Posted: Maret 24, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-HMI-an

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

foto di pantaiPerkaderan merupakan aspek terpenting dalam proses perkembangan sebuah organisasi, termasuk HMI. Bahkan dalam HMI perkaderan diumpamakan jantung, yang apabila tidak bergerak (berdetak) berarti matilah HMI. Maka sudah seharusnya perkaderan dianggap sebagai substansi yang sangat penting dalam organisasi, bahkan dijadikan tolak ukur bagi perkembangan organisasi itu sendiri. Hal ini tidak berbeda dengan lembaga semi otonom dalam badan HMI, yaitu Korps HMI-wati (KOHATI).

KOHATI menitikberatkan pada pembinaan HMI-wati dengan menilik peran HMI-wati sebagai seorang anak, seorang (calon) isteri, dan (calon) ibu. Eksistensi KOHATI menjadi sangat penting, karena menjadi “laboratorium hidup” yang akan menghasilkan HMI-wati berkualitas untuk masa depan. Kualitas terbaiknya sebagai seorang putri bagi kedua orangtuanya, calon istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya kelak serta kualitas terbaik sebagai anggota masyarakat.[1] Sehingga badan khusus KOHATI yang memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi HMI-wati serta membekalinya dengan apa-apa yang dibutuhkannya nanti dalam rangka mempersiapkan HMI-wati untuk melaksanakan perannya dengan baik. Potensi dan bekal yang diusahakan KOHATI agar sesuai dengan kebutuhan HMI-wati membutuhkan data-data penunjang untuk mewujudkan pembinaan dan perkaderan yang terukur dan terarah. Baca entri selengkapnya »

20150814_222603Kondisi hukum di Indonesia di ibaratkan seperti pedang tajam ke bawah dan tumpuk ke atas. Inilah bukti bahwa pemimpin bangsa Indonesia yang tak amanah dalam menjalankan kewajibannya serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan di kalangan masyarakat menengah. Selain itu semakin meningginya saham-saham asing yang di tanam di Indonesia berdampak pada melemahnya ekonomi masyarakat kecil di Indonesia. Ini juga berdampak pada meningkatnya penduduk miskin di Indonesia. Sensus data penduduk miskin di Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik     yang diambil pada bulan Maret 2015 mencapai 11, 22% meningkat 0,86% dari tahun sebelumnya. Bila itu terus menerus terjadi di Indonesia makan kriminalitas di Indonesia akan meningkat tajam.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini mengharuskan kita lebih peka terdapat kondisi bangsa yang makin ambruk dan memberikan solusi terhadap permasalah tersebut. Ini menjadi salah satu tugas yang perlu benar-benar di emban sebagai mahasiswa. Disinilah peran dan fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam penyeimbang antara masyarakat dan pemerintah agar kebijakan-kebijakan yang diambil tidak merugikan bangsa Indonesia.

Dalam pengembangan perannya, dilihat dalam tatanan Universitas, mahasiswa menempati posisi strategis sebagai kaum elit di jurusan yang telah di pilih. Pengembangan potensi masing-masing pribadi mahasiswa dapat dilakukan dengan kegiatan- kegiatan reflektif dengan kajian intensif untuk menambah wacana keilmuan. Selanjutnya melakukan tindakan yang efektif berupa aksi untuk menghimpun masyarakat dalam bentuk aliansi- aliansi memperjuangkan hak kaum yang tertindas. Inilah salah satu bentuk hegemoni intelektual seorang mahasiswa dalam pengawalan kebijakan pemerintah agar keputusannya tidak menyengsarakan rakyat. Daya tonjok psikologis atau psychologycal striking force akan memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan bangsa dalam pembangunan nasional.

Dari daya tonjok psikologis mahasiswa yang kuat akan terbentuk karakter intelektual yang memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi agar terlibat aktif dalam dunia pembangunan nasional. Inilah pentingnya pengawalan isu sebagai mahasiswa yang berhegemoni intelektual demi keberlangsungan harkat dan bangsa Indonesia di kancah pertarungan dunia.

Terpelajar bukan hanya terlihat dari buah pemikirannya saja tetapi terpelajar juga harus mampu menunjukkan sikap keterpelajarannya melalui perbuatannya.

 

foto 1Mahasiswa………………………….

Seperti status yang sangat membanggakan. Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah yang bisa dibanggakan dari seorang mahasiswa? Apakah dengan keberaniaanya atau karena sebutan akademis bagi seorang siswa yang sudah mengalami jenjang pendidikan lebih tinggi ataukah dengan nilai yang dikatakan sempurna atau comluade. Tak anyal mahasiswa hanya mampu bersenang-senang dengan kegiatannya yang terkadang tidak bermanfaat untuk pribadinya dan orang lain atau bisa dikatakan mereka menerapkan perilaku yang hedonis. Melihat realita sebagian besar kegiatan mahasiswa dikampus yang hanya 3D+1H (datang, duduk, domblong dan hangout). Lalu bagaimanakah kita memaknai mahasiswa yang berkualitas itu sendiri?

Berbicara mengenai mahasiswa yang berkualitas maka kita akan berbicara mengenai potensi-pontensi yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Tetapi ada kesalahpahaman dari beberapa orang bahwasanya mahasiswa yang berkualitas selalu diidentikan dengan mahasiswa yang mendapatkan nilai bagus (comluade) atau yang sering kita sebut dengan mahasiswa akademis. Padahal nilai bagus dan prestasi bukan satu-satunya ukuran seorang dapat dikatakan sebagai mahasiswa yang berkualitas.

Mahasiswa dikatakan berkualitas dinilai dari sejauh mana seorang mahasiswa peka terhadap lingkungan sekitarnya dan mampu mengkritisinya sehingga berguna untuk peningkatan kemajuan dilingkungan kemahasiswaan dan dilingkungan masyarakat. Sehingga Prestasi tidak cukup bahkan tidak berkualitas apabila tidak berguna bagi orang lain dan masyarakat pada umumnya. Mahasiswa yang berkualitas tidak hanya sekedar mengetahui tetapi apa ia yang diketahuinya harus diterapkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memaknai kata akademis itu sendiri bukan hanya dilihat dari nilai yang tinggi tetapi lebih ditekankan pada memiliki wawasan yang luas, berfikir kritis, berfikir rasional, objektif, memiliki kemampuan teoritis serta mampu berdiri sendiri dengan disiplin ilmu yang dia pilih. Kemampuan intelektual dan analisis yang kuat harus didukung dangan keilmuan yang dipelajari sehingga menjadikan kekritisan tersebut berbasis intelektual bukan berdasarkan omongan belaka tanpa teori dasar yang jelas. Belum pantas seseorang disebut mahasiswa berkualitas tanpa memenuhi konsekuensi-konsekuensi dari identitas yang melekat pada diri seorang mahasiswa. Mahasiswa dikatakan agen of change, social control, iron stock itulah identitas dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa akan mengenal apa itu Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai slogan dan menjadi tugas yang diemban oleh setiap mahasiswa. Mahasiswa harus mampu mendayagunakan semua ilmu pengetahuannya (pendidikan) untuk menciptakan inovasi-inovasi baru (penelitian) dan mendharma baktikan ilmu pengetahuannya (pengabdi). Selain itu sebagai mahasiswa akademis, pencipta, pengabdi, kita harus mampu mewujudkan cita-cita dan ikhlas dalam mengamalkan ilmunya untuk kepentingan dan kemajuan umat dan bangsa. Selain itu penguatan kualitas keilmuan diperlukan pula kualitas religiusitas untuk membentuk “unity personal” agar tercegah dari sikap “split personality. Sehingga kualitas ini mampu mengintegrasikan masalah pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan bangsa Indonesia. Pemenuhan keseluruhan konsekuensi tersebut menjadikan mahasiswa memiliki kebermaknaan sebagai mahasiswa yang sebenarnya dan mahasiswa seutuhnya.

Yakusa……………Yakin Usaha Sampai……………

 

 

KATA PENGANTAR

ﺑﺴﻢﺍﻠﻠﻪﺍﻠﺮﺤﻣﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻡ

hegemoni intelektualAssalamu’alaikum.Wr.Wb

Puja, puji serta syukur selalu kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa. Shalawat beriring salam senantiasa kita sanjungkan kepada Muhammad SAW, sang Revolusioner Sejati, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada umatnya hingga akhir zaman.

Makalah dengan tema KONSTRUKSI PARADIGMA PANDANGAN DUNIA ISLAM MENUJU IDEOLOGI ISLAM TRANSFORMATIF “IMPLEMENTASI PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID (NDP)   SEBAGAI IDEOLOGI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM GUNA MEWUJUDKAN MASYARAKAT CITA disusun sebagai syarat dalam Latihan Kader II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang pada tanggal 10 s.d 16 Agustus 2015.

Semoga makalah ini dapat menjadi bahan evaluasi kritis dan diharapkan mampu memberikan solusi yang solutif untuk himpunan tercinta ini. Akhirnya penyusun mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan dalam penyusunan makalah ini.

Billahittaufik wal hidayah

Wassalamu’alaikumm wr. wb Baca entri selengkapnya »

foto LKK jogjaSuku jawa adalah salah satu suku di Indonesia yang terbesar dan menempati pulau jawa yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur dan dan sebagian Jawa Barat dan menggunakan bahasa Jawa, namun ada perbedaaan pendapat dialek didaerah tertentu. Dari perbedaan dialek, bahasa menjadi aspek penting dalam komunikasi. Bahasa menjadi kebutuhan sehari-hari dalam berkomunikasi sehingga bahasa menjadi salah satu bagian dari budaya yang menjadi keharusan di masyarakat. Bahasa menjadi sarana berinteraksi secara sosial dengan makhluk hidup lain baik yang sejenis maupun tidak sejenis. Dalam perjalanannya, kita dapat membedakan bahasa itu menjadi 3 jenis yaitu bahasa lisan, bahasa tulis dan bahasa tubuh (body language). Sedangkan yang ingin ditulis oleh penulis dalam essai ini lebih difokuskan pada bahasa lisan.

Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan “dan percayalah saudaraku semua, selama kita merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban kita. Janganlah kita mengharapkan akan dapat menjauhkan anak-anak kita dari keinginan hidup seperti Belanda-Polan. Sebaliknya kalau anak-anak kita dapat kita didik menggunakan bahasa kita dan anak bangsa kita maka dijiwanya akan tertanam jiwa nasionalisme dan mereka akan kembali dan memegang kultur budaya bangsa kita sejak abad lalu yang sekarang sudah tidak hidup lagi di dunia kita, dan hidup seolah-olah hidup dalam penghambaan, percayalah bahwa mereka itu akan merasa puas sebagai anak bangsa Indonesia.”

Dari pernyataan Ki Hajar Dewantara di atas, bahasa menjadi aspek penting dalam perkembangan perilaku dan sikap bagi penerus bangsa Indonesia. Bahasa menjadi identitas dari sebuah bangsa yang akan menghasilkan budaya baik budaya daerah ataupun budaya nasional. Budaya nasional merupakan kumpulan dari budaya daerah. Indonesia memiliki banyak keragaman budaya yang terletak di seluruh pulau dari Sabang sampai Merauke. Bahasa daerah yang mereka pergunakan merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional dan dilindungi oleh negara sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36 UUD 1945 Bab XV. Bahasa daerah merupakan lambang identitas daerah, lambang kebanggaan daerah dan menjadi pembinaan serta pengembangan kebudayaan daerah. Salah satunya adalah Bahasa Jawa. Baca entri selengkapnya »

mahasiswa berkualitasPada tangggal 31 Desember 2015, Indonesia akan menghadapi tantangan baru yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang sering kita sebut dengan MEA. MEA adalah sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi, dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang akan terdiri dari 10 negara ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand, Brunai Darusalam, Myanmar, Filipina, Malaysia, Laos.

Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini berawal dari kesepakatan pemimpin ASEAN pada tahun 1997 dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur Malaysia. Yang kemudian dilanjutkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Bali tahun 2003 dan memperoleh keputusan untuk mendeklarasikan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Tujuan adanya MEA adalah untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di ASEAN sehingga mampu mengatasi masalah-masalah dalam bidang ekonomi yang agar nantinya tidak terulang kembali krisis pada tahun 1997. Sehingga siap atau tidak siap, masyarakat Indonesia harus menghadapi tantangan tersebut.

Kesiapan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN salah satunya adalah pembentukan karakter bangsa agar masyarakat Indonesia menonjol dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sebagai Tuan rumah Indonesia harus mampu menjadi contoh yang baik. Pembentuk karakter masyarakat terutama karakter seorang perempuan bisa dilakukan dengan cara belajar, seperti yang dicontohkan oleh salah satu pahlawan bangsa R.A. Kartini. Baca entri selengkapnya »

foto 1Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

                Kini Bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan, semua itu merupakan perjuangan seluruh rakyat terutama para pemuda yang luar biasa berjuang demi tanah air, dan melahirkan SUMPAH PEMUDA yang disebut-sebut sebagai lahirnya bangsa Indonesia untuk itu maka diperingati setiap tanggal 28 oktober sebagai hari “Sumpah Pemuda”.

               Para pemuda tidak harus mengangkat senjata untuk membela negara, berperang melawan penjajah. Namun ketika suasana di sekitarnya terlihat aman, tidak ada masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak berbuat, lebih apatis, mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Baik dalam tataran moral, sosial dan akademik, pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini, dalam urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa. Baca entri selengkapnya »

BAB I

  1. bukhoriLatar Belakang

Berdirinya suatu organisasi tidak pernah lepas dari peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya. Sebagaimana Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan dengan latar belakang politik yang ditandai dengan propaganda ideologis,[1] memantapkan niat mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi mahasiswa sendiri.

Bagi HMI, sifat dan karakter pemikirannya dilandaskan pada dua rumusan tujuan HMI:[2]

  1. “Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia” di dalamnya terkandung wawasan atau pemikiran keindonesiaan, dan
  2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam” di dalamnya terkandung pemikiran keislaman.

Kedua platform tersebut menjadi rambu untuk diingat bagi kader-kader HMI maupun mahasiswa Islam sehingga tidak terlupa akan tujuan awal yang melandasi berdirinya HMI hingga saat ini. Tujuan awal berdirinya HMI ini yang sampai sekarang terus dijadikan kaca perbandingan untuk meneruskan perjuangan-perjuangan yang diusahakan kader-kader HMI. Karena kedua tujuan itulah kader HMI dapat memastikan agar perjuangan yang dilakukan tidak keluar dari apa yang dicita-citakan founding fathers HMI.

Dua landasan tersebut merupakan inspirasi kader HMI yang diterjemahkan dalam Mission HMI yang adalah tanggung jawab seluruh kader HMI. Mission ini meliputi Pasal 4, 6, 7, 8, dan 9 Anggaran Dasar HMI. Yang mana dijelaskan dalam tiga teks penting, yaitu “Memori Penjelasan tentang Islam sebagai Asas HMI”, “Tafsir Tujuan HMI”, dan “Tafsir Independensi HMI”. Penjabaran Mission kedalam teks-teks tersebut menunjukkan pentingnya Mission yang dibawa tiap-tiap kader HMI, sehingga diharapkan bagi mereka yang mengemban tugas ini tidak terlupa akan landasan awal didirikannya organisasi ini. Baca entri selengkapnya »

Pencapaian target MDGs akan segelkmira berakhir pada tahun 2015 dan agenda pembangunan global paska MDGs 2015 sekarang sudah menjadi topik yang hangat menjelang KTT Rio+20 di Brazil bulan Juni 2012.. Dalam rangka memperingati 20 tahun KTT Bumi (Rio Earth Summit) 1992 yang telah melahirkan konsep pembangunan multi jalur yakni pola pembangunan yang juga memberikan aksentuasi pada peran lingkungan dan sosial tidak semata dimensi tunggal ekonomi, KTT Rio+20 tahun 2012 diselenggarakan dengan mengusung dua tema besar yakni ekonomi hijau dalam konteks pembangunan lestari dan penurunan angka kemiskinan (green economy in the context of sustainable development and poverty eradication) serta kerangka kelembagaan pembangunan berkelanjutan yang lebih dikenal sebagai institutional framework for sustainable development (IFSD).[1]

Salah satu topik yang paling mengemuka sebagai outcome adalah sustainable development goals atau SDGs. Ide revitalisasi metode pembangunan berkelanjutan ini relevan dengan garis kebijakan empat pilar pemerintah Indonesia yang telah mencanangkan tercapainya pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, dan perbaikan lingkungan hidup. Salah satu upaya menyelaraskan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan sumberdaya alam adalah konsep pertumbuhan hijau (green growth). Pertumbuhan ekonomi hijau adalah konsep pertumbuhan yang mengedepankan aspek kualitas dan kuantitas ekosistem dan lingkungan serta mengurangi disparitas sosial dalam memaksimalkan pertumbuhan ekonomi. Kemunculan konsep pertumbuhan hijau ini tidak lepas dari kekhawatiran global atas terjadinya perubahan iklim dan degradasi lingkungan akibat bias pengukuran indikator pertumbuhan ekonomi konvensional yang dianggap gagal melindungi kualitas sumber daya alam dan keragaman hayati disamping meningkatnya kesenjangan sosial.[2] Konsep ini lantas mengalami redifinisi bahwa pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.[3] Baca entri selengkapnya »

DSCN7227KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang remaja dan bahaya narkoba.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Sukohajo, November 2015 Baca entri selengkapnya »