PERKADERAN HMI SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN PENYONGSONG PEMBANGUNAN BANGSA

Posted: Oktober 1, 2014 in Makalah Intermediate Tranning (Lk II)
Tag:
  1. Latar Belakang

Kunci pembangunan masa mendatang bagi bangsa Indonesia adalah pendidikan. Sebab melalui pendidikan diharapkan akan menghasilkan individu-individu yang berkualitas sebagai penopang pembangunan bangsa oleh partisipasinya sebagai warga Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, makin berkembang dunia pendidikan di Indonesia. Terbukti dengan adanya pembangunan secara materil lembaga-lembaga pendidikan yang kian hari bertambah, pembangunan yang mewah serta perkembangan sarana dan prasana yang baik.

Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tidak sejalan dengan peningkatan kualitas yang sepadan. Bagaimana tidak, fakta-fakta praktek penyimpangan telah terjadi dimana-mana, kebijakan pemerintah yang sepihak yang mengakibatkan ketidak adilan, pelanggaran Undang-Undang, hal tersebut mencerminkan sistem pembangunan yang kacau. Padahal mereka, manusia yang masuk dalam jajaran kepemimpinan Negara yang mempunyai kehendak membuat kebijakan sistem pembangunan merupakan orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Pendidikan merupakan pondasi pembangunan

Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peran pendidikan amatlah sangat strategis[1]

Peran strategis pendidikan inilah yang menjadikan pendidikan sebagai pondasi pembangunan. Dengan pengetahuan yang dimiliki setiap individu, dengan semestinya akan direalisasikan untuk kepentingan kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara. Namun faktanya, peran pendidikan mengalami degradasi fungsi, dengan kata lain sistem pembangunan menjadi rapuh karena lemahnya pondasi pembangunan yaitu pendidikan.

Yang menjadikan akar permasalahan yang sedang di alami saat ini adalah terletak pada masalah sekitar pengertian ilmu. Hal itu berarti ketiadaannnya ilmu dalam masyarakat maupun individu. Sistem pendidikan yang berkuasa saat ini adalah sistem pendidikan barat. Mereka telah memberi pengertian ilmu sesuai tabiat dan pandangan mereka. Akal pikiran kita telah diliputi oleh masalah, sifat dan tujuan yang salah. Semestinya, Islam pun mempunyai pandangan hidup tersendiri yaitu sifat dan pandangan yang berbeda dari agama dan kebudayaan lain.

Ilmu yang dikenal saat ini ilmu yang sudah terlanjur diselimuti oleh pandangan hidup barat. Dikotomis, liberal, sekuler, pragmatis, materialis dan sebagainya. Hal tersebut dapat dilihat dari sistem kurikulum yang ada di Indonesia. Ketiadaan integrasi antara ilmu dan amal yang sama sekali tidak terlihat. Seringkali terjebak pada dikotomi kebenaran agama dan kebenaran ilmiah.

Bangsa barat telah memunculkan “modernisasi pendidikan”, kondisi ini menimbulkan pemasungan terhadap adanya integritas dalam diri manusia sebagai manusia yang penuh fitrah pikiran, akal, budi, kehendak, emosi, talenta, kreativitas, dan bebas mengembangkan diri karena lembaga pendidikan tempat belajar telah mengabdikan dan menghambakan dirinya pada arus modernisme barat.[2]

Sistem pendidikan yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan yang memiliki output yang berkualitas. Dimana sistem ini terdiri dari 3 komponen yaitu input, proses dan output. Input adalah masukan sumberdaya manusia yang mau menerima perubahan sehingga ia menjadi berkembang dalam aspek ilmu pengetahuannya. Proses adalah proses bagaimana input menjadi berkembang dan berkualitas dengan metode yang telah disediakan sedangkan output ini adalah bagian terpenting sebagai hasil dari kesempurnaan sistem, dimana output menjadi puncak keberhasilan suatu sistem. Dengan komponen sistem yang baik maka akan menghasilkan sistem yang baik pula yang dibutuhkan oleh masyarakat. Maka dalam sistem pendidikan perlu di perhatikan mengenai komponen sistem itu sendiri.

Sistem pendidikan yang terjadi saat ini adalah sistem pendidikan yang berkembang dari sudut kuantitas saja, akan tetapi kualitas rendah. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, ketimpangan yang sangat menonjol adalah : a) ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, antar jawa dan luar jawa, antara penduduk kaya dan penduduk miskin. Selain itu muncul juga dua permasalahan belum terselesaikan yaitu: pertama, pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer apa yang disebut dead knowledge, yakni ilmu pengetahuan yang bersifat next bookish sehingga bagaikan sudah diceraikan baik akar maupun sumber aplikasinya.[3]Itulah konsep sistem pendidikan yang telah diwariskan budaya barat saat ini. Sistem yang mengutamakan hasil, bukan proses. Sejatinya proses adalah hal paling utama sebelum hasil. Ketika ada ketimpangan proses yang sudah melewati jalur yang semestinya, maka hasil yang diciptakan adalah hasil yang tidak berkualitas. Seperti yang terjadi saat ini, banyak petinggi negara yang berpendidikan tinggi namun mereka tidak mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan rakyat melainkan keegoisan masing-masing. Jelas bahwa mereka belum faham untuk apa mereka berpendidikan dan mencari ilmu, sebagaimana menjadi manusia yang fitrah.

HMI Menjawab

Berbagai penyimpangan yang ada di dalam masyarakat, misalnya memebesarkan jumlah pengangguran, berkembangnya mentalitas jalan pintas, sikap materialistik dan sikap individualistik, mendominasinya nilai ekstrinsik terutama di wilayah generasi muda, dari satu sisi bisa dikaitkan dengan kegagalan praktek pendidikan yang berkiblat kepada Amerika.[4] Dengan kata lain, praktek pendidikan yang kita laksanakan tidak atau kurang cocok dengan budaya ke-Indonesiaan. Oleh karena itu, perlu dicari sosok bentuk praktek pendidikan yang berwajah Indonesia serta berwajah Ke-Islaman.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah suatu organisasi yang mempunyai wajah ke-Indonesiaan dan ke-Islaman. Sekiranya bangsa Indonesia bisa mengadopsi sistem pendidikan perkaderan yang ada di HMI.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah tercatat dalam sejarah sejak awal beridirinya pada tanggal 5 Februari 1947 M yang bertepatan pada tanggal 16 Rabbiul Awal 1366 H. Sejak kelahirannya komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesian layaknya adalah dua organ tubuh yang tidak bisa dipisahkan dalam tubuh HMI. Jika HMI sebagai tubuh maka jiwanya adalah Islam yang hidup dengan karunia bangsa yang besar. Oleh karena itu HMI harus menjaga konsistensi atas identitas diri HMI sebagai organisasi yang berkomitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan baik dari sudut internal maupun eksternal HMI.

Ada tiga komponen dasar yang menjadi nafas kehidupan organisasi ini, yaitu pertama nilai Keislaman yang menjadi ruh jiwa HMI, kedua nilai intelektual yang terus berjalan dan berkembang sebagai pionir penjawab tantangan zaman di masa mendatang dan yang ketiga semangat juang kader ditengah umat dan bangsa dalam menjalankan perannya.

HMI telah memproklamirkan fungsinya sebagai organisasi kader yang menjadi tuntutan pengkaderan sebagai jantung kehidupan HMI. Dengan kata lain, HMI mempunyai peranan dalam mendidik dan mempersiapkan individu-individu untuk menjadi tulang punggung organisasi yang juga tidak dilupakan peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang berikhtiar menjadikan masyarakat adil makmur dalam mencapai cita-cita Negara dan bangsa Indonesia.

Untuk merealisasikan peran HMI, maka HMI harus berjalan sesuai fungsinya sebagai organisasi kader yang mencetak kader-kader berkarakter untuk membangun bangsa dalam perannya sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudanya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah SWT.

Sistem pengkaderan inilah yang digunakan HMI dalam mendidik dan mempersiapkan individu-individu untuk menjadi tulang punggung pembangunan bangsa. Ketika sistem pendidikan yang ada di Indonesia tidak sesuai pada fungsinya, maka sistem perkaderan HMI hadir sebagai second system dalam mencetak pemimpin bangsa. Penyempurnaan terhadap format perkaderan terus dilakukan oleh HMI sebagai wujud konsistensi untuk mendapatkan output perkaderan yg semakin berkualitas.

  1. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan judul Pengkaderan HMI Sebagai Sistem Pendidikan Penyongsong Pembangunan Bangsa, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Sistem Pendidikan Nasional dewasa ini.
  2. Pendidikan dalam kacamata Islam.
  3. Perkaderan HMI Sebagai Upaya Pembentukan Insan kamil pembangun peradaban.
  4. Aktualisasi dan peran HMI di masa mendatang.
  5. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diperoleh rumusan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah sistem pendidikan nasional saat ini
  2. ?
  3. Bagaimanakah Pendidikan menurut pandangan Islam ?
  4. Bagaimanakah Perkaderan di HMI sebagai Upaya Pembentukan insan kamil pembangun peradaban?
  5. Apakah aktualisasi dan peran HMI di masa mendatang ?
  6. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui sistem pendidikan nasional saat ini
  2. Mengetahui pendidikan dalam Islam
  3. Mengetahui Sistem Perkaderan HMI sebagai Upaya pembentukan Insan Kamil Pembangun Peradaban
  4. Mengetahui dan merumuskan aktualisasi dan peran HMI di masa mendatang

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sistem Pendidikan Dewasa ini

Aspek yang berperan penting dalam pembangunan sebuah peradaban adalah pendidikan, termasuk peradaban Islam. Dalam lembaga pendidikan inilah peran penting membangun kultur keilmuan. Melalui sistem pendidikan yang kokoh akan menghasilkan manusia-manusia berkaulitas sebagai pembangun peradaban.

Melihat realita saat ini, pendidikan di Indonesia jauh dari harapan yang menjadi cita-cita bangsa (tujuan bangsa). Sistem pendidikan dewasa ini tidak menghasilkan manusia manusia tangguh yang mampu mengemban misi bangsa Indonesia.

Pendidikan di Indonesia saat ini dihegemoni pemikiran sekular. Sementara sistem pendidikan saat ini juga megarah pada sistem yang semakin materialistis[5] yang bergabung menjadi modernisasi pendidikan.

Seperti yang tertuang dalam pasal 1 Bab 1 Undang-Undang Republik Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian siri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.[6]

Definisi diatas adalah menggambarkan relevansi antara individu, peserta didik maupun masyarakat, dalam arti individu, peserta didik maupun masyarakat adalah manusia yang mampu mengembangkan potensi dirinya melalui pendidikan.

Hal tersebut juga tidak jauh bertentangan dengan konsep tujuan pendidikan menurut john dewey, “ tujuan pendidikan adalah untuk membimbing murid melalui dorongan atau interes spontannya, untuk mencapai pertumbuhan melalui partisipasi dan refleksi dalam cara-cara hidup yang demokratis. Murid juga akan mengembangkan kapasitasnya untuk beradaptasi secara elastis dengan esensi-esensi dalam masyarakat yang demokratis, dan akan belajar bagaimana merekontruksi penghalamannya guna mengikuti tuntutan-tuntutan pengalaman masyarakat selanjutnya, dan untuk kepentingan idealisme masa depan”[7]

Konsep pendidikan indonesia yang dijelaskan dalam pasal 2 dan 3 Bab II UU RI No.20 tahun 2003 juga ditemui kesamaannya dengan konsep pendidikan john dewey, yaitu pasal 2 berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan yang membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”[8]

Menurut kosasih (2010) menyatakan bahwa landasan hukum diatas mencemrinkan bahwa pendidikan di Indonesia masih menekankan hubungan manusia dengan negara yang ketat. Pendidikan model seperti ini bisa dinamakan sistem pendidikan sekuler. Yang ditekankan adalah kewajiban antara warga negara dengan negara, bukan negara dengan Tuhan.y

Kembali kokasih (2010) menjelaskan bahwa manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri merupakan aspek yang ditekankan dalam konsep warga negara yang baik. Semua sifat itu pada intinya diperlukan supaya warga negara menjadi baik dan bermoral. Agama direduksi pada sekedar akhlak dan moral belaka. Pendidikan di Indonesia tidak bertujuan menciptakan muslim yang kaffah, insan kamil, atau manusia yang berbahagia.

Konsep muslim yang kaffah, insan kamil atau manusia yang berbahagia adalah konsep yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, negara Indonesia mengenai cita-cita bangsa Indonesia mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Masyarakat adil makmur mencerminkan kesejahteraan masyarakat yang meliputi komponen muslim kaffah, insan kamil atau manusia yang bahagia.

Dalam pandangan jean jacques Rousseau bahwa pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia bebas dan merdeka tanpa tekanan maupun ikatan, tidak untuk tujuan tertentu, seperti menjadi manusia untuk kalangan tinggi, untuk suatu jabatan, untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan atau untuk anggota masyarakat suatu negara.[9]

Konsep tujuan pendidikan bertentangan dengan UU no 20 tahun 2003 bab XIII pasal 46 dimana yang bertanggung jawab atas pendanaan pendidikan adalah pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Kemudian penjelasan UU no.20 tahun 2003 pasal 62 ayat 1,2 dan 3 menyatakan bahwa :

  • pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal
  • biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat satu (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya, dan modal kerja tetap
  • biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat satu (1) meliputi pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secarsa teratur dan berkelanjutan.

Penjelasan Kebijakan Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa biaya pendidikan harus ditanggung oleh masyarakat, Pada akhirnya masyarakat yang masuk dalam sistem pendidikan tersebut harus mematuhi peraturan yang sudah dibuat. Hal itu akan membentuk paradigma masyarakat tentang mahalnya pendidikan harus kembalikan kepada masyarakat melalui jabatan-jabatan tinggi, tanpa memperhatikan masyarakat yang ada dibawah jabatannya. Dengan hal itu pula akan terjadi ketimpangan sosial, dimana pendidikan hanya untuk orang-orang kaya saja dan bukan untuk orang miskin. Padahal, sejatinya pendidikan harus dimiliki oleh setiap insan di dunia sebagai penolong dalam hidupnya memenuhi kebutuhan dunia dan ukhrawi.

Karakter-karakter manusia yang dangkal seperti yang dijelaskan diatas tidak akan menjadi penggerak peradaban, sehingga terjadi kemacetan pembangunan bangsa dan kesejahteraan umat.

  1. Pendidikan dalam kacamata Islam

Pendidikan Islam yang ada di Indonesia saat ini bisa berkaca melalui pendidikan pesantren. Dimana manusia dibentuk melaui akhlak dan kemudian dikembangkan kedalam segala ilmu pengetahuan sehingga menjadi kan manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Arti, Dasar dan Tujuaan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang komprehensif dan terpadu dan mengarah kepada pembentukan kepribadian, baik individu maupun masyarakat yang berorientasi pada ajaran atau ukuran-ukuran Islam.[10] Dalam pendidikan Islam, terdapat dua dasar pendidikan Islam yang dapat dijadikan sumber, yaitu Alqur’an dan As-Sunnah. Alqur’an adalah wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang berisi ajaran-ajaran pokok yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia termasuk pendidikan.

Sesuai Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 2 :“ Dan Kami Tidak Menurunkan Kepadamu al-Kitab (Alqur’an) melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat kaum beriman.”(Q.S Al-Baqarah:2).

Moh.Fadul Jamil Al-Jamil dalam bukunya zamroni (2000) menjelaskan, hakikatnya Alqur’an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnnya adalah kitab pendidikan masyarakat, moral dan spiritual. As-Sunnah sebagai dasar pemikiran yang kedua berarti perkataan, perbuatan dan pengakuan Rasulullah. Sunnah menjadi pelengkap sumber kedua setelah Al-Qur’an yang mencakup berbagai aspek kehidupan pula, termasuk pendidikan di dalamnya.

Tujuan pendidikan Islam dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai wujud realisasi tujuan khusus yang menegaskan bahwa Islam juga turut serta mengatur kehidupan dunia. Dalam tujuan khusus itu sendiri meliputi penjabaran mengenai ibadah yang memenuhi seluruh amal perbuatan manusia, pikiran atau perasaan yang dihadapkan kepada Allah.

Abdul Fattah memperinci tujuan khusus sebagai bentuk amalan-amalan, seperti mencari keutamaan ilmu, berbuat baik kepada Bapak/Ibu, menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik pada kaum kerabat, menafkahkan harta tanpa rasa kikir dan berlebihan, jujur dalam menimbang, rendah hati, tidak sombong, adil, menjauhi kekejian dan permusuhan, serta menepati janji.[11]

Rumusan tujuan pendidikan Islam ini secara tersirat membentuk karakter insan kamil yang berkualitas yang akan menjadi penopang pembangunan bangsa yang secara jelas memiliki dasar pendidikan yaitu Alqur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman menuntut ilmu di jalan Allah guna mensejahterahkan kehidupan dunia.

 

  1. Perkaderan HMI Sebagai Upaya Pembentukan Insan kamil pembangun peradaban

C.1 Tujuan HMI dan Relevansinya dengan Tujuan Pembangunan Bangsa

Tujuan sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi agar dapat melaksanakan usaha-usaha oleh organisasi tersebut secara teratur dan searah. Tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh dasar motivasi pembentukannya, latar belakangnya serta fungsi dan statusnya.

Tujuan HMI mempunyai nilai developmental, karena di dalam rumusan tujuan HMI yang pertama[12] dapat berfungsi sebagai tolak ukur sampai seberapa jauh HMI dapat memberikan partisipasi dalam membela, mempertahankan, membina, membangun Negara Kesatauan Republik Indonesia.

Di dalam totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi yang berasaskan Islam, berstatus sebagai organisasi mahasiswa yang berperan sebagai Generasi Muda bangsa dan berfungsi sebagai organisasi kader yang berwatak/bersifat independen.[13]

Pemantapan fungsi perkaderan HMI tersebut ditambah dengan satu kenyataan bahwa Bangsa Indonesia sangat kekurangan akan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang padu antara pemenuhan tugas dunia dan ukhrawi, ilmu dan iman, individu dan masyarakat, serta tuntutan peranan kaum intelektual yang kian besar dimasa mendatang.

Kemudian berdasarkan faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannya yang dirumuskan dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI : “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”

Dengan adanya rumusan tersebut, maka pada hakikatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kuantitatif, tetapi sebaliknya HMI adalah lembaga pengabdian dan pengemban ide secara kualitatif harus mendidik, memimpin anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

Hadirnya HMI ditengah kemelutnya kemerdekaan Indonesia dengan rumusan tujuan dalam pasal 4 Anggaran Dasar tersebut adalah dalam rangka menjawab dan memenuhi dasar Bangsa Indonesia setelah mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 guna memformulasikan dan merealisasikan cita-cita hidup bangsa Indonesia dan tujuan bangsa Indonesia yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia 4.[14] Kemudian pasca kemerdekaan Indonesia, timbul tuntutan agar cita-cita HMI dapat direalisasikan dan diwujudkan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut didasari dengan niat mewujudkan kehidupan masyarakat adil makmur. Maka sejak saat itulah perlunya pembangunan nasional.

Untuk melakukan pembangunan nasional, diperlukan adanya ilmu pengetahuan. Pemimpin Nasional yang dibutuhkan adalah negarawan yang “problem solving” yaitu tipe “administrator”.[15] Selain ilmu pengetahuan, diperlukan juga adanya akhlak dan Iman sehingga mereka mampu melaksanakan tugas kemanusiaan sebagai bentuk amal saleh. Manusia yang demikian mempunyai garansi objektif untuk mengantarkan bangsa Indonesia kedalam suatu kehidupan yang sejahtera, adil makmur serta bahagia.

Seperti yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia ke dua, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.

Cita-cita bangsa indonesia yang merdeka, bersatu dan berdaulat secara formal telah dicapai, tetapi untuk menjadikan negara yang adil makmur masih perlu diperjuangkan. Suatu masyarakat atau kehidupan yang adil dan makmur hanya akan terbina dan terwujud dalam suatu pembaruan dan pembangunan terus menerus oleh manusia-manusia yang berilmu dan berperikemanusiaan, dengan mengembangan nilai-nilai kepribadian bangsa. Disitulah letak peran HMI sebagai organisasi yang berfungsi sebagai organisasi perkaderan yang mencetak otuput sebagai motor penggerak pembangunan guna menciptakan masyarakat adil makmur dan sejahtera

Suatu hal yang paling penting dicatat adalah, HMI yang baik adalah HMI yang tidak hanya berguna bagi ummat Islam tetapi juga bagi bangsa dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ia, anak kandung umat Islam, sekaligus anak kandung bangsa yang tercinta ini.[16]

C.2 Landasan Pengkaderan HMI

Landasan pengkaderan merupakan pijakan pokok yang dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam proses pengkaderan HMI. Untuk melaksanakan perkaderan, HMI bertitik tolak pada lima landasan, sebagai berikut:[17]

  1. Landasan teologis

Manusia yang becoming adalah manusia yang mempunyai kesadaran akan aspek transandental sebagai realitas tertinggi. Dalal hal ini konsepsi syahadat akan ditafsirkan sebagai monotheisme radikal. Kalimat syahadat pertama berisi negasi yang meniadakan tuhan selain Allah. Kalimat kedua berisi penegasan ataz zat yang Maha tunggal yaitu Allah AWT. Dalam menjiwai konsepsi tersebut maka perjuangan manusia diarahkan untuk melawan segala sesuatu yang membelenggu manusia dari yang dituhankan selain Allah.

Dalam menjalani fungsi kekhalifahannya maka internalisasi sifat Allah dalam diri manusia haaris menjadi sumber inspirasi. Dalam konteks ini, tauhid menjadi aspek progresif dalam menyikapi persoalan mendasar manusia. Karena Allah adalah pemelihara kaum yang lemah (rabbulmustadh’afin) maka meneladani sifat Allah juga berarti harus berpihak kepada kaum mustadh’afin. Pemahaman ini akan mengarahkan pada pandangan bahwa ketauhidan adalah nilai-nilai yang bersifat transformatife, membebaskan, berpihak dan bersifat revolusioner. Spirit inilah yang harus menjadi paradigma dalam sistem perkaderan HMI.

  1. Landasan ideologis

Islam sebagai landasan nilai yang secara sadar dipilih untuk menjawab kebutuhan kebutuhan serta masalah masalah yang terjadi dalam suatu komunitas masyarakat (transpormatif). La mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan dan idealisme yang dicita citakan, yang untuk tujuan dan idealisme tersebut mereka rela berjuang dan berkorban bagi keyakinannya. Ideologi Islam senantiasa mengilhami dan memimpin serta mengorganisir perjuangan, perlawanan dan pengorbanan yang luar biasa untuk melawan semua status quo, belenggu dan penindasan terhadap ummat manusia Dalam sejarah Islam Nabi Muhammad telah memerkenalkan Ideologi dan mengubahnya menjadi keyakinan, serta memimpin rakyat kebanyakan dalam praktek praktek mereka melawan kaum penindas. Nabi Muhammad lahir dan muncul dari tengah tengah kebanyakan yang oleh Al Qur’an dijuluki sebagai “ummi”. Kata “ummi” (yang biasa diartikan buta huruf) menurut Syari’ati (dalam bukunya Ideologi kaum Intelektual) yang disifatkan pada nabi bearti bahwa ia dari kelas rakyat yang termasuk didalamnya adalah orang orang awam yang butu huruf, para budak, anak yatim, janda dan orang orang miskin (mustadhafin) yang luar biasanya menderitanya, dan bukan berasal dari orang orang terpelajar, borjuis dan elite penguasa. Dari komunitas inilah Muhammad memulai dakwahnya untuk mewujudkan cita cita ideal Islam.

Cita cita ideal Islam adalah, adanya transformasi terhadap ajaran ajaran dasar Islam tentang persaudaraan universal (Universal Brotherhood), keseteraan (Equality) keadilan sosial (Social Justice), dan keadilan ekonomi (Economical Justice) sebuaha cita cita yang memiliki aspek liberatif, sehingga dalam usaha untuk mewujudkannya membutuhkan keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen, karena pada dasarnya sebuah ideologi menuntut penganutnya bersikap setia (Commifted).

Dalam usaha untuk mewujudkan cita cita, pertama, persaudaraan universal dan kesetaraan (equality), Islam telah menekankan kesatuan manusia (unity of mankinco) yang ditegaskan dalam Al Qur’an, “Hai manusia ! kami ciptakan kamu dari laki laki dan perempuan, kamijadikan karnu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu safing, mengenal Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui. “ (QS Al Hujarat) : 13). Ayat ini secara jelas mebantah sernua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya keshalehan, baik keshalehan ritual maupun keshalehan sosial, sebagaimana Al Qur’an menyatakan, “Hai orang orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri karena Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah ..” (QS. Al Maidah : 8). Kedua, Islam sangat menekankan kepada keadilan di semua aspek kehidupan. Dan keadilan tersebut tidak akan tercipta tanpa membebaskan masyarakat lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka (kaum mustadh’afin) untuk menjadi pemimpin. Menurut Al Qur’an mereka adalah pernimpin dan pewaris dunia. “Kami hendak memberikan karunia kepada orang orang tertindas dirnuka burni. Kami akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi” (QS. Al Qashash: 5) “Dan kami wariskan kepada kaum yang tertindas seluruh timur bumi dan seluruh baratnya yang kami berkati. “ (QS. Al A’raf : 37).

Di tengah tengah suatu bangsa, ketika orang orang kaya hidup mewah di atas penderitaan orang miskin, ketika budak budak merintih dalam belenggu tuannya, ketika para penguasa membunuh rakyat yang tak berdaya hanya untuk kesenangan, ketika para hakim mernihak pemilik kekayaan dan penguasa, mereka memasukkan orang orang kecil yang tidak berdosa ke penjara. Muhammad SAW menyampaikan pesan Rabbulliflustadha’afin : “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang yang tertindas, baik laki laki, perempuan dan anak-anak yang berdo’a, Tuhan kami ! Keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya berbuat zalim, dan berilah kami perlindungan dan pertolongan dari sisi Engkau.” (QS. An-Nisa : 75). Dalam ayat ini menurut Asghar Ali Engineer (dalam bukunya Islam dan Teologi Pembebasan) Al-Qur’an mengungkapkan teori “kekerasan yang membebaskan”, “Perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah.” (Q.S. Al-Anfal : 39) Al-Qur’an dengan tegas mengutuk Zulm (penindasan). Allah tidak menyukai kata-kata yang kasar kecuali oleh orang yang tertindas. “Allah tidak menyukai perkataan yang kasar/jahat (memaki), kecuali bagi orang yang teraniaya….” (QS. An-Nisa’ : 148).

Ketiga, Al Qur’an sangat menekankan keadilan ekonomi yang distributive. Keadilan ioni seratus persen menentang penumpukan dan penimbunan harta kekayaan. Al Qur’an sejauh mungkin menganjurkan agar orang orang kaya hartanya untuk anak yatim, janda janda dan fakir miskin. “Adakah engkau ketahui iorang yang mendustakan agarna? Mereka itu adalah orang yang menghardik anak yatim. Dan fidak menyuruh memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang yang shalat, yang meraka itu lalai dari shoatnya, dan mereka itu riya, enggan memberikan zakatnya. “ (QS. AI Mauun : 1 7).

Al Qur’an tidak menginginkan harta kekayaan itu hanya berputar di antara orang orang kaya saja. “Apa apa (harla rarnpasan) yang diberikan Allah kepada Rasul Nya dari penduduk negeri (orang orang kafir), maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, untuk karib kerabat Rasul, anak anak yatim, orang orang miskin, dan orang yang berjalan, supaya jangan harta itu beredar antara orang orang kaya saja diantara kamu … “ (QS. Al Hasyr : 7). Al Qur’an juga memperingatkan manusia agar tidak suka menghitung hitung harta kekayaannya, karena hartanya tidak akan memberikan kehidupan yang kekal. Orang yang suka menumpuk numpuk dan menghitung-hitung harta benar benar akan dilemparkan kedalam bencana yang mengerikan, yakni api neraka yang menyala-nyala (QS. Al Humazah :1 9). Kemudian juga pada Surat At Taubah : 34 AI Qur’an memberikan beberapa peringatan keras kepada mereka yang suka menimbun harta dan mendapatkan hartanya dari hasil eksploitasi (riba) dan tidak membelanjakannya di jalan Allah.

Pada masa Rasulullah SAW. Banyak sekali orang yang terjerat dalam perangkap hutang karena praktek riba. AI Qur’an dengan tegas melarang riba dan memperingatkan siapa saja yang melakukannya akan diperangi oleh Allah dan Rasul Nya (Iihat, QS. Al Baqarah: 275 279 dan Ar Rum – 39). Demikianlah Allah dan Rasul Nya, telah mewajibkan untuk melakukan perjuangan membela kaum kaum yang tertindas, dan mereka (Allah dan Rasul Nya) telah memposisikan diri sebagai pembela mustadh’afin.

Dalam keseluruhan proses Aktivitas manusia di dunia ini, Islam selalu mendesak manusia untuk terus memperjuangkan harkat kemanusiaan, menghapuskan kejahatan, melawan penindasan dan ekploitasi. AI Qur’an memberikan penegasan “Kamu adalah sebaik baik umat, yang dilahirkan bagi mantisia, setipaya kami menyuruh berbuat kebajikan (ma’ruf) dan melarang berbuat kejahatan (mungkar), serta beriman kepada Allah. (QS. Ali-Imran : 110). Dalam rangka memperjuangkan kebenaran ini, manusia bebas mengerlikulasikan sesuai dengan konteks lingkungannya tidak terjebak pada hal hal yang bersifat mekanis dan dogmatis. Menjalankan ajaran Islam yang bersumber pada AI Qur’an dan As Sunnah berarti menggali makna dan menangkap semangatnya dalam rangka menyelesaikan persoalan persoalan kehidupan yang serba konpleks sesuai dengan kemampuannya.

Demikianlah cita cita ideal Islam, yang senantiasa harus selalu diperjuangkan dan ditegakkan, sehingga dapat mewujudkan seuatu tatanan masyrakat yang adil, demokratis, egaliter dan berperadaban Dalam memperjuangkan cita cita tersebut manusia dituntut untuk selalu setia (commited) terhadap ajaran Allah SWT, ikhlas, rela berkorban sepanjang hidupnya dan senantiasa terlibat dalam setiasa pembebasan kaum tertindas (mustadh’afin). “Sesungguhnya sholat ku, perjuangan ku, hidup dan mati ku, semata mata hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada serikat bagi Nya dan aku diperintah untuk itu, serfa aku termaasuk orang yang pettama berserah diri. ” (QS. AI An’am : 162 163)

  1. Landasan konstitusi

Untuk mewujudkan cita-cita HMI di masa depan, maka HMI mempertegas posisinya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara demi melaksanakan tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia. Penegasan posisi HMI termaktub dalam konstitusi HMI anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) HMI yang merupakan pedoman HMI yaitu : dalam pasal tiga (3) tentang azas dijelaskan bahwa HMI adalah orgasnisasi berazaskan Islam dan bersumber kepada Alqur’an dan As-Sunnah. Penegasan ini memberikan penjelasan bahwa HMI senantiasa mengemban tugas dan tanggung jawab dengan semanagat keislaman dengan tidak mengesampingkan semangat kebangsaan. Pasal 6 AD HMI menjelaskan tentang independensi HMI, bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa yang independen, berstatus sebagai organisasi mahasiswa (pasal 7 AD HMI), memiliki fungsi sebagai organisasi kader (pasal 8 AD HMI) serta berperan sebagai organisasi perjuangan (pasal 9 AD HMI)

Tujuan HMI termaktub dalam pasal 4 AD HMI “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT.” Tujuan ini sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan peran dan fungsi HMI secara berkelanjtan yang bersifat continue. Kualitas kader yang dibentuk kemudian dirumuskan kedalam kualitas insan cita yakni dalam pribadi yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan sebagai amal saleh.

  1. Landasan Historis

Secara sosiologis dan historis, kelahiran HMI tidak terlepas dari permasalahan bangsa yang didalamnya mencakup uat Islam sebagai satu kesatuan dinamis dari bangsa Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaan yang baru diplokamirkan. Kenyataan itu merupakan motivasi kelahiran HMI yang dituangkan dalam rumusan berdirinya HMI yaitu : pertama. mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan syair agama Islam. Ini menunjukkan bahwa HMI bertanggung jawab terhadap permasalahan bangsa dan negara Indonesia serta bertekad mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan manusia secara utuh. Makna rumusan tujuan itu akhirnya membentuk wawasan dan langkah perjuangan HMI kedepan yang terintegrasi dalam dua aspek ke-Islaman dan aspek ke-bangsaan. Aspek ke-islaman tercermin melalui komitmen HMI untuk selalu mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan berbangsa sebagai pertanggungjawaban fungsi kekhalifahan manusia, sedangkan aspek kebangsaan adalah komitmen HMI untuk senantiasa bersama-sama seluruh rakyat Indonesia merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia demi terwujudnya cita-cita masyarakat yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkeadaban. Dalam sejarah perjalanan HMI pelaksanaan komitmen ke-Islaman dan kebangsaan merupakan garis perjuangan dan misi HMI yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian HMI dalam totalitas perjuangan bangsa Indonesia kedepan.

Melihat komitmen HMI pada wawasan sosiologis dan historis berdirinya pada tahun 1947 tersebut, yang juga telah dibuktikan dalam sejarah perkembangnnya, maka pada hakikatnya segala bentuk pembinaan kader HMI harus pula tetap diarahkan dalam rangka pembentukan pribadi kader yang sadar akan keberadaannya sebagai pribadi muslim, khalifah dimuka bumi dan pada saat yang sama kader tersebut harus menyadari pula keberadannya sebagai kader bangsa Indonesia yang bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita bangsa ke depan.

  1. Landasan Sosio-Kultural

Islam yang masuk di kepulauan Nusantara telah berhasil merubah kultur masyarakat di daerah senrtal ekonomi dan politik menjadi kultur Islam. Keberhasilan Islam yang secara dramatik telah berhasil menguasi hampir seluruh kepulauan nusantara, tentunya hal tersebut disebabkan oleh karena agama Islam memiliki nilai-nilai universal yang tidak mengenal batas-batas sosio-kultural, geografis dan etnis manusia. Sifat Islam ini termanifestasikan dalam cara penyebaran Islam oleh para pedagang dan para wali dengan pendekatan sosio-kultural yang cukup persuasif.

Masuknya Islam secara damai (penetration pacifique) tersebut berhasil mendamaikan kultur Islam dengan kultur masyarakat nusantara. Dalam proses sejarahnya, budaya sinkretisme penduduk pribumi ataupun masyarakat, ekonomi dan politik yang didominasi oleh kultur tradisional, feodalisme, hinduisme dan budhaisme mampu dijinakkan dengan pendekatan Islam kultural ini. Pada perkembangan selanjutnya Islam mengindonesiakan dan secara tidak langsung telah mempengaruhi kultur Indonesia yang dari waktu ke waktu semakin modern.

Karena mayoritas bangsa Indonesia adalah beragama Islam, maka kultur Islam telah menjadi realitas sekaligus memperoleh legitimasi sosial dari bangsa Indonesia yang pluralistik. Dengan demikian wacana kebangsaan di seluruh aspek kehidupan ekonomi, politik, dan sosial budaya Indonesia meniscayakan transformasi total nilai nilai universal Islam menuju cita cita mewujudkan peradaban Islam. Nilai nilai Islam itu semakin mendapat tantangan ketika deras arus globalisasi telah menyeret umat manusia pada perilaku pragmatisme, permissivisme dibidang ekonomi dan politik. Sisi negatif dari globalisasi ini disebabkan oleh percepatan perkembangan sains dan teknologi modern dan tidak diimbangi dengan nilai nilai etik dan moral.

Konsekuensi dari realitas di atas adalah semakin kaburnya batas batas bangsa, sehingga cenderung menghilangkan nilai nilai kultural yang menjadi suatu ciri khas dari suatu negara yang penuh dengan pluralisme budaya masyarakat. Di sisi lain teknologi menghadirkan ketidakpastian psikologis umat manusia, sehingga kejenuhan manusia primordialnya. Dari sini nilai nilai ideologi, moral dan agama yang tadinya kering kerontang kembali menempati posisi kunci dalam ide dan konsesi komunitas global. Dua sisi ambigu globalisasi ini adalah tampilan dari sebuah dunia yang penuh paradoks.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka Himpunan Mahasiswa Islam sebagai bagian integral ummat Islam dan bangsa Indonesia (kader umat dan kader bangsa) sudah semestinya untuk menyiasiati perkembangan dan kecenderungan global tersebut dalam bingkai perkaderan HMI yang integralistik. Dalam hal ini untuk menyiasiati perkembangan global tersebut harus berdasarkan kepada perkembangan komitmen pada nilai nilai antropologis, sosiologis ummat Islam dan bangsa Indonesia sebagai wujud dari pernahaman HMI akan nilai nilai kosmopolotanisme dan universalisme Islam.

C.3 Upaya Pembentukan Insan Kamil berkualitas insan cita

Dalam pedoman perkaderan HMI yang dijelaskan dalam konstitusi HMI menjelaskan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam menentukan input rekrutmen calon anggota, yaitu : 1) input kader yang memiliki integritas pribadi, 2) bersedia melakukan peningkatan dan pengembangan diri secara berkelanjutan, 3) memiliki orientasi kepada prestasi yang tinggi dan potensi leadership serta memiliki komitmen untuk aktif dalam memajukan organisasi.

Dengan input yang mempunyai karakter di atas, diharapkan mampu berproses dalam perkaderan di HMI, sehingga menghasilkan output yang berkualitas dan kemudian mampu mengaplikasikan tugas dan perannya sebagai khalifah fil ard.[18]

Proses Perkaderan

Proses perkaderan di HMI melalui berbagai tahap. Ada tahap formal maupun tahap informal yang mampu mencetak manusia yang progresif.

Training Formal

Training formal adalah training berjenjang yang diikuti oleh anggota dan setiap jenjang merupakan prasyarat untuk mengikuti jenjang berikutnya. Dalam training formal HMI terdiri dari 3 training, yaitu Latihan kader I (basic training) bertujuan “ terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan funsi dan perannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa”, Latihan kader II (Intermediate Training) bertujuan “ terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengembangkan misi HMI”, Latihan Kader III (Advance Training) bertujuan untuk “terbinanya kade rpemimpin yang mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial..

Training In-Formal

Training informal adalah training yang dilakukan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan profesionalisame kepemimpinan serta keorganisasian anggota. Training ini terdiri dari PUSIDIKLAT Pimpinan HMI, Senior Course, Latihan khusus kohati, Up-Grading kepengurusan, Training senior course Up-grading kepengurusan, Up-grading kesekretariatan, pelatihan kekaryaan. Training ini bertujuan “terbinanya kader yang memiliki skill dan profesionalisme dalam bidang manajerial, keinstrukturan, keorganisasia, kepemimpinan dan kewirausahaan dan profesionalisme lainnya”

Selain itu kultur kehidupan di HMI, khususnya komisariat adalah adanya kajian-kajian diskusi, diskusi informal, forum-forum ilmiah dan kegiatan lainnya yang membangun wacana kritis bagi kader

Tujuan training formal maupun informal ini bertujuan mewujudkan cita-cita organisasi[19]sehingga dalam proses perkaderan menghasilkan output yang berkualitas insan cita yang mampu mengemban misi bangsa Indonesia[20]

C.3 Menggagas pendidikan non formal HMI dalam mencetak kader penerus dalam membangun bangsa.

HMI sebagai Second Campus yang menerapkan sistem pendidikan informal diluar kurikulum lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi. Tuntutan HMI sebgai mesin pencetak manusia berkualitas sudah menjadi tugas moral yang harus dilaksanakan HMI. Kultur yang dibangun HMI adalah kultur intelektual, dimana kultur ini menjadi budaya yang akan menjadi kebiasaan kader yang tidak didapatkan di kelas-kelas perkuliahan.

Mengagas pendidikan non formal menjadi upaya HMI dalam menghadapi realita sistem yang menjadi tuntutan setiap insan di Indonesia agar tidak terlena oleh sistem yang ada saat ini.

HMI, sebagai sebuah organisasi Mahasiswa Islam yang bersentuhan langsung dengan pergurua tinggi, sesungguhnya dapat berperan langsung membina sebuah kuliah nonformal. Pada Undang-Undang RI no.20 tahun 2003 Tentang Sitem Pendidikan Nasional, Bab VI, Pasal 13 ayat satu (1) disebutkan : Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pada ayat dua (2) disebutkan : Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka dan atau melalui jarak jauh.

Berdasarkan bunyi Undang Undang tersebut dapat diambil pengertian bahwa masyarakat dapat turut serta melaksanakan pendidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Pendidikan non formal dapat dilaksanakan oleh sebuah lembaga untuk melengkapi pendidkan formal yang sudah tersedia.

Dengan landasan seperti dijelaskan diatas, HMI dapat berperan sebagai bagian dari tenagga pendidikan dalam kuliah semacam ini dimana persoalan administrasi, pelaksanaan, dan pengawasan perkuliahan dilakukan.

Ada tujuh materi pokok yang merupakan kunci mengenai hakikat dan tujuan ilmu menurut pandangan islam dan menunjukkan hakikat asasi akan kesinambungan kesalingtergantungan antara konsep yangg satyu dengan yang lain yang dirumuskan oleh Syed Naquib al-Attas (kosasih :2010). Konsep itu adalah :

  1. Konsep Agama (Din al-Islami)
  2. Konsep manusia (al-insan)
  3. Konsep ilmu (al-ilm dan al-ma’rifat)
  4. Konsep kebijaksanaan (al-hikmah)
  5. Konsep keadilan (al-adl)
  6. Konsep perbuatan benar (amal sebagai adab)
  7. Konsep universitas

Secara praktis, yang pertama adalah mengenai tujuan mencari ilmu dan keterlibatan dalam proses pendidikam; yang kedua mengenai ruang lingkupnya; yang ketiga mengenai kandungan; yang keempat mengenai kriteria dalam hubungannya dengan yang ketiga; yang kelima mengenai pengaturannya dalam hubungannya dengan yang keempat; yang keenam mengenai kaidah (method) dalam hubungannya yangpertama hingga yang kelima; yung ketujuh mengenai bentuk pelaksanaan dalam hubungannya dengan semua yang terdahulu.[21]

Tujuh konsep tersebut akan disesuaikan dengan keperluan dan kondisi masing-masing lembaga. Kuliah nonformal semacam ini, dapat menjadi sebuah pola yang baku yang dapat dilakukan HMI disetiap kampus. Bahkan sangat memungkinkan untuk dilaksanakan secara profesional. Program ini ialah bentuk program nyata yang dapat dirasakan langsung oleh mahasiswa islam disetiap kampus. Peningkatan kualitas keagamaan mahasiswa tentu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas bangsa. Jika banyak mahasiswa memiliki kualitas spiritual yang memadai, pada masa yang akan datang, kualitas peradaban Indonesiapun akan semakin baik.

  1. Aktualisasi dan Peran HMI di Masa Mendatang

Sejak awal HMI hadir telah memprokalimrkan sebagai organisasi perjuangan dan organisasi perkaderan yang berwajah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Oleh karena itu HMI tidak lepas dari perannya sebagai pondasi-pondasi yang kokoh dalam pembangunan bangsa. Hal tersebut akan menjadi konsistensi bahwa HMI menjadi tulang punggung bangsa.

Dari masa ke masa HMI sukses menciptakan mahasiswa yang progresif dan kritis serta telah melahirkan tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan seperti Anis Baswedan yang sukses dibidang akademiknya, Akbar Tanjung dibidang politik. Tokoh-tokoh intelektual ini yang menjadi penopang pembangunan bangsa melalui pemikiran-pemikirannya maupun perannya sebagai insan kamil. Dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan ini yang melahirkan eksistensi HMI sehingga sampai saat ini HMI masih dikenang.

Perkaderan HMI merupakan strategi besar perjuangan HMI sebagai organisasi perkaderan dan organisasi perjuangan dalam menjawad tantangan zaman. Lantas, apa peran HMI dimasa mendatang ? HMI memiliki peran strategis dalam upaya membangun dan menyiapkan sumber daya yang berkualitas di abad 21 ini. Peran tersebut peran yang telah dimiliki perguruan tinggi, tidak lepas dari peran kemahasiswaannya. Oleh sebab itu aktualisasi dan prean HMI dimasa mendatang sebagai upaya HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Melahirkan Kader Berkualitas Insan Cita dengan memperkuat basis kelompok intelektual

Sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI menjadi wadah pembelajaran diluar kurikulum perguruan tinggi terutama yang sudah tidak bisa bisa dijadikan wadah penampung kreatifitas dan inovatif mahasiswa. Agar menghasilkan kader kualitas insan cita, HMI harus menjaga bangunan intelektual yang telah dikokohkan

HMI Sebagai lembaga pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, diharapkan HMI dapat memberi kontribusi besar terhadap proses pematangan mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terpelajar. Dengan proses pembelajaran yang akan melahirkan manusia-manusia unggul masa depan. Yaitu manusia-manusia yang cerdas, terampil, memiliki etos kerja tinggi, semangat dan daya juang yang bergelora, sehingga siap dan mampu menyongsong kehidupan kompetitif global dan menciptakan msayarakat madani.

  1. Menguatkan pondasi nasionalisme dengan memperkukuh wawasan kebangsaan

HMI adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Kebangsaan sebagai alat gerak HMI dalam melakukan perjuangan. Oleh karena itu HMI dituntut untuk mengenal bangsanya agar dapat berjuang dijalan yang benar sehingga perjuangan HMI tidak hanya untuk kepentingan HMI belaka, melainkan kepentingan ummat.

  1. Menggiatkan program pengabdian masyarakat

HMI sebagai organisasi perkaderan yang dibina secara terus menerus untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, adil makmur sehingga realisasi untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pengabdian masyarakat.

  1. Penguasaan IPTEK

Meski HMI dilahirkan sebagai organisasi pergerakan dan perkaderan ini tidak lepas dari peran HMI dalam menjawab tantangan di zaman mendatang. Di eramondial saat ini IPTEK sangat dibutuhkan disegala bidang. HMI harus bisa mengikuti arus perkembangan zaman sehingga mampu memanfaatkan informasi-informasi sebagai bahan rujukan dalam mengaplikasikan peran HMI.

  1. Memperkuat Basis Kepemimpinan

HMI sebagai wadah strategis dalam pembentukan karakter kepemimpinan. HMI sebagai organisasi kader terbesar di Indonesia telah menyumbangkan banyak kadernya dalam estafet kepemimpinan nasional Indonesia dari tahun ke tahun. Nama-nama kader HMI dewasa ini menghiasi jajaran kepemimpinan nasional Indonesia seperti Laode M. Kamaluddin, Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, Anis Baswedan, Mahfud MD, Mulyaman Hadad, Marwah Daud, Ida Nasution, Lena Maryana, Marzuki Ali, Wa Ode Ida, dll.

Bangsa Indonesia membutuhkan kader-kader tangguh seperti tokoh-tokoh intelektual yang sudah menjajaki kehidupan kepemimpinan yang sesungguhnya di kepemimpinan nasional. Demi terjaganya kualitas kader, HMI memandang perlu selalu adanya peningkatan-peningkatan kekuatan karakter kepemimpinan sehingga mampu menjadi estafet kepemimpinan nasional.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Pembangunan merupakan hal yang paling pokok bagi suatu bangsa. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu mensejahterakan kehidupan bangsa. Sesuai yang dirumuskan dalam Pembukaan Undang Undang 1945 bahwa Indonesia mempunyai cita-cita dalam mensejahterkan kehidupan bangsa yang berdaulat, adil dan makmur serta memiliki tujuan yang masih termaktub dalam UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka hal yang paling pokok untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan tersebut adalah memperkokoh pembangunan bangsa.
  3. Dalam membangun bangsa, diperlukannya penguatan penguatan pondasi pembangunan. Pondasi pembangunan ini adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui pendidikan. Faktanya sistem pendidikan nasional saat ini tidak menghasilkan manusia manusia tangguh yang siap menjadi tulang punggung pembangunan bangsa. Yang ada hanyalah membesarkan keprofesian dirinya yang mengakibatkan terjadinya ketimpangan sosial yang berdampak pada ketidak sejahteraan masyarakat.
  4. Pendidikan dalam kacamata Islam adalah pendidikan yang menanamkan nilai-nilai karakter manusia sebagai insan dibuma bumi yang bermanfaat bagi orang lain yang bersumber pada Alqur’an dan As-Sunnah. Azas Islam lah yang digunakan HMI sebagai sumber dalam menjalankan Proses di HMI.
  5. Ketika pendidikan formal sudah tidak dapat dijadikan panduan lagi, HMI hadir di tengah masyarakat Indonesia, sebagai organisasi perkaderan yang berwajah Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan. Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan sebagai pedoman perjuangan HMI, perkaderan sebagai upaya HMI dalam menciptakan manusia tangguh yang ikut berperan aktif atau berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Sistem pendidikan Islam pun telah sedikit banyak diadopsi oleh Sistem perkaderan HMI. Dalam sistem perkaderan HMI yang ditanamkan pula kepada kader adalah karakter yang berkualitas insan cita. Dimana kader-kader tersebut adalah kader penerus bangsa yang akan menjadi penyokong pondasi pembangunan bangsa.
  6. HMI tidak hanya sampai pada perjuangan dan pergerakan dimasa lalu ataupun saat ini, tetapi hadir di masa yang akan datang pula. Oleh karena itu HMI perlu adanya aktualisasi sebagai peran HMI dimasa mendatang. Peran strategis HMI di masa mendatang antara lain, memperkuat basis kelompok intelektual, memperkukuh wawasan kebangsaan, menggiatkan program pengabdian masyarakat, penguasaan IPTEK serta memperkuat basis kepemimpinan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Karim, Muhammad. 2009. Pendidikan Kritis Transformatif. Yogyakarta : Ar-Ruzz.

Kartono, kartini. 1997. Tinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nasional,       Beberapa kritik dan Sugesti. Jakarta : Pradnya paramita.

Kokasih, Aulia dkk. 2010.Dari HMI untuk Bangsa. Jakarta: Adaide Publishing

Sitompul, Agus Salim. 2008. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Jakarta : Misaka Galiza.

Sitompul, Agus Salim. 2008. Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975). Jakarta : Misaka Galiza.

Sitompul, Agus Salim. 1997. HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik. Yogyakarta : Aditya Media.

Widodo, Sembodo Ardi.2007. Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam. Jakarta : Nimas Multima

Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta : Bigraf Publishing

[1] Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, yogyakarta : Bigraf Publishing, 2000, hal : 2

[2] Muhammad karim, Pendidikan Kritis Transformatif, Yogyakarta: Ar-Ruzz media, 2009, hal :20

[3] Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta : Bigraf Publishing, 2000, hal : 2

[4]Ibid, hal :87

[5] Aulia Kosasih, Dari HMI untuk Bangsa, : Adaide Publishing, 2010, hal : 9

[6] Ibid, hal : 10

[7] Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: PT Nimas Multima, 2007, hal : 94-95

[8] Aulia Kosasih, Dari HMI untuk Bangsa, Jakarta: Adaide Publishing, 2010, hal : 11

[9] Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: PT Nimas Multima, 2007, hal : 131

[10] Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: PT Nimas Multima, 2007, hal : 174

[11] Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: PT Nimas Multima, 2007, hal : 177

[12] Mempertahankan kemerdekaan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia dari intervensi kolonialisme internasional : Modul LK1 Cab.Sukoharjo hal.13

[13] Agus Salim Sitompul, Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975), Jakarta : Misaka Galiza, 2008, hal:

[14] Tujuan Indonesia : “Mlindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia” dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4

[15] Modul LK1 Cab Sukoharjo, hal 67

[16] Agus Salim Sitompul, HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik, Yogyakarta : Aditya Media, 1997, hal: 305

[17] Hasil-hasil Kongres XXVII-Depok 2010

[18] Q.S Albaqarah : 30

[19] Tujan HMI : Terbinanya insan akademis, pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab tas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” : pasal 4 AD HMI

[20] Pembukaan UUD 1945 alenia 4

[21] Aulia Kosasih, Dari HMI untuk Bangsa, Jakarta: Adaide Publishing, 2010, hal : 36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s