Konsepsi Manusia perspektif Filsafat dan Al-Quran

Posted: Desember 2, 2012 in Intelegensia Muslim, Keumatan
Tag:, , ,

Bicara soal Manusia adalah sesuatu yang tidak ada habisnya. Kompleksitas dalam diri manusia tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang inheren, namun lebih dari itu pembahasan manusia secara menyeluruh akan berkaitan dengan peran manusia dalam membangun suatu tatanan kehidupan, sejarah manusia-manusia terdahulu yang telah menorehkan tinta diatas batu bukti artefak, dan maju serta hancurnya suatu peradaban bangsa tak kan lepas dari peran manusia. seperti yang dituliskan oleh Soe Hok Gie bahwa Sejarah Manusia adalah sejarah kekerasan dan peperangan.

Baik dan buruknya sejarah perdaban dunia adalah bukti yang telah di torehkan oleh manusia dalam membangun tatanan kehidupanya. Kerusakan, peperangan, dan penindasan adalah sejarah buruk dari peradaban manusia. namun apakah dengan demikian penilaian buruk terhadap manusia bisa dirasa obyektif. Karena tak sedikit pula yang kita ketahui bahwasanya kemajuan yang dirasakan hari ini adalah bukti atas peran baik manusia.

Menurut Arnold Toynbee, dalam ranah etis ciri manusia yang paling mencolok dan misterius adalah ketinggian tangga etisnya. Rentang potensialitas-potensialitas etis antara dua kutub, yakni kekotoran dan kesucian. Ketika manusia menggenggam kekuasaan yang bisa merusak peradaban, kita tidak bisa yakin sepenuhnya bahwa manusia tidak mempunyai keinginan untuk melakukan tindak kejahatan yang mematikan. Tetapi kita juga tidak yakin bahwa manusia tidak mempunyai keinginan untuk menyelamatkan peradaban ini dari kehancuran tersebut untuk membangun perdamaian yang penuh cinta.

Dari pernyataan Arnold Toynbee kita bisa menarik benang merah bahwasanya manusia tidak hanya memiliki hasrat untuk melakukan kerusakan belaka, namun manusia juga memiliki sisi kebaikan yang bisa dijadikan fondasi untuk membangun perdamaian dunia. Dari pernyataan diatas, urgensi untuk membangun potensialitas baik manusia dalam rangka proyek membangun peradaban yang penuh perdamaian adalah suatu keniscayaan. Dan kita tak akan mengetahui potensialitas etis yang ada dalam diri manusia tanpa mengetahui konsepsi dasar manusia.

Namun Mendefinisikan Manusia adalah hal yang penuh dengan problematic, karena semakin dalam kita membahas manusia maka akan lahir banyak definisi tentang manusia yang tidak membuat gambaran manusia semakin jelas, tidak mendekatkan kita pada esensi manusia yang sebenarnya namun justru menjauhkan kita dari esensi kemanusiaan itu sendiri. Munculnya ilmu-ilmu baru tentang manusia dan tumbuh pesatnya spesialisai-spesialisasi di dalam ilmu-ilmu tentang manusia, tidak dengan sendirinya membantu kita memahami manusia secara utuh dan menyeluruh, melainkan justru mengaburkan dan mencerai-beraikan pemahaman kita tentang manusia.

Max Scheller mengritik atas spesialisasi-spesialisai ilmu yang menjelaskan tentang manusia. Ia mengatakan “tidak ada periode lain dalam pengetahuan manusiawi, dimana manusia menjadi semakin problematic, seperti pada periode kita ini. Kita tidak lagi memiliki gambaran jelas dan konsisten tentang manusia. Semakin banyak ilmu-ilmu khusus yang terjun mempelajari manusia, tidak semakin menjernihkan konsepsi kita tentang manusia, sebaliknya, malah semakin membingungkan dan mengaburkannya.

Kritik yang sama juga pernah dilontarkan oleh beberapa ilmuwan sosial masa kini yang merasa tidak puas dengan perkembangan yang terjadi di dalam ilmu yang membahas manusia secara terpisah-pisah.  Mereka mengatakan bahwa para ilmuwan tak ubahnya seperti seniman yang menyambung-nyambungkan tangan, kaki, kepala, dan anggota-anggota tubuh lainnya menurut imajinasi mereka sendiri, tapi anggota-anggota tubuh tersebut disambung-sambungkan secara tidak pas, sehingga hasilnya lebih menyerupai monster ketimbang manusia.

Walaupun ilmu-ilmu dengan karakter spesialisasinya telah menghadirkan pemahaman-pemahaman yang rancu tentang manusia, namun perlu diakui keberadaan ilmu tersebut cukup memberi kontribusi besar dalam membangun khazanah keilmuan yang beragam. Ilmu-ilmu yang memfokuskan perhatianya pada pengkajian manusia, seperti Psikologi, antropologi, dan sosiologi. Cukup membantu manusia dalam menjalani kehidupan untuk tujuan praktisnya. Seperti kesehatan mental, perbaikan organisasi, kemajuan masyarakat, atau transformasi sosial dan budaya.

Berbeda dengan ilmu-ilmu tentang manusia, filsafat manusia mencoba untuk membahas manusia dengan metode sintetis dan reflektif. Dengan mengkaji filsafat manusia yang menpunyai ciri-ciri intensif, ekstensif dan kritis harapanya kita mampu memahami hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh.

Konsepsi manusia

Ada banyak aliran filsafat yang memandang manusia secara berbeda. Kelahiran aliran filsafat yang beragam dalam memandang manusia itu berakar dari dua aliran terbesar dan tertua dalam sejarah filsafat, yaitu materialism dan idealisme. Kedua aliran ini memandang manusia dari sudut pandang yang berbeda, dan ada beberapa kelemahan serta kelebihan yang dimiliki kedua aliran tersebut.

Al-Quran yang merupakan kitab Panduan hidup seorang muslim tak luput dalam memberi penjelasan yang sangat menarik dan universal tentang manusia. Kitab ini memiliki cara pandang yag jauh berbeda dari aliran filsafat materialisme dan idealisme. Dengan sedikit menjelaskan konsepsi manusia menurut Al-Quran ini dimaksudkan mampu menyempurnakan pemahaman kita atas manusia.

Aliran materialisme   

Aliran materialisme memandang esensi manusia hanya terdiri dari materi. Ia tidak mempercayai sesuatu selain apa yang tampak pada manusia. Ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasaan, dan bersifat obyektif. Karena menempati ruang dan waktu serta bersifat obyektif, maka ia bisa diukur, dikuantifikasi, dan diobservasi. Jiwa dalam diri manusia tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan oleh karena itu ditolak keberadaanya.

Para materialis beranggapan bahwa tak ada suatu kekuatanpun selain kekuatan materi. Ia tidak percaya dengan kekuatan spiritual manusia. Kalaupun ada suatu gejala yang masih belum diketahui oleh manusia, itu karena manusia akal kita yang belum bisa memahaminya, bukan karena adanya kekuatan lain yang bersifat spiritual. Karena bagi mereka tidak ada dunia spiritual, yang ada hanyalah dunia material yaitu realitas materi yang ada disekeliling manusia.

Materialisme memandang gejala atau peristiwa yang terjadi merupakan gejala alamiah yang bisa dijelaskan dengan akal. Seperti bencana alam, kematian, dan kejadian-kejadian yang lain tidak lain karena adanya faktor lain yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala tersebut. gejala atau peristiwa tersebut tidak tejadi dengan sendirinya. Dengan begi tu manusia dalam pandangan kaum materialis sangat determenistik. Mereka tidak mengakui adanya kehendak bebas atau independensi manusia.

Seorang materialis sangat yakin bahwa tidak ada gerak atau perilaku yang terjadi dengan sendirinya. Gerak selalu bersifat mekanis, digerakkan oleh kekuatan diluar dirinya sendiri.  Oleh sebab itu metaphor yang digunakan untuk meterialisme untuk menjelaskan gerak atau perilaku adalah mesin, dan benda-benda lain yang bersifat mekanis.

aliran idealisme

jika kaum materialis mengatakan bahwa kenyataan yang sesungguhnya adalah bersifat materi. Maka kaum idelis mengatakan yang sebaliknya, mereka beranggapan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah bersifat spiritual. Mereka percaya ada kekuatan spiritual dibalik suatu kejadian. Karena kekuatan spiritual tidak bisa diukur berdasarkan pengamatan empiris, maka mereka menggunakan metaphor-metafor kesadaran manusia. Misalnya berfikir rasional, berkehendak, berperasaan, kretif, dan lain-lain.

Kaum idelis tidak menafikan adanya kenyataan materi, seperti menurut Hegel seorang filosof idelis, menurut Hegel kenyataan materi merupakan manifestasi dari kekuatan sejati yang lebih tinggi, yaitu roh absolute. Seperti halnya kebudayaan, kesenian dan kenyataan lahiriah lain, merupakan manifestasi lahiriah dari kekuatan jiwa manusia. Alam fisik pun manifestasi dari kekuatan ruh absolute atau Tuhan. Setiap peristiwa dalam kehidupan manusia seperti bencana alam, kematian, dan kejadian lainya telah diatur sebelumnya oleh kekuatan spiritual dan memiliki tujuan-tujuan tertentu.

Jika kenyataan bersifat spiritual, maka hal-hal yang bersifat ideal seperti agama dan hokum, nilai, cita-cita, dan ide, memegang peran penting dalam kehidupan. Hokum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, serta agama dan nilai-nilai dalam kehidupan sosial dan pribadi, merupakan norma-norma yang menggerakkan perilaku manusia. Nilai-nilai dan norma-norma tersebut merupakan panduan sekaligus tujuan kearah manusia hendak menuju atau kearah manusia diarahkan untuk mewujudkanya.

Menurut Plato, salah satu filosof idealis. manusia memiliki atribut yang denganya manusia mampu mengendalikan gerak sejarah. Yaitu Hasrat, akal, thymos (spiritual). Hasrat yang mendorong manusia mencari sesuatu diluar dirinya, sementara akal yang memberi perhituangan menunjukan jalan yang terbaik untuk mencapainya. Selain itu manusia mencari pengakuan akan martabat mereka sendiri atau orang lainya, atau benda-benda, atau perinsip yang mereka hargai. Dari ketiganya, hasrat tidak memiliki signifakansi dalam membawa perubahan pada manusia, namun atribut yang kedua dan ketiga yaitu akal dan thymos memiliki peranan terbesar dalam perubahan kehidupan manusia.

Aliran strukturalisme

Strukturalisme dapat diartikan sebagai aliran dalam filsafat manusia yang menempatkan struktur bahasa dan budaya sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku-perilaku dan bahkan kesadaran manusia. Kaum strukturalis meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak bebas, yang terstruktur oleh sistem bahasa dan budayanya. Tidak ada perilaku, polapikir dan kesadaran manusia yang bersifat individual dan unik, yang bebas dari sistem bahasa dan budaya yang mengungkungnya.

Aliran strukturalis secara tegas menolak humanisme, menolak pandangan tentang kebebasan dan keluhuran manusia. Aliran ini tidak mengakui adanya “aku” atau manusia bukanlah pusat relitas. Makna dan keberadaan manusia pada dasarnya tidak tergantung pada diri manusia itu sendiri, melainkan pada kedudukan dan fungsinya dalam sistem, persis seperti keberadaan skrup/mur dalam mesin-mesin industry. Atau seperti pion-pion catur dalam sistem permainan catur yang aturan mainya telah ditentukan. Begitu juga dengan manusia, ada aturan main yang menyebabkan manusia, sadar atau tidak sadar harus mematuhi aturan-aturan dalam sistem tersebut.

Manusia perspektif Al-Quran

Manusia dalam pandangan Islam tediri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah. Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya dia alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW.

Tentang proses kejadian manusia, Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Mukminun ayat 12 – 14 Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al Mukminun : 12-14).

Tentang proses kejadian manusia ini juga dapat dilihat dalam pada QS As Sajadah ayat 7 – 9 yang berbunyi: Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajadah : 7 – 9)

Dalam hadits Rasulullah SAW tentang kejadian manusia, beliau bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya 40 hari sebagai nutfah, kemudain sebagai alaqah seperti itu pula (40 hari), lalu sebagai mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kedalam tubuhnya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari r.a dan muslim)

Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan (4X30 hari). Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu sendiri sudah ada semenjak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yang disebut dengan akal yang berpusat diotak, serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan substansi dai roh manusia.

Dengan adanya substansi materi dan spiritual dalam diri manusia, manusia dituntut untuk mampu menegakkan kehidupan yang adil dan makmur dengan membentuk sistem kehidupan yang baik. Dengan ini maka manusia dalam pandangan Al-Quran sangat bertolak belakang dengan pandangan kaum materialism, idealism, ataupun strukturalisme.

Oleh: Adhi Nurseto/ Sekretaris Umum HMI Komisariat Ahmad Dahlan 1  2012

Daftar pustaka:

1. Zainal Abidin.2009. Filsafat Manusia. Bandung:Rosda

2. Arnold toynbee 2007. Sejarah umat Manusia. yogyakarta:pustaka pelajar offset

3. Francis fukuyama.2004.the end of history and the last man.yogyakarta:Qalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s