam hal kebaikan, kasih sayang, pembebasan dari belenggu kekafiran dan kemunafikan, serta keberhasilan perjuangannya menghantarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang sungguh merupakan rahmat Allah SWT yang tiada kemuliaan serupa.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Kanda-Kanda dan yunda-yunda HMI komisariat Ahmad Dahlan I Cabang Sukoharjo yang telah membimbing dan membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga dapat terselesaikan makalah ini dengan lancar dan baik.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sehingga penulis dapat menambah grade pengetahuan dan kemampuan penulis.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin.

 

Sukoharjo, 28 Agustus 2017

Penulis            


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………………………. II

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………………………………..III

BAB 1……………………………………………………………………………………………………………………………………….. 1

Pendahuluan…………………………………………………………………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………………………………………1
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………………………………. 3
  3. Tujuan…………………………………………………………………………………………………………………………….. 3

Bab II……………………………………………………………………………………………………………………………………….. 4

ISI…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 4

  1. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pemimpin………………………………………………….. 4
  2. Biografi Ki Hadjar Dewantara………………………………………………………………………………………. 4
  3. Pemikiran ki Hadjar Dewantara Tentang Pemimpin…………………………………………………. 6
  4. Relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap kader Himpunan Mahasiwa Islam……………………………………………………………………………………………………………………………….. 8

BAB III……………………………………………………………………………………………………………………………………. 12

PENUTUP……………………………………………………………………………………………………………………………….. 12

  1. Simpulan………………………………………………………………………………………………………………………. 12

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………………………… 13

 


BAB 1

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Aguste Comte seorang Sosiolog Barat mengisyaratkan bahwa “tidak ada manusia stagnan”, pernyataan itu berimplikasi pada kenyataan bahwa manusia sebagai individu ataupun suatu kelompok masyarakat akan terus dinamis, karena tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa.[1] Begitupun Himpunan Mahasiswa Islam atau yang disingkat dengan HMI yang merupakan salah satu organisasi mahasiswa  yang bergerak dinamis sejak pembentukannya 70 tahun silam.

HMI lahir pada tanggal 5 februari 1947 Yogyakarta, yang di prakarsai oleh 15 pemuda.[2] Sejak masa awal berdirinya hingga sekarang HMI mengemban dua tugas yang tidak dapat dipisahkan yakni tugas Negara dan Agama. Hal tersebut menunjukkan bahwa HMI adalah bagian mutlak yang tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan bangsa Indonesia.[3]

Sebagai salah satu bagian dari keping-keping sejarah Indonesia, HMI ikut membangun serta mengawal bangsa Indonesia hingga saat ini. Melalui wadah ini para generasi muda, mahasiswa muslim Indonesia berupaya untuk memberi gagasan-gagasan yang bersifat konstruktif dalam upaya membangun Indonesia. Sebagaimana tujuan HMI yakni “Terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil maksur yang diridhoi oleh Allah Swt”. Demi terwujudnya cita-cita mulia itu tentu diperlukan

[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali 1982) Press. hlm. 301

[2] Agussalim Sitompul, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam tahun 1947-1993 Cet. Kedua (Jakarta : CV Misaka Galiza. 2008). Hlm. 12.

[3] Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia Cet. Ketiga (Jakarta:CV Misaka Galiza, 2008), hlm. 1.


adanya komitmen kuat dari segenap kader himpunan dalam menjalakan roda organisasi, dimulai dari tingkatan komisariat, korkom, cabang, badko dan pengurus besar.

Kepemimpinan merupakan salah satu isu dalam manajemen yang masih cukup menarik untuk diperbincangkan hingga dewasa ini. Peran kepemimpinan yang sangat strategis dan penting bagi pencapaian misi, visi dan tujuan suatu organisasi, merupakan salah satu motif yang mendorong manusia untuk selalu menyelidiki seluk-beluk yang terkait dengan kepemimpinan.[4] Diperlukan pemimpin dengan komiten yang kuat dalam menjalankan roda organisasi. Selaim itu integritas juga diperlukan dalam memimpin. hal-hal tersebut bersifat urgent mengingat HMI masa sekarang mengalami kemunduran yang membuatnya nyaris kehilangan jati diri, serta tidak mempunyai kepribadian yang utuh.[5]

Dalam rangka mengembalikan fitrah HMI, diperlukan kader-kader himpunan kredibiltas tinggi, memiliki jiwa kompetitif dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik serta yang tak kalah penting adalah kader yang senantiasa mendekatkan dirinya pada lima kualitas insan cita.

Membahas perihal kepemimpinan tentu  hal tersebut termasuk hal yang penting terlebih dalam organisasi sekelas HMI. Karena dengan berorganisasilah akan muncul sosok-sosok pemimpin muda yang nantinya akan memimpin bangsa ini. pemimpin disini bukan hanya berarti sebatas seseorang yang memimpin rapat atau sidang melainkan seorag pemimpin yang asecra aktif dapat membawa organisasi yang ia pimpin mencapai tujuannya.

[4] Raharjo, Susilo Toto dan Durrotun Nafisah. 2006. Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi Dan Kinerja Karyawan (Studi Empiris Pada Departemen Agama Kabupaten Kendal Dan Departemen Agama Kota Semarang). Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi Vol.3 No. 2. Hlm. 69.

[5] Agussalim Sitompul. 44 Indikator  Kemunduran HMI Cet. Ketiga 2008 Jakarta: CV Misaka Galiza hlm. 106

Unduh makalah di bawah ini untuk lebih lengkapnya, terimakasih salam hangat dari Komisariat Ahmad Dahlan 1 Cabang Sukoharjo. ^^

Makalah LK2 Sifa Lutfiyani

Iklan

PERKADERAN KOHATI DALAM

MELAHIRKAN PEMIMPIN PEREMPUAN NASIONAL

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti

LATIHAN KHUSUS KOHATI (LKK) CABANG SEMARANG

KOHATI

Oleh : Woro Nurwardani

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)

KOMISARIAT AHMAD DAHLAN I

CABANG SUKOHARJO

2017


PERKADERAN KOHATI DALAM MELAHIRKAN PEMIMPIN PEREMPUAN NASIONAL

Oleh : Woro Nurwardani

 

Perempuan memiliki persentase 30% untuk berkiprah di dunia politik praktis. Porsi ini diberikan oleh pemerintah dengan pertimbangan dominasi politik oleh laki-laki, sehingga diharapkan dapat meningkatkan peran perempuan di bidang politik. Namun hingga kini Indonesia belum bisa memenuhi target 30% tersebut, sehingga menimbulkan anggapan bahwa perempuan bangsa ini tidak kompatibel dengan pergerakan politik. Perempuan Indonesia diharapkan dapat memenuhi kuota tersebut sehingga ikut berperan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian perempuan dalam pemilihan parlemen yang  mengalami penurunan dari 18,2 persen pada tahun 2009 menjadi 17,3 persen di tahun 2014. Padahal, kandidat perempuan yang mencalonkan diri dan masuk dalam daftar pemilih dari partai politik mengalami peningkatan dari 33,6 persen tahun 2009 menjadi 37 persen pada 2014. Pada Pemilu Legislatif tahun 2014, ternyata hanya mampu menghasilkan keterwakilan perempuan di legislatif sebanyak 97 kursi (17,32 persen) di DPR, 35 kursi (26,51 persen) di DPD, dan rata-rata 16,14 persen di DPRD serta 14 persen di DPRD kabupaten/kota.[1]

Ketimpangan perempuan dalam parlemen menjadikan perempuan semakin tersisih sebagai perannya sebagai anggota masyarakat. Dalam hal ini perlu pendidikan bagi perempuan untuk belajar public speaking agar menyadari dirinya berharga dalam kehidupan di masyarakat. Pendidikan perempuan menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan salah satunya melalui Korps HMI-wati (KOHATI).

[1] Dina Manafe, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan di Parlemen Gagal Tercapai dalam http://www.beritasatu.com/nasional/210327-kuota-30-keterwakilan-perempuan-di-parlemen-gagal-tercapai.html yang diakses pada pukul 19.06 WIB.


KOHATI merupakan salah satu badan yang menaungi HMIwati. Seyogyanya kohati tidak mempunyai tujuan sendiri, tetapi tetap berpegang pada tujuan HMI saja. Namun, sebagian besar cabang tetap bertanggapan bahwa sebagai arah kegiatan, tetap diperlukan suatu formulasi yang singkat, padat dan mudah dipahami oleh pendukung organisasi, sehingga gerak langkah Kohati di eluruh Indonesia dapat diseragamkan dan Kohati dapat berhasil menjadi suatu gerakan yang memberi makna untuk HMI. Semua sepakat bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan peranan HMIwati dalam HMI.[2]

Sebagai wadah baru dalam HMI, maka sosialisasi badan ini sangat perlu dilaksanakan. Kohati sepakat bahwa hakikat utama yang memberikan dedikasi kelahiran Kohati adalah guna menyiapkan HMIwati menjadi wanita yang sarjana dan sarjana yang wanita. [3]

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Kohati dapat peranan penting yang jelas. Sehingga perlu penguatan pengaderan HMIwati yang kuat. Oleh karena itu kita sebagai kader HMIwati harus mempunyai ambisi untuk menunjukan bahwa KOHATI (HMIwati) patut atau pantas untuk menyetarakan gender dengan lelaki, dan membuktikan bahwa wanita tidak lemah yang hanya dapat mengisi dibagian domestik tetapi wanita pun bisa dibagian publik terutama pada bidang politik.

[2] Ida Ismail Nasution : KOHATI, Mengakar ke Dalam untuk Meraih Asa,(Jakarta: KOHATI PB HMI, 2013),  hlm. 49.

[3]Ibid,. hlm. 59.

Unduh essay di bawah ini untuk lebih lengkapnya, terimakasih salam hangat dari Komisariat Ahmad Dahlan 1 Cabang Sukoharjo. ^^

Essay LKK Woro Nurwardani

ESSAY KOHATI LAHIRNYA KARTINI KONTEMPORER

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti

LATIHAN KHUSUS KOHATI (LKK) CABANG SEMARANG

KOHATI

Oleh : Itsnaini Afrida Rohmhah

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) KOMISARIAT AHMAD DAHLAN 1

 CABANG SUKOHARJO 2017


Kata Pengantar

Tiada nikmat yang lebih indah didunia ini selain nikmat sehat yang diberikan oleh Allah SWT jika tanpa karunia yang selalu diberikan oleh-Nya maka essay ini tak akan pernah ada dan tak lupa salam dan shalawat kita berikan kepada suri tauladan kita umat muslim Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya di hari akhir kelak dan semoga kita berada dibarisan beliau.Penulis mengkorbankan waktu,tenaga,pikiran dan menahan rasa keinginan untuk bersantai,untuk menyelesaikan Esaay yang berjudul Lahirnya Kartini Kontemporer.Semuanya dikorbankan untuk menyelesaikan essay ini karena dengan mengorbankan sesuatu untuk mencapai tujuan yang ingin dituju penulis.Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang masih menemani hingga hari ini. Kepada jajaran pengurus HMI Cabang Sukoharjo khusunya pengurus KOHATI Cabang Sukoharjo yang memberikan masukan dan semangat,kepada jajaran pengurus Komisariat Ahmad Dahlan 1 yang tak henti-hentinya mengingatkan, memberi saran, dan menemani penulis dalam menyusun makalah ini dan terakhir semangat yang selalu diberikan kepada teman kader seperjuangan Komisariat Ahmad Dahlan 1 sampai hari ini karena merekalah penulis masih berdiri untuk berproses di HMI.

Sukoharjo, 03 Agustus 2017

Yang Selalu Berjuang

Itsnaini Afrida Rohmah


Pendahuluan

Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang indah begitu banyak kelebihan yang diberikan oleh-Nya disamping kekurangan yang diberikan. Perbedaan karakter perempuan dari masa ke masa mengalami perubahan dari kemunduran menuju kemajuan. Dulu kedudukan mereka sangatlah direndahkan, keberadaan mereka tidak dihargai bahkan mereka dimanfaatkan oleh kaum adam karena kekurangan mereka. Yang menjadi permasalahan adalah perempuan selalu ditempatkan pada posisi dibawah laki-laki.

Seiring pejalanan zaman, banyak pergerakan-pergerakan perempuan yang mengkoar-koarkan kesetaraan gender. Hingga sampai detik ini, kesetaraan gender semakin eksis pada tempat dan digadang-gadang agar menghilangkan subordinasi batas perempuan dan laki-laki. Pada kondisi ini membuat perempuan tidak ingin kalah dengan laki-laki. Semakin hari semakin banyak permasalahan yang timbul  baru menjadikan perempuan khususnya di Indonesia yang kehilangan jati dirinya.

Kemajuan zamanlah yang menelan dan menghilangkan karakter perempuan Indonesia. Adat ketimuran yang santun semakin-hari semakin sirna. Banyaknya perempuan yang mengenyam pendidikan yang tinggi namun tidak dapat mentransferkan keilmunya secara baik kepada masyarakat. Apabila kita melihat sejarah perjuangan perempuan Indonesia, kita akan mengenal sosok perempuan yang setiap tahunya kita peringati sebagai hari kelahirannya. Ia adalah Raden Adjeng Kartini.

R.A Kartini menjadi sosok yang memiliki wawasan luas dan perempuan yang luar biasa pemikirannya meski hidup dalam keadaan berkecukupan. Pemikirannya tentang pendidikan yang mewajibkan perempuan harus memiliki pendidikan yang lebih tinggi agar tidak tertinggal dengan laki-laki. Dengan pendidikan yang tinggi, perempuan memiliki kekuatan didalam dirinya tidak bisa hanya bergantung kepada seseorang, sekaligus siap dalam menerima tugas yang diberikan kepadanya. Perempuan menjadi siap dengan kemampuannya dan pengetahuan yang luas.

Pentingnya pendidikan bagi perempuan untuk menambah pengetahuan mengenai peran dan fungsinya. Sebagai salah satu badan khusus dalam Himpunan Mahasiswa Islam, KOHATI mempunyai peran dalam menciptakan perempuan-perempuan tangguh seperti R.A Kartini. Dengan perkaderan yang intensif dan sistematis diharapkan mampu membentuk perempuan yang fleksibel terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran agama Islam. Perempuan yang memberikan perubahan nyata bagi Indonesia. Perempuan adalah arah masa depan Indonesia didalam dirinya terdapat tanggung jawab yang sangat mulia dan kehidupan Indonesia akan ditentukan oleh mereka. Perempuan harus memilki kemampuan untuk dirinya maupun orang lain. Dan perkaderan pendidikan Kohati dalam menciptakan Kartini pada masa sekarang.

Pembahasan

Sosok pahlawan perempuan yang merubah sejarah perempuan di Indonesia adalah R.A Kartini memperjuangkan derajat perempuan agar tidak terbelakang dan tertinggal.Memberikan kontribusi yang sangat besar untuk kemajuan Indonesia karena dedikasinya untuk perempuan Indonesia seperti merubah pemikiran lama yang menganggap perempuan tidak sebanding dengan pria dan membuat perempuan Indonesia terbatas dalam mengembangkan potensi mereka dan hadirlah sosok pahlawan yang membuka kegelapan menjadi terang dialah R.A Kartini.

Sejarah itulah yang seharusnya menjadi kekuatan bagi perempuan Indonesia untuk berjuang bersama-sama memajukan Indonesia.Karakter perempuan Indonesia adalah Lemah lembut,ramah,,pekerja keras ,tidak mudah menyerah,kreatif dan penuh kasih sayang.Akan tetapi,perubahan jaman selalu berputar terus menerus dan tidak mau peduli akan dampak yang terjadi.Siap atau tidak perempuan harus mampu mencegah dampak negatif yang ditimbulkan dan


harus mampu bertahan.Banyak perempuan yang tidak siap akan perubahan dengan mudahnya mereka meninggalkan sejarah,nilai-nilai sosial yang berlaku,karakter pun turut hilang didalam hati mereka. Seorang Ahli Tafsir Dr.Nashruddin Baidan dalam tafsir bi al-Rayi bahwa laki laki dan perempuan harus sama-sama digembleng untuk menjadi generasi yang kuat.[1]

Untuk itu dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas untuk menghadapi perubahan jaman.Dibutuhkan keinginan yang keras dalam menuntut ilmu pengetahuan dan ilmu agama.Tidak semua perempuan Indonesia dapat menikmati pendidikan di perguruan tinggi mereka ingin melanjutkan kuliah.Namun terhalang oleh keadaan keluarga yang tidak mampu dalam finansial,tuntutan kebutuhan pokok keluarga untuk melakukan pekerjaan dan bahkan melakukan pernikahan dini untuk mengurangi beban keluarga.Banyak perempuan yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.Akan tetapi,Perempuan yang dapat merasakan pendidikan perguruan tinggi maupun tidak dapat merasakan sebenarnya mereka sama.Jika seseorang perempuan memiliki keinginan didalam dirinya yang sangat tinggi halangan dan rintangan yang ada didepan mata akan ia lewati untuk mendapatkan tujuan dan keinginannya.Mereka dapat belajar dimana pun,kapan pun dan dengan siapapun.Charles Fourier berpendapat bahwa tinggi rendahnya tingkat kemajuan suatu masyarakat adalah ditetapkan oleh tinggi rendahnya tingkat kedudukan perempuan didalam masyarakat.[2].Jadi sudah sewajarnya bahwa kita dapat mengubah lingkungan disekitar kita untuk kemajuan.

Belajar tidak hanya di bangku sekolah bisa dilakukan di majelis talim,tempat ibadah lainnya sesuai kepercayaan bahkan banyak perempuan yang belajar dari sesorang ia menyerap informasi melalui orang-orang disekitarnya dan setelah mendapatkan informasi yang ia butuhkan dan  ia akan menerapkan dilingkungan sekitarnya.Untuk perempuan yang memiliki kesempatan dapat menimba ilmu dipergururan tinggi seharusnya kita dapat melakukan lebih banyak kegiatan yang dapat menunjang karakter kita dan dapat memberi manfaat disekitarnya.Di setiap perguruan tinggi swasta maupun negeri masing-masing memiliki unit kegiatan mahasiswa yang dapat dipilih sesuai bakat dan minat bagi setiap mahasiswa dan ada juga organisasi internal maupun eksternal kampus.Organisasi dapat menjadi tempat untuk menempa mental ,menambah pengalaman dan menambah soft skill kita.

Di setiap organisasi eksternal maupun internal kampus sudah banyak perempuan yang telah bergabung dan tidak menutup kemungkinan  perempuan juga dapat  menjadi pimpinan diorganisasi yang ia ikuti.Inilah bukti bahwa perempuan dapat bersaing di akademis maupun organisasi.Organisasi adalah salah satu jalan untuk menambah pengetahuan serta wawasan yang luas,menambah relasi dan meningkatkan keahlian kita.Setelah lulus dari universitas kita dapat langsung terjun di dunia masyarakat dengan ilmu yang didapat saat berorganisasi dikampus.

Berorganisasi bagi perempuan bukanlah hal yang buruk,karena dalam pandangan sebagian orang menganggap organisasi akan menyita waktu kuliah,setiap rapat akan pulang malam bahkan pagi buta pun.Namun,setelah itu mereka dapat merasakan hal yang indah dari selama berproses diorganisasi.Hal yang ia dapatkan selama berproses tidak semua orang bisa merasakannya.Mereka akan merasakan hal positif setelah melalui proses yang panjang dalam berorganisasi.

Di dalam berorganisasi seorang perempuan dapat belajar banyak pengetahuan,keahlian soft skill,belajar memimpin orang lain,berdiskusi ,menerima kritikan dengan berjiwa besar.Masih banyak hal lain yang didapat ketika kita berorgnisasi.Disanalah kita akan ditempa menjadi pribadi yang kuat,berjiwa besar dan menjadi seorang pemimpin yang rendah hati dan lebih peduli dengan kepentingan bersama.

[1] Istimewakan setiap anak, Istadi dan Irawati ,Hal 5

[2] Sarinah kewajiban wanita dalam perjuangan Republik Indonesia,Hal 28.

Unduh essay di bawah ini untuk lebih lengkapnya, terimakasih salam hangat dari Komisariat Ahmad Dahlan 1 Cabang Sukoharjo. ^^

Essay LKK Itsnaini Afrida

CITRA PEREMPUAN MASA DEPAN INDONESIA MELALUI PERKADERAN KOHATI

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti

LATIHAN KHUSUS KOHATI (LKK)
CABANG SEMARANG

KOHATI

Oleh :

Lu’luin Maknun

 

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

KOMISARIAT AHMAD DAHLAN I

CABANG SUKOHARJO

2017


Citra Perempuan Masa Depan Melalui Perkaderan KOHATI

Oleh : Lu’luin Maknun

 

 “Perempuan adalah tiang  negara, bila kaum perempuannya baik (berahlak karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu

(Sya’ir Arab)”.[1]

Dari syair diatas dapat kita tarik benang merah bahwasanya perempuan memiliki peranan yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan menjadi pondasi dasar bagi keberlangsungan sebuah bangsa, maka dari itu perempuan ikut berperan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Diperlukan perempuan yang memiliki kredibilitas yang tinggi baik secara moral dan intelektual.

Namun, melihat perkembangan di Indonesia saat ini banyak perempuan yang mengedepankan gaya hidup yang berlebihan. Kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh role model  yang berkiblat ke arah barat sehingga memberikan dampak ala kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan ciri khas kebiasaan adat Indonesia dan ditambah lagi dengan tidak dijadikannya Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pedoman dan pegangan hidup. Keduanya telah dianggap tidak sesuai dengan keadaan sekarang alias kuno dan ketinggalan zaman.[2]

Citra perempuan hingga saat ini memang masih berkisar pada wilayah subordinat dibanding lelaki. Stereotip yang telah terpatri dalam perempuan inilah yang lambat laun membentuk opini masyarakat bahwa perempuan hanya bisa berkiprah di bawah kuasa laki-laki serta hanya mampu dimaknai eksistensinya pada wilayah realitas fisik perempuan saja.[3]

[1] Tim Perumus, Pedoman Dasar KOHATI (Jakarta: KOHATI PB HMI, 2016), hal. 3.

[2] Vien AM, Citra Perempuan Masa Kini dalam https://vienmuhadisbooks.com /2009/06/17/bab-iii-citra-perempuan-masa-kini/ diakses pada tanggal 01 Agustus 2017 pukul 23.16 WIB.

[3] Lucy Pujasari Supratman, Representasi Citra Perempuan di Media dalam https://jurnal kominfo.go.id/index.php/observasi/article/view/75 diakses pada tanggal 01 Agustus 2017 pukul 23.45 WIB.


Kenyataan diatas sangat berbanding terbalik dengan hakekat perempuan secara perannya. Dalam hal ini peranan perempuan dibagi menjadi 4 yaitu sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat. Dalam pengembangan ke empat peranan tersebut maka diperlukan peningkatan pendidikan bagi perempuan agar memahami status dan fungsinya.

KOHATI menjadi salah satu wadah alternatif dalam mendidik perempuan sesuai dengan perkembangan zaman dalam lingkungan mahasiswa. Kaum perempuan haruslah memiliki keseimbangan baik itu dalam hal kemandirian, intelektual serta ketegasannya dalam landasan berpijak yang jelas.

Perkaderan di dalam KOHATI memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi HMI-Wati serta membekalinya dengan apa-apa yang dibutuhkannya nanti dalam rangka mempersiapkan HMI-Wati untuk melaksanakan perannya dengan baik sehingga kader HMI terutama HMI-Wati menjadi kader yang terarah dan terukur.

Melalui  penjelasan pemaparan latar belakang diatas penulis ingin menjelaskan tentang Citra Perempuan Masa Depan Melalui Perkaderan KOHATI.

Unduh essay di bawah ini untuk lebih lengkapnya, terimakasih salam hangat dari Komisariat Ahmad Dahlan 1 Cabang Sukoharjo. ^^

Essay LKK Lu’luin Maknun

 

Student Hidjo

Posted: September 21, 2017 in Ke-Indonesian, Review dan Resensi Buku, Sastra

 

707491_3d3cf432-98d6-4629-867c-b014a4d8b985

 

Judul                    : Student Hidjo

Penulis                 : Mas Marco Kartodikromo

Halaman              : 140

Rilis                     : Cetakan Kedua, 2015

ISBN                   : 979-978-168-239-8

Penerbit               : NARASI

 

Student Hidjo merupakan novel karangan Mas Marco Kartodikromo yang mengusung tempat Hindia Belanda-Belanda, novel ini tidak lantas terbit dalam bentuk novel melainkan ditulis pertama kali sebagai cerita bersambung pada tahun 1918 di Harian Sinar Hindiakemudian terbit sebagai buku pertama kali satu tahun sesudahnya yaitu tahun 1919. Buku ini termasuk kedalam sastra perlawanan karena gaya bahasa yang dituangkan penulis sangat menggambarkan perlawanan terhadap bangsa Belanda saat itu. Penulis melalui penggambaran tokoh menjelaskan bahwa kaum bumi putera seharusnya tidak takut terhadap Belanda. Hal ini menjadi tamparan yang begitu keras terhadap Belanda sehingga buku ini mendapat kecaman melalui pelarangan peredaran saat itu. Tak hanya itu terdapat penjelasan mengenai pertentangan budaya kehidupan priyayi dimana mulai lahirnya kaum intelektual pribumi yang lahir dari kalangan borjuis kecil.

Awal kisah ketika tokoh utama Hidjo yang harus melanjutkan sekolahnya ke Belanda karena tuntutan dari sang Ayah, Raden Potronojo. Maksud Ayah Hidjo mengirim Hidjo untuk bersekolah di Belanda supaya orang-orang yang merendahkannya bisa mengerti bahwa derajat manusia itu sama, dengan dibuktikannya Hidjo yang bisa belajar seperti para regent dan pangeran. Lain hal nya Ibu Hidjo, Raden Nganten Potronojo beliau sangat khawatir ketika harus melepas Hidjo ke negeri Belanda.

“Saya ini hanya seorang saudagar. Kamu tahu sendiri. Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Gouvernement” hal 6.

Hidjo yang merupakan lulusan HBS meneruskan jenjang pendidikan menjadiingenieur itu sesampainya di Negeri Belanda rupanya melek akan realita yang ada, bahwa tidaklah beda orang-orang di Belanda dengan di Negerinya sendiri. Disana ia bebas menyuruh orang-orang Belanda karena mereka kira orang yang datang ke Belanda rupanya punya cukup banyak uang. Begitu kontras di tanahnya sendiri ketika orang Belanda lagak menyuruh-nyuruh orang pribumi.

Penggambaran Hidjo yang dikenal sebagai kutu buku dan obsesinya terhadap pendidikan luntur seketika begitu sampai di Belanda, ia yang terkenal dingin dan tidak memiliki ketertarikan yang besar terhadap perempuan hingga berbagai julukan seperti pendito dan banci melekat pada dirinya ternyata tergoda oleh anak dari tuan rumah yang ditumpanginya. Hidjo terlibat hal yang bertententangan dengan keyakinan yang dipegangnya, oleh seorang Betje perempuan Belanda yang membuat pergolakan di batinnya. Hingga akhirnya surat dari Jawa itu datang menyuruh agar Hidjo pulang dan memutuskan tali cinta dengan Betje. Surat itu berisi tentang perubahan penjodohan dimana awalnya Hidjo dijodohkan dengan Raden Ajeng Biroe yang masih ada tali persaudaraan dengannya, berganti menjadi Hidjo dengan Raden Ajeng Woengoe. Sedangkan Raden Ajeng Biroe dijodohkan dengan kakak dari Wongoe itu sendiri yaitu Raden Mas Wardojo.

Adapun salah satu tokoh dalam novel ini yaitu Controleur Walter dengan penggambaran politik etisnya mengenai pembelaannya terhadap orang jawa yang dianggap bodoh, kotor, malas bahkan tidak beschaafd dalam percakapannya bersama orang berkebangsaan Belanda ketika perjalanan pulangnya ke Belanda.

Tak sadarkah mereka (orang Belanda) bahwa orang Belanda ada yang lebih kotor dibanding orang jawa?

Tak sadarkah mereka bahwa orang jawa bodoh karena pemerintah sengaja membuatnya bodoh?

Tak sadarkah mereka orang jawa itu seharian bekerja dengan bermandikan keringat dan adakah orang seperti itu di Belanda?

Tak sadarkah mereka adat jawa lebih baik ketimbang adat orang Belanda?

Kebanyakan orang Belanda setelah menetap di tanah Hindia menjadi sombong, pongah, berlaku serta bertindak semaunya sendiri. Memang tidak semua orang Belanda seperti itu tapi tak kurang satupun dari mereka seperti itu. Seolah derajat mereka lebih tinggi mereka merasa begitu berhak bertindak apapun padahal awal sebelum kedatangan mereka di tanah Hindia meraka tak lain dan tak bukan hanyalah seorang pegawai rendahan.

By: Lu’luin Maknun

 

 

1772373

 

“Biarlah aku hidup dalam gelimang api-dosa, sebab api-dosa belum tentu benarlangsung membuat hidup manusia menemui titik akhirnya. Sebab terkadang melalui dosa yang dihikmati, seorang manusia bisa belajar dewasa.” Hal. 252

 

Sebuah novel yang sangat kontroversial dalam yang menjelaskan kehidupan yang sangat tabu dan tidak tabu, susila dan asusila. Bercerita tentang pengalaman seorang muslimah yang menempa pendidikan di kota pelajar, dia bernama Nidah Kirani. Dia seorang muslimah yang taat beribadah, tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Dia memilih hidup yang sufistik yang demi ghirah kezuhudannya. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk sholat, baca al-qur’an dan berdzikir. Cita-citanya hanya satu yakni menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

Dogma-dogma agama, membuatnya tak berhenti-henti berjalan dalam koridor agama. Ritual keagamaan dijalani dengan sangat ikhlas dan penuh hikmah. Ia percaya bahwa Tuhan berkuasa atas seluruh kehidupannya. Hanya ada satu alasan yang membuat ia melakukan semua itu “percaya” pada sang kholiq. Kepercayaan yang tak tergoyahkan dan pengetahuannya tentang agama membuat Kirani sangat dikagumi oleh teman-temannya. Hingga pada suata saat diajaklah Kiran sebuah organisasi yang berbasis khilafah. Keikutsertaanya menjadikan dia sangat fanatik terhadap organisasi tersebut dan memiliki niatan tujuan untuk mendirikan negara Islamiyah di Indonesia.

Waktu terus berjalan, propaganda terus digencarkan tak ketinggalan di kampung halamannya. Ia berhasil mendoktrinasi orang-orang yang ditemui bahkan orangtuanya, sehingga beberapa orang terekrut dalam organisasi yang digandrunginya. Namun, karena misi yang dijalankan ini bertentangan dengan misi negara Indonesia, akitivitas kiran dan organisasinya telah dicium oleh pemerintah. Di kampungnya, ia dijauhi dan pergerakannya diantisipasi oleh masyarakat sekitar.

Kejanggalan mulai terjadi dalam benak kirani terhadap organisasi tersebut. Garis perjuangan  semakin tidak jelas pada arahnya. Keterasingan, ketertutupan organisasi, menumbuhkan benih-benih kecurigaan. Namun, ia merasa bahwa semuanya itu demi kebaikan organisasi. Ia rela membohongi orangtuanya untuk mendapatkan uang demi pembiayaan organisasi. Semangat perjuangan Kiran perlahan mulai redup, ketika melihat aktivitas organisasinya yang mandeg dan tak jelas ditambah dengan ritual peribadatanpun dinilai tak beda dengan yang pernah dijalani sebelumnya. Ia-pun mulai dihinggapi rasa malas bersekutubuh dengan Tuhannya.

Ia semakin jauh dengan Tuhan, apalagi setelah memahami ritual peribadatan manusia yang dipenuhi dengan kemunafikan. Ia takut dan merasa terancam karena kepergiaanya dengan ketiga temannya. Beberapa bulan mengunci diri dalam kamar yang penuh sesak. Ia menyesali Tuhan dan menuduhnya sebagai penyebab dari kehancuran hidupnya. Dalam ketidakberdayaan ia menuntut pertanggungjawaban Tuhan atas dirinya. Pribadi yang telah hancur akibat memuji dan membela Tuhan. Merasa disia-siakan, Kiran tak mau hidup dalam kesia-sian itu, ia bangkit dengan dendam kepada Tuhan.

“Aku mengimani iblis. Lantaran sekian lama ia dicaci, dimaki, dimarginalkan tanpa ada satupun yang mau mendengarnya. Sekali-kali bolehlah aku mendengar suara dari kelompok yang disingkirkan, kelompok yang dimarjinalkan itu. Supaya ada keseimbangan informasi”. Kini kebencian itu bagaikan bara di hati Kiran. Kiran membuat jarak dan menantang Tuhan. Ia menjadi pemberontak akan takdir-takdir Tuhan. Pemberontakannya kepada Tuhan tak tanggung-tanggung, ia menghujat Tuhan yang dinilainya sedang tersenyum melihat Kiran terlunta-lunta bagai cacing kepanasan.

Kebingisannya kepada Tuhan, ia tunjukan selangkanganya kepada kaum adam. Dengan tidur dengan beberapa laki-laki, yang mengaku dirinya susila dan merangkak di depannya untuk mencurahkan berahi. Laki-laki yang ingin bercumbu dengannya dari kalangan akitivis, dosen, bahkan agamawis. Ia tundukkan dan lelahkan di atas tubuhnya. Baginya, ini adalah sebuah keberhasilan menyingkap kemunafikan manusia terutama kaum adam. Tahun demi tahun terus dilalui. Sampai akhirnya ia mendengar kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Ia berencana menyelesaikan skripsi. Ternyata, ia semakin ditantang oleh realita hidup.

Dosen pembimbing skripsi kiran sekaligus pejabat publik (DPRD) ini, kini menjadi germonya. Kiran memilih hidup menjadi pelacur. Lain dulu, lain sekarang. Apabila ada yang membutuhkannya, tak ada yang gratis. Ia menjadi tak menyukai beberapa hal, tentu dengan argumentasi yang dikemukakakan. Omong kosong dengan nikah. Pernikahan hanyalah sex yang dilembagakan. Sebuah ego mati yang dilembagakan. Omongkosong dengan cinta. Cinta itu hanya mitos dan abstrak sifatnya. Cinta telah kehilangan esensinya, ia hanya dimaknai sebatas selangkangan. Buktinya, lelaki yang telah menikah sekalipun dan mengikrarkan kesetiannya tunduk pada selangkangan perempuan lain. Omongkosong dengan laki-laki. Laki-laki hanyalah penindas bagi kaum hawa. Atas nama agama dan budaya, mereka menjadi raja bagi hawanya. Omongkosong dengan ibadah. Ibadah bukanlah jawaban untuk mengahadapi hidup. Manusia yang bego semakin bego dibuatnya, sebab mereka tidak mengerti esensi dari ibadah itu sendiri. Kini hitam-putihnya dunia dibuat oleh manusia bukan Tuhan. Manusia itu munafik!.

Kebanyakan menganggap dirinya suci atau susila, berTuhan, sehingga tidak mau terkontaminasi dengan manusia jalang seperti kiran yang memilih hidup menjadi pelacur. Apa bedanya pelacur dengan mereka yang menganggap dirinya susila ? Dari petualangan seksnya, ia menyingkap topeng-topeng kemunafikan. Ia mengerti untuk apa dia hidup. Hidup dalam realita, tidak menjadi manusia yang seolah-olah. Seolah-seolah memuji Tuhan, menyembah Tuhan, ternyata munafik. Bahkan tak jarang kebenaran atas nama Tuhan dijadikan alat untuk mendapatkan sesuatu. Tuhan dikomersilkan oleh orang-orang munafik.

 

By: Dariyana

Om Kacamata

Posted: September 21, 2017 in Ke-Indonesian, Review dan Resensi Buku

Hatta “Jejak yang Melampaui Batas Zaman”

 

9368029

 

Om kacamata adalah sebutan dari tokoh bangsa kita yaitu Mohammad Hatta. Hatta dilahirkan di desa Aur Tajungkang, Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902. Hatta dilahirkan dari perpaduan dua keluarga yang terkemuka, sang ayah bernama Mohammad Jamil dan sang ibu bernama Saleha Djamil. Masa kecil, Hatta tergolong sebagai anak pandai, tekun, dan amat disiplin dalam mengaji sehingga beliau tumbuh menjadi sosok yang sangat religious. Beliau sangat suka mengikuti ceramah dan pertemuan politik.

Hatta hanya salah satu dari sedikit pemuda yang memiliki kesadaran tentang bangsanya. Dengan pena adalah senjata untuk memerdekakan bangsanya. Hatta menulis pertama kali ketika usianya 18 tahun yang dimuat dalam Jong Sumatra. Tulisannya pertamanya adalah “Namaku Hindania” yang menceritakan tentang bangsa Indonesia yang terjajah oleh bangsa kulit. Ketajaman pena Hatta dan kekuatan analisisnya memberikan kritikan-kritikan tajam pemerintah kolonial, oleh sebab itulah dia dipenjara pada tahun 1927. Saat dipenjara semangatnya tidak pernah pudar untuk menulis, dia termasuk penggiat dalam membangkitkan moral dan memerdekakan bangsa Indonesia. Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikan dia mutiara yang langka diantara deretan pemimpin Indonesia masa kini maupun masa lampau. tetapi dia lebih langka sebagai negarawan yang menulis. Sosok yang terlihat casual dengan pakaian jas dan sepatunya membuatnya menjadi pribadi yang serius dan dari itulah dia dianggap lucu.

Pada tahun 1921, Hatta tercatat sebagai seorang mahasiswa di Rotterdamse “ Handelshogeschool” sebuah sekolah ekonomi yang sangat bergengsi. Disana dia mematangkan diri sebagai seorang pemikir dan aktivitas gerakan. Dia pernah menjabat Perhimpunan Indonesia. Di Belanda, Hatta banyak bergaul dengan banyak orang dan berteman dengan tokoh komunis Semaun dan Tan Malaka, selain itu dia mulai mengembangkan dirinya dengan berorganisasi. Kiprah perjuang di negeri belanda, membuat namanya “Mohammad Hatta dan Sutan Sjarir” terkenang menjadi sebuah jalan dikota Harlem yang diberikan oleh walikota Smiths. Pemberian nama tersebut karena mereka adalah orang yang telah berjasa, berjuang demi pembebasan kemerdekaan negaranya dan memiliki reputasi yang baik.

Pada tanggal 20 Juli 1932, Mohammad Hatta kembali ke Indonesia dan perjalannya tidak berhenti di Belanda. Di Indonesia Moh. Hatta banyak dicekal oleh pemerintahannya karena pemikirannya dan kritikannya terhadap kekejaman kolonial yang berakibat dibuangnya Hatta di Banda, sebuah pulau yang tenang dan warga yang sangat erasimilasi dengan kehidupan prkotaan. Disana Hatta mendapatkan kenyaman dan ketenangan dalam berpikir dan membuat dirinya bertambah produktif walaupun hidup dalam pengasingan. Selain diasingkan di Banda, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahir juga pernah diperjara disebuah wilayah yang bernama Digul. Digul adalah sebuat daratan terpencil yang terdapat di pulau Papua yang sangat sulit dijangkau oleh manusia, dan tempat tersebut sering disebut dengan neraka dunia karena daerah tersebut termasuk daerah yang sangat membosakan, adanya ketidak pastian dan sangat sulit untuk memperhatikan kewarasan bahkan banyak yang hancur mentalnya karena keputus asaan.

Makanan yang diberikan hanya seadanya membuat beberapa tokoh yang ditahan bekerja dengan Belanda untuk mendapatkan uang salah satunya adalah Sjahir. Dia bekerja karena dia masih mempunyai tanggungan keluarga yang harus dinasehati. Dan disini seorang  Hatta tidak pernah menyalahkan keadaan Sjahir. Dan untuk menghilangkan kebosanannya, Hatta hanya membaca buku yang dia bawa. Dan tepat 10 bulan kedua tokoh Hatta dan Sjahir dipindah ke tempat yang lebih baik bersama tokoh-tokoh intelektual.

Karena tekad yang bulat, Hatta mulai mengobarkan semangat untuk memerdekaan bangsa Indonesia dari kaum penjajah dan bersatu bersama Soekarno sehingga mendapat julukan “dwi tunggal”. Walaupun kebersamaannya dengan Soekarno terlihat baik-baik saja, namun Hatta banyak mengkritik sikap Soekarno terutama konsep pembentukan partai dan keanggotaanya. Soekarno lebih menyukai dengan penggalangan massa, sedangkan Hatta dan Sjahir lebih mempercaya system pendidikan dan kaderisasi karena adanya keyakinan bahwa ide yang bagus dan program yang baik pula akan membentuk sebuah system kepartaian akan bersifat Nasionalis yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Pertentangan yang kian menjadi-jadi saat penolakan system multi partai dan demokrasi parlemen. Puncak kemarahan ini terjadi karena adanya pertikaian partai dan disinilah Soekarno mencanangkan system Demokrasi Terpimpin. Dan saat itulah perpecahan tak dapat terelakan sehingga nama dwitunggal menjadi dwitanggal. Dan hatta pernah berkatabahwa suatu bangsa yang besar sudah lahir, namun ia akan melihat generasi yang kerdil. Walaupun perkelahian mereka tak terelakan, namun pertemanan mereka tetap langgeng sampai diakhir hayat keduanya.

Hatta adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan hidupnya yang selalu dikelilingi buku, sehingga sampai mungcul anekdot bahwa istri pertamanya adalah buku, istri keduanya dalah buku dan istri ketiganya adalah Rahmi Hatta. Dia selalu memberikan perhatian lebih kepada ilmu pengetahuan dan mengaplikasikan kecakapannya dalam menulis. Sudah lebih dari 151 judul buku Hatta, 42 buku tentang Hatta dan 100 lebih artikel yang sudah ditulis oleh Hatta. Baginya ilmu bukan hanya jalan atau cara untuk menemukan, melainkan jalan dan cara untuk menguji apa yang telah kita temukan atau alat untuk menemukan kebenaran itu sendiri. Selain kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan, Hatta juga mempelajari Islam dan kemudian bersikap dan bertindak sebagai orang muslim. Ia bukan merupakan orang tidak keras atau terlalu fanatic terhadap agama, namun tindakannya dalam mewujudkan cita-cita kemerderkaan selaras dengan Islam. Menurutnya, ajaran Islam itu memimpin tingkah lakunya tetapi juga membina pandangannya tentang kehidupan masyarakat dan Negara. Rasa percaya kepada Allah SWT itu harus dipupuk dan ditindaklanjuti dalam amal perbuatan. Hatta mengingatkan kita bahwa hidup didunia itu hanya sementara. Oleh karena itu bumi ini harus kita pelihara dan harus kita bangun menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Ini berarti kita harus membangun masyarakat dan bangsanya dengan baik.

Hatta sangat memimpikan Negara yang adil. Apakah maksud Negara adil? Indonesia yang adil tak lain daripada memberikan perasaan kepada seluruh rakyat bahwa ia dalam segala segi kehidupan yang diperlakukan secara dengan tidak ada perbedaan-perbedaan untuk seluruh warga Negara Indonesia. Semua dianggap sama dari pemerintahan Negara dari atas sampai kebawah berdasarkan kedaulatan rakyat. Hatta sangat mempersalahkan “kaum ningrat” atas penegakan kekuasaan kolonialisme karena mereka hanya memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat Indonesia untuk memperoleh hasil kerja social yang masuk kekantong mereka sendiri. Hatta sangat menyetujui demokrasi desa yang mencakup musyawarah untuk mufakat, hak rakyat untuk mengadakan protes dan cita-cita menolong. Semangat demokrasi yang beliau usung berdasarkan pendiri Republik yang memiliki tiga landasan yaitu pertama paham sosialisme barat yang menjunjung tinggi perikemanusiaan, kedua ajaran agama, ketiga kolektivisme masyarakat Indonesia (gotong royong).

Dalam pembentukan Negara yang adil, Hatta memiliki konsep yang disebut dengan “Hattanomics” yaitu konsep untuk menghapuskan ketidakadilan dengan tiga (3) jurus : “penguasaan asset oleh Negara, control terhadap usaha swasta, dan tumbuhnya perekonomian rakyat yang mandiri melalui koperasi”. Hatta adalah sosok yang memiliki moral yang tinggi dalam kepemimpinannya, beliau tidak pernah memperkaya dirinya sendiri dan keluarganya. Perjuangan membela rakyat tidak akan murni jika ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan lain. Setelah Indonesia merdeka, baru ia memenuhi janji untuk menikahi Rahmi yang dihadiahi buku “Alam Pikiran Yunani” yang ditulisnya sendiri. Dan hasil pernikahannya, beliau dikarunia 3 orang putri yaitu Halida Nuriah, Meutia dan Gemala. Dan dari Hatta kita banyak belajar tentang arti kepemimpinan yang jauh berfikir untuk kemajuan bangsanya. Namun dalam kepemimpinnanya dia memperlihatkan sisi kefeminismenya sehingga dianggap tidak tegas dalam mengambil keputusan.

By: Dariyana

Ibu Pertiwi Bangkit

Posted: Agustus 9, 2017 in Ke-Indonesian, Sastra

Indonesia kaya akan keberagamannya

Budaya, agama, bahasa semua ada di Indonesia

Perbedaan bukan menjadi perkara

Namun menjadikan kesatuan yang tidak terkalahkan

Hari ini ibu pertiwi sedang merana dan menderita

Kesatuan yang harusnya menjadi kekuatan

Kini telah diruntuhkan oleh ke egoisan seseorang

Saling menghormati dan menghargai yang selalu diinginkan

Sekarang perbedaan menjadi ancaman bagi sebagian orang

Bangsaku kuat dengan perbedaan yang menjadi kekuatan

Kekuasaan, harta dan popularitas menjadi rebutan

Semua menginginkan seperti semula

Indah pada tempatnya

Semuanya mencintai ibu pertiwi

Semua bangga terlahir di Indonesia

Kami ingin Indonesia sejahtera

Tanpa kekacauan

Tanpa ketamakan

Tanpa kebencian

Perbedaan yang mempereratkan kita semua

Menjadi Indonesia yang kuat adalah cita-cita kami

 

By : Itsnaini Afrida

 

Tujuh September 2017 nanti akan menjadi salah satu hari peringatan yang menyedihkan bak membuka luka lama. Pasalnya pada tanggal dan bulan tersebut di tahun 2004 telah terjadi sebuh kasus pelanggaran HAM yang cukup menggegerkan publik Indonesia. Munir Said Thalib seorang tokoh aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) di Indonesia tewas dalam pesawat Garuda Indonesia. Munir tewas setelah memakan makanan yang telah diberi racun arsenik saat ia tengah dalam perjalanan menuju Belanda. Kasus Munir itu merupakan salah satu contoh dari puluhan kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia.

Nyatanya, kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia banyak sekali. Bagaimana bisa kita melupkan pembantaian sadis para anggota dan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia)  yang mereka ditangkap, ditahan, disiksa, dan di bunuh tanpa proses pengadilan yang jelas. Tak berhenti disitu kasus Marsinah sang aktivis buruh perempuan yang ditemukan tewas terbunuh lima hari setelah aksi demo buruh pada PT Catur Putra Surya Porong yang dimotorinya dilaksanakan. Kasus-kasus tersebut dan masih banyak kasus-kasus lain yang belum terungkap menjadi daftar panjang potret kelam Indonesia dalam hal penegakan HAM.

Menurut Wikipedia, Hak Asasi Manusia pada dasarnya adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma , yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional (id.wikipedia.org). Miriam Budiarjo mendefinisikan HAM sebagai hak yang dimiliki setiap orang yang dibawa sejak lahir ke dunia, hak itu sifatnya universal sebab dipunyai tanpa adanya perbedaan kelamin, ras, budaya, suku, agama maupun sebagainya. Karena sifatnya universal dan dimiliki oleh semua orang, jadi kita perlu menghormatinya dalam arti lain kita tidak melanggar, mengurangi atau merampas hak tersebut dari orang lain.

Sifatnya yang universal serta dimiliki semua orang, menjadikan HAM menjadi batas bagi hak orang lain. Dalam kata lain, hak seseorang dibatasi oleh hak orang lain. Sehingga bila seseorang telah tidak mengenal lagi batas prinsip-prinsip moral maka dia akan dengan mudah melanggar hak orang lain.

Dalam upaya penegakkan HAM di Indonesia, masih banyak ditemui tantangan. Pemasalahan tersebut antara lain masih banyaknya penduduk Indonesia yang belum tersosialisasi mengenai apa itu HAM. Di desa-desa sebagai contoh tempat saya tinggal, banyak sekali warga yang belum mengerti perihal HAM. Warga yang saya maksud disini adalah para ibu-ibu dan bapak-bapak yang kebanyakan hanya pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar. Tangan panjang dari hal tersebut mereka belum mengetahui apa saja hak-hak mereka, sehingga ketika orang lain melanggar, mengurangi atau mermapas hak mereka merek tidak mengetahuinya.

Tantangan penegakan HAM yang tak kalah serius adalah rendahnya kepercayaan masyarakat Indonesia  kepada aparat penegak hukum, terlebih lagi ketidakpercayaan itu berasal dari kalangan alit (kecil). Barangkali kita sudah mafhum bahwa dalam suatu tatanan masyarakat disadari atau tidak ada stratifikasi, mereka yang menganggap dirinya kaum alit memiliki tingkat kepercayaan pada aparat hukum lebih rendah dibandingkan dengat mereka yang berada di kelas elit. Hal ini bisa dilihat dari seringnya terjadi “main hakim sendiri” di kalangan masyarakat, ini menunjukkan kecenderungan mereka yang menyukai budaya kekerasan.

Tantangan lain datang dari pihak pihak yang ingin untuk menghidupkan diskriminasi kelompok masyarakat tertentu yang mereka anggap sebagai minoritas. Mereka mencoba mendiskriminasi secara hubungan sosial, dalam forum-forum masyarakat misalnya. Bahkan beberapa kalangan minoritas tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Percaya atau tidak, sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa HAM merupakan produk bangsa barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Kita masih bisa temui anggapan itu dengan mudah. Beberapa adat-istiadat bahkan bertentangan dengan nilai-nilai HAM. Sebgaimana dikutip dariartikel di laman kompas.com yang berjudul “Sebagian Hukum Adat Dinilai Melanggar HAM” hukum adat Amole Papua yang mewajibkan pengantin perempuan ketika malam pertama harus berhubungan badan dengan saudara pengantin pria terlebih dahulu.

Tak hanya hukum adat di Amole Papua, di Sumbawa terdapat suatu adat Belis dimana bila seorang laki-laki harus memeberi mahar sejumlah binatang kerbau atau kuda kepada keluarga mempelai wanita. Semakin banyak binatang yang diberikan, maka suami semakin bebas memukul istrinya. Selain itu di Sumbawa arat terdapat tradisi perang dengan tombak sambil berkuda. Tradisi ini berlangsung setahun sekali.dalam kepercayaan warga Sumbawa Barat bahwa semakin banyak darah yang tumpah, luka atau meninggal maka semakin banyak pula hasil panen wilayah tersebut. Tradisi-tradisi tersebut nyatanya didukung oleh masyarakatnya, karena mereka masih berpegang teguh pada adat.

Melihat banyaknya kasus pelanggaran HAM, terlihat belum ada komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menegakkan HAM secara efektif sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Ketika hukum dan Tradisi Adat suatu golongan mencderai HAM, aparat penegak hukum tidak menindak lanjutinya secara tegas, karena masyarakatnya menyepakati ada tersebut. Kurang seriusnya aparat penegak hukum dalam menindak lanjuti kasus pelanggaran HAM juga terkesan berlarut-larut.

Sebagaimana telah dijabarkan secara panjang lebar rekan jejak kasus pelanggarn HAM di Indonesia. Dapat diketahui bahwa masih banyak sekali kasus yang belum terungkap serta masih banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Tantangan-tantangan yang diungkapkan tersebut masihlah belum mencakup semua. Perlu usaha keras dari berbagi pihak elemen masyaraat untuk tantangan-tantangan dalam usaha penegakan HAM di Indonesia.

Tidak semua urusan penanganan pelanggaran HAM dan kasus kasus lain mengenai HAM kita serahkan secara sepenuhnya kepada aparatur negara, KOMNAS HAM misalnya. Tapi penegakan HAM perlu partisipasi aktif dari masyarakat pula. Mengutip dari perkataan Nelson Mandela, “To deny people their human rights is to challenge their very humanity” (menolak memberikan hak asai manusia sama halnya dengan menantang rasa kemanusiaan mereka.

 

By : Sifa Lutfiyani Atiqoh

 

 

 

Disinilah Kami

Posted: Agustus 8, 2017 in Sastra

Disinilah kami memulai

Disinilah segalanya

Saat usia kami bayi bahkan sampai usia senja

Bahkan sampai di akhir hayat kami

Disinilah kami ingin …

Bumi pertiwi yang akan menjadi sebuah saksi

Lahir dan akan mati hanya di Negeri ini

Tidak ada yang lebih senyaman di Ibu Pertiwi

Tidak ada yang bisa menggantikannya

Disinilah kami memulai dan berakhir

Semua raga kami akan kembali di Ibu Pertiwi

Rasa cinta ini terlalu besar

Ingin rasanya memberikan semuanya untuk Bangsa ini

Untuk kemajuan dan kesejahteraan Negeri

 

By : Itsnaini Afrida