Menarik Gagasan Lenin Dan Mao Zedong Dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat Di Nusantara

Posted: Oktober 3, 2014 in Makalah Intermediate Tranning (Lk II)
Tag:
Rayinda Dwi Prayogi (Sekretaris Umum Kom. Ahmad Dahlan I)

Rayinda Dwi Prayogi (Sekretaris Umum Kom. Ahmad Dahlan I)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat illahi rabbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tersusunlah Makalah dengan berjudul “Menarik Gagasan Lenin dan Mao Dalam Membangun Kesejahteraan Masyarakat Di Nusantara” sebagai syarat mengikuti Intermediate Basic Training (Latihan Kader 2) yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Purwokerto.

Sholawat serta salam tak lupa senantiasa tercurahkan kepada Junjungan Nabi besar Muhammad SAW, pelopor dari segala peloppor, yang luar biasa dalam hal kebaikan, kasih sayang, pembebasan dari belenggu kekafiran dan kemunafikan, serta keberhasilan perjuangannya menghantarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang sungguh merupakan rahmat Allah SWT yang tiada kemuliaan serupa.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Kanda-Kanda HMI komisariat Ahmad Dahlan I Cabang Sukoharjo yang telah membimbing dan membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga dapat terselesaikan makalah ini dengan lancar dan baik.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sehingga penulis dapat menambah grade pengetahuan dan kemampuan penulis.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin

Surakarta, 09 Oktober 2013

Rayinda Dwi Prayogi

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………….. 1

  1. Latar belakang………………………………………………………………………………. 1
  2. Identifikasi masalah………………………………………………………………………. 3
  3. Rumusan masalah………………………………………………………………………….. 3
  4. Tujuan penulisan……………………………………………………………………………. 3

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………. 4

  1. Biografi Lenin dan Mao Zedong…………………………………………………….. 4
  2. Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin (1870-1924)…………..……4
  3. Mao Zedong (26 Desember 1893 – 9 September, 1976)………….5
  4. Gagasan Lenin dan Mao Zedong dalam pengorganisasian masyarakat…6
  5. Gagasan Lenin…………………………………………………….6
  6. Gagasan Mao Zedong……………………………………………..10
  7. Keadaan Masyarakat di Nusantara………………………………………………….. 11
  8. Peran Kader HMI dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat

di Nusantara……………………………………………………………………..13

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………… 16

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………… 16

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………. 18

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dewasa ini, sedang terjadi keterlambatan laju pertumbuhan ekonomi di Nusantara, dimana hal tersebut dapat menghambat terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Beberapa permasalahan ekonomi tersebut disebabkan karena rendahnya pertumbuhan ekonomi, terjadi kesenjangan penghasilan antar masyarakat dan semakin tersebar luasnya kemiskinan dalam Negri ini.

Terjadi kesenjangan penghasilan antara masyarakat satu dengan lainya dikarenakan belum adanya sistem pemerataan ekonomi secara menyeluruh atau sistem yang non-kapitalis, dimana kesejahteraan dan kemakmuran tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat secara menyeluruh.

Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan salah satu indikasi yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan negara. Pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dilihat melalui tingkat produksi barang dan jasa yang dapat dihasilkan selama satu periode tertentu. Lalu kemudian apakah Negara ini masih menganut faham ekonomi sosialis-libelaris? Atau mungkin kapitalis?

Melihat sosok Lenin dan Mao Zedong yang merupakan tokoh revolusioner terkemuka pada abad ke-19, yang mana dua tokoh tersebut berhasil melakukan gerakan revolusi di negaranya masing-masing dengan merubah sistem yang ada di dalamnya.

Mao Zedong seorang revolusioner China, teoretikus politik dan pemimpin komunis. Dia memimpin Republik Rakyat Cina (RRC) dari berdirinya tahun 1949 sampai kematiannya pada tahun 1976. Kontribusi teoritis Nya untuk Marxisme-Leninisme, strategi militer, dan merek kebijakan Komunis sekarang kolektif dikenal sebagai Maoisme.

Mao tetap menjadi tokoh kontroversial sampai hari ini, dengan warisan bertengkar dan terus berkembang. Dia secara resmi diadakan dalam hal tinggi di Cina sebagai revolusioner yang besar, strategi politik, dalang militer, dan penyelamat bangsa. Cina Banyak juga yang percaya bahwa melalui kebijakan-kebijakan, ia meletakkan dasar-dasar ekonomi, teknologi dan budaya China modern, mengubah negara dari masyarakat agraris menjadi kekuatan utama dunia. Selain itu, Mao dipandang sebagai seorang filsuf, penyair, dan visioner, karena yang terakhir terutama kultus kepribadian dipupuk selama masa kekuasaannya

Pada tahun 1911, Mao Zedong terlibat dalam Revolusi Xinhai yang merupakan revolusi melawan Dinasti Qing yang berakibat kepada runtuhnya kekaisaran Cina yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun sejak tahun 221 SM. Tahun 1912, Republik Cina diproklamasikan oleh Sun Yat-sen dan Cina dengan resmi masuk ke zaman republic.

Lenin, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang pekerja keras dan tekun. Ia juga seorang pemimpin politik yang paling bertanggung jawab terhadap berdirinya Komunisme di Rusia. Sebagai penganut Karl Marx yang gigih dan setia, Lenin meletakkan dasar politik yang hanya bisa dibayangkan oleh Karl Marx seorang. Begitu cepatnya Lenin menyebar Komunisme ke seluruh penjuru dunia, dia mesti diakui sebagai salah seorang yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk tujuan-tujuan revolusi, dan meskipun dia mencintai keluarganya, dia tak mau pekerjaannya terganggu. Ironisnya, biar dia menghabiskan sepenuh umurnya dalam percobaan melenyapkan penindasan, hasil yang dicapainya dari perjuangan adalah penghancuran semua segi kebebasan pribadi

Sebagai bangsa Indonesia, mahasiswa dan sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam memandang bahwasanya hak itu tidak terlepas dari kewajiban, maka manusia Indonesia baik sebagai warga negara maupun sebagai warga masyarakat, mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Hak dan kewajiban dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu kesatuan tiap hak mengandung kewajiaban dan demikian sebaliknya, kedua-duanya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Negara kepulauan Indonesia di dasarkan atas paham negara kesatuan, menempatkan kewajian di muka sehingga kepentingan umum atau masyarakat, bangsa dan negara harus didahulukan dari kepentingan pribadi dan golongan.

  1. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan tema yang diangkat “Menarik Gagasan Lenin Dan Mao Zedong Dalam Membangun Kesejateraan Masyarakat Di Nusantara”, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Biografi Lenin dan Mao Zedong.
  2. Gagasan Lenin dan Mao dalam pengorganisasian masyarakat.
  3. Kondisi masyarakat di Nusantara
  4. Peran Kader HMI dalam membangun kesejahteraan di Nusantara

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diperoleh rumusan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah Biografi Lenin dan Mao Zedong?
  2. Bagaimanakah Gagasan Lenin dan Mao dalam pengorganisasian masyarakat?
  3. Bagaimanakah keadaan masyarakat di Nusantara?
  4. Bagaimanakah Peran Kader HMI dalam membangun kesejahteraan di Nusantara?

 

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui Biografi Lenin dan Mao Zedong
  2. Mengetahui Gagasan Lenin dan Mao dalam pengorganisasian masyarakat
  3. Mengetahui keadaan masyarakat di Nusantara
  4. Mengetahui Peran Kader HMI dalam membangun kesejahteraan di Nusantara.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Biografi Lenin dan Mao Zedong
  2. Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin (1870-1924)

Vladimir Lenin, lahir di Simbirsk, Kekaisaran Rusia, 22 April 1870, dikenal sebagai revolusioner komunis Rusia, pemimpin partai Bolshevik, perdana menteri pertama Uni Soviet, kepala negara pertama Uni Soviet secara de facto, dan penggagas Leninisme. Nama Lenin sebenarnya adalah sebuah nama samaran dan diambil dari nama Sungai Lena di Siberia. Lenin memiliki nama asli Vladimir Ilyich Ulyanov.

Vladimir Ilyich Ulyanov lahir sebagai putra dari Ilya Nikolaevich Ulyanov (1831 – 1924), seorang pegawai negeri Rusia yang berjuang untuk meningkatkan demokrasi dan pendidikan bebas untuk semua orang di Rusia, beristrikan Maria Alexandrovna Blank (1835 – 1916). Orang tua Lenin adalah seorang Yahudi, sedangkan Lenin sendiri dibaptis dalam kepercayaan Gereja Ortodoks Rusia.

Lenin terkenal pandai dalam bahasa latin dan bahasa yunani. Hukuman gantung yang dijatuhkan pada kakaknya, alexander ulyanov karena turut merencanakan pembunuhan tsar alexander iii, membuat lenin menjadi radikal. Keterlibatan lenin dalam demonstrasi mahasiswa membuat ia dikeluarkan dari universitas kazan. Hal tersebut tidak menurunkan minat lenin untuk belajar. Lenin terus belajar secara otodidak dan pada tahun 1891 bisa mendapatkan izin menjadi seorang pengacara.

Ketika bekerja sebagai seorang pengacara di saint petersburg, lenin mulai mengenal karya-karya karl marx dan friedrich engels. Namun karena karya tentang marxisme dilarang di rusia, lenin pun ditangkap dan dipenjara selama setahun. Lalu ia dibuang ke siberia. Pada bulan juli 1898, saat masih di siberia, lenin menikahi seorang wanita sosialis bernama nadezhda krupskaya. Saat hidup dalam pengasingan, lenin menulis the development of capitalism in russia, the tasks of russian social democrats serta beberapa jurnal sosial yang lain.

Usaha lenin untuk mengadakan revolusi di rusia sempat gagal beberapa kali dan membuat lenin harus melarikan diri ke finlandia. Pada bulan oktober 1917 lenin berhasil mengadakan revolusi oktober dan membuat karensky, perdana menteri rusia, terpaksa melarikan diri. Pada tanggal 30 agustus 1918, lenin ditembak oleh fanya kaplan, seorang wanita revolusioner pula, sebanyak tiga kali. Kaplan menganggap lenin telah mengkhianati revolusi rusia. Lenin bisa selamat tetapi kesehatannya mulai menurun dan tak pernah pulih kembali. Akhirnya, ia meninggal dunia pada tanggal 21 januari 1924 setelah terkena stroke. (William Ebenstein,Edwin Fogelman, Alex Jemadu: 1994)

 

  1. Mao Zedong (26 Desember 1893 – 9 September, 1976)

Lahir di sebuah keluarga petani miskin, sejak kecil Mao harus bekerja keras dan hidup prihatin. Meskipun di kemudian hari keadaan ekonomi keluarganya meningkat, tetapi kesengsaraan di masa kecil itu banyak memengaruhi kehidupannya kelak.

Ketika kecil, Mao dikirim untuk belajar di sekolah dasar. Pendidikannya sewaktu kecil juga mencakup ajaran-ajaran klasik Konfusianisme. Tetapi pada usia 13 tahun, ayahnya menyuruhnya berhenti bersekolah dan menyuruhnya bekerja di ladang-ladang. Mao memberontak dan bertekad ingin menyelesaikan pendidikannya sehingga ia nekat kabur dari rumah dan melanjutkan pendidikannya di tempat lain. Pada tahun 1905, ia mengikuti ujian negara yang pada saat itu mulai menghapus paham-paham konfusianisme lama; digantikan oleh pendidikan gaya Barat. Hal ini menandakan permulaan ketidakpastian intelektual di Cina.

Pada tahun 1911, Mao terlibat dalam Revolusi Xinhai yang merupakan revolusi melawan Dinasti Qing yang berakibat kepada runtuhnya kekaisaran Cina yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun sejak tahun 221 SM. Tahun 1912, Republik Cina diproklamasikan oleh Sun Yat-sen dan Cina dengan resmi masuk ke zaman republik. Mao lalu melanjutkan sekolahnya dan mempelajari banyak hal antara lain budaya barat. Pada tahun 1918 ia lulus dan lalu kuliah di Universitas Beijing. Di sana ia akan berjumpa dengan para pendiri PKT yang berhaluan Marxis.

Partai Mao didirikan pada tahun 1921 dan Mao semakin hari semakin vokal. Antara tahun 1934 – 1935 ia memegang peran utama dan memimpin Tentara Merah Cina menjalani “Mars Panjang”. Lalu semenjak tahun 1937 ia ikut menolong memerangi Tentara Dai Nippon yang menduduki banyak wilayah Cina. Akhirnya Perang Dunia II berakhir dan perang saudara berkobar lagi. Dalam perang yang melawan kaum nasionalis ini, Mao menjadi pemimpin kaum Merah dan akhirnya ia menangkan pada tahun 1949. Pada tanggal 1 Oktober tahun 1949, Republik Rakyat Cina diproklamasikan dan pemimpin Cina nasionalis; Chiang Kai Shek melarikan diri ke Taiwan.

Mao sebenarnya bukan seorang filsuf yang orisinil. Gagasan-gagasannya berdasarkan bapak-bapak sosialisme lainnya seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin. Tetapi ia banyak berpikir tentang materialisme dialektik yang menjadi dasar sosialisme dan penerapan gagasan-gagasan ini dalam praktek seperti dikerjakan Mao bisa dikatakan orisinil. Mao bisa pula dikatakan seorang filsuf Cina yang pengaruhnya paling besar dalam Abad ke 20 ini. 

Diperkirakan jutaan manusia tewas saat Mao berkuasa. Sistem pemerintahan yang berpusat kepada dirinya, membuat Mao menjadi diktator seumur hidup. Cina mulai berubah justru setelah Mao Zedong meninggal. (RizalSukma: 1995)

  1. Gagasan Lenin dan Mao Zedong dalam pengorganisasian Masyarakat
  2. Gagasan lenin
Kondisi Uni Sovieet pada abad 19, membuka peluang yang besar untuk menerima pemikiran Marxisme dari di Jerman. Uni Soviet menduduki tempat teratas dalam soal buta huruf, keterbelakangan ekonomi, obskutantisme agama, penindasan terhadap kelompok minoritas, despotisme politik dan ketimpangan sosial. Gagasan Marx dengan bungkusan ilmiahnya mengenai pembebasan manusia dari keadaan tertindas dengan aksi revolusioner memang menjadi magnit kuat dikalangan kelompok radikal.Bahka Das Kapital, karya Marx yang penting telah diterjemahkan kedalam bahasa Uni Soviet sebelum kebahasa yang lain.Lenin,merupakan diantara pengikut Marx yang secara teoritis sekaligus politikus yang cerdas dan berhasil.
Apa yang menjadi gagasan Lenin mengenai bagaimana menerapkan teori Marx dalam interpretasinya yang lebih praktis itu, benar-benar dioperasionalisasikan secara politik praktis. Pada tahun 1917, saat pemerintahan Kerensky terbentuk sebagai hasil revolusi Maret dengan memperlihatkan tanda-tanda untuk mengadakan perubahan politik seperti yang diwujudkan golongan Borjuis di Eropa Barat, Lenin dengan tegas menolaknya. Dengan semboyannya “Segala kekuasaan kepada diktator proletariat dan petani miskin,” ia memperjuangkan cita-citanya ini.Akan tetapi, revolusi 1917 berhasil, Lenin menjadikan kediktatoran proletar dan petani itu menjadi kediktatoran partai, Partai memegang posisi kunci diatas segala-galanya, bukan semata partai dari kelas proletar, melainkan lebih penekanan kepada golongan komunis, jadi bukan menjadi masalah kelas yang diutamakan, melainkan partainya. Lenin adalah tokoh komunis yang lebih merasakan kenyataan bahwa ditahun-tahun awal (setidaknya) setelah usai revolusi oktober 1917 bahwa mewujudkan masyarakat komunis,membangun struktur kenegaraan yang baru, tidaklah mudah dan tidak semudah apa yang dikonsepkan oleh Marx.Lenin menulis bahwa bila kekuasaan itu berada ditangan diktator proletar, aparat pemerintahan yang ruwet (dengan segala hierarki, pembagian dan susunan) tidak akan diperlukan. Tingkat pengetahuan akan sangat menolong dalam hal ini.
Ia juga berseberangan dengan konsep Marx yang mengatakan di beberapa negara secara politik sudah maju revolusi tidak perlu terjadi. Lenin dalam Statet and Revolution (1918), sebagai risalah politik yang terkenal menegaskan bahwa menjelang tahun 1971, “penegecualian yang dibuat oleh Marx ini tidak berlaku lagi.” Ia dalam konteks memandang negara-negara barat yang telah maju, tetapi dimata Lenin tidaklah demikian, apa yang terjadi di Inggris dan Amerika Serikat antara tahun 1872 sampai 1917 bertentangan dengan dogma Lenin. Bagi Lenin berpendirian bahwa revolusi Borjuis di Rusia akan menjelma menjadi revolusi Sosialis, ia berpendirian bahwa revolusi tidak terputus-putus, dari brosurnya “Dua Taktik” (1905) dan dari artikelnya yang terkenal: “Sikap Sosial Demokrat terhadap Gerakan Tani” dalam tahun 1905, dengan tegas mengatakan bahwa kita menyetujui revolusi yang tidak terputus-putus dan kita tidak akan berhenti ditengah jalan.
Sumbangan yang terpenting dari Lenin dengan karyanya What Is to Be Done (1902), yang menjelaskan mengenai kaum revolusioner yang profesional. Lenin sebenarnya kurang memiiki kepercayaan kemampuan masyarakat juga kaum proletariat sekalipun. Oleh sebab itu, aktivis komunis harus dilakukan dalam lima jalur:
a)      Para buruh harus membentuk organisasi buruh, bila perlu partai komunis beroperasi secara terbuka, sesuai hukum melibatkan publik sejauh kondisi mengizinkan. Sebagai pendamping diciptakan berbagai kelompok kecil, ini yang dinamakan revolusioner profesional yang dibentuk menurut tentara dan polisi, bersifat selektif dan rahasia. Peran kelompok ini adalah membina, mengawasi semua asosiasi politik dan ekonomi yang dipimpin kaum komunis.
b)      Melakukan infiltrasi, membentuk sel-sel dalam berbagai lembaga sosial juga terhadap tentara dan polisi serta lembaga pemerintah;
c)      Harus melibatkan dalam kegiatan ilegal demikian,pula kesempatan yang legal harus digunakan semaksimal mungkin untuk selalu mengambil alih dan peran samapi kepada perebutan kekuasaan secara revolusioner
d)     Tenaga revolusioner profesional bertanggung jawab melakukan perekrutan untuk mata-mata, pelaku sabnotase dan agen untuk semua akivitas yang berhubungan dengan intelejen.Disini ada kelomok penghubung diantara kelompok komunis yang legal,kelompok inti dengan tenaga revolusioner yang profesioner. Secara ideal organisasi komunis legal dengan perangkat revolusioner profesional lembaganya terpisah.

Suatu negara demokrasi yang dibangun atas penjabaran konsep Marxisme yang dikembangkan oleh Lenin ketika membentuk negara sosialis komunisme di Uni Soviet.Dalam membangun struktur politik dan kenegaraan,pemerintahannya dikendalikan oleh segelintir orang yang memiliki kedudukan berpengaruh dan strategis (elite).Ini dikenal dengan Vanguard dalam terminologi komunis; kelompok terdidik,paling revolusioner,memiliki kesadaran kelas yang tinggi serta cita-cita komunisme berperan sebagai agen transformasi sosial dan penggerak revolusi komunis.Tanpa Vanguard cita-cita komunis merupakan konsep idealis yang tidak akan terwujud dalam kenyataan poltik.Elite itu tergabung dalam partai dinamakan sebagai politbiro.

Dalam demokrasi Marxisme-Leninisme ini memiliki ciri-ciri yang meiluputi:

  1. Negara merupakan penentu dan yang mengatur segala aspek kehidupan yang berlaku dalam masyarakat.Oleh sebab itu,yang dinamakan kebebasan baik bersifat individu,lembaga sosial,agama,ekonomi sampai kepada politik tidak ada.Demikian pula dalam soal hak pemilikan bersifat pribadi maupun kelompok dan institusi swasta dibatasi secara ketat.
  2. Dalam kegiatan ekonomi selain hak pemilikan individu,kelompok dan institusi swasta sangatlah dibatasi secara ketat, hal lain sistem ekonomi yang diberlakukan bukan berdasarkan ekonomi pasar (anti pasar; pengecualian dalam perkembangan dinegara sosialis komunis pada dewasa ini). Harga dari suatu produksi barang kita lempar kepasar,negaralah yang menentuken bukan yang melakukan transaksi ekonomi.
  3. Tidak adanya kompetisi politik yang didasarkan partisipasi politik yang tumbuh dari kekuatan kelompok masyarakat sebab partai yang dibelakukan dan diakui hanya satu yang dikenal sebagai sistem partai tunggal (single party atau one party) sistem,dan tidak berlakunya kebebasan berserikat dlama politik yang diluar partai komunis yang berlaku.Demikian pula soal kebebasan pers dan kebebasan mengemukakan pendapat merupakan barang yang asing dalam kultur kehidupan demokrasi ala Marxisme-Leninisme. Hal yang legal dalam politik hanya berlaku yang datang dari penguasa penegendali utama partai,diluar itu merupakan tindakan ilegal bahkan dianggap subversi politik.

Dapat dikatakan demokrasi Marxisme dan Leninisme itu merupakan wujud pemebentukan negara yang kuat,negara yang stabil dalam politik namun tidak ada pengakuan adanya dalam keberagaman aspirasi,bersifat mobilisasi politik baik suka rela atau tidak rela.(C. Wright Mills: 2003)

  1. Gagasan Mao Zedong

            Berbeda dengan bentuk-bentuk Marxisme-Leninisme yang lebih awal, di mana kaum proletar perkotaan dianggap sebagai sumber utama revolusi, dan daerah pedesaan pada umumnya diabaikan, Mao memusatkan perhatian pada kaum buruh-tani sebagai kekuatan revolusioner yang utama, yang, menurutnya, dapat dipimpin oleh kaum proletari dan pengawalnya, PKT. Model untuk ini adalah for perang rakyat berkepanjangan yang dilakukan oleh komunis Cina di pedesaan pada 1920-an dan 1930-an, yang akhirnya mengantarkan PKT ke tampuk kekuasaan. Lebih jauh, berbeda dengan bentuk-bentuk Marxisme-Leninisme lain di mana pembangunan industri besar-besaran dipandang sebagai suatu kekuatan positif, Maoisme menjadikan pembangunan pedesaan keseluruhan sebagai prioritasnya. Mao merasa bahwa strategi ini masuk akal di masa tahap-tahap awal sosialisme di sebuah Negara di mana kebanyakan rakyatnya adalah buruh-tani.

Berbeda dengan kebanyakan ideology politik lainnya, termasuk ideologi sosialis dan Marxis, Maoisme mengandung doktrin militer yang integral dan secara eksplisit menghubungkan ideologi politiknya dengan strategi militer. Dalam pemikiran Maois, “kekuasaan politik berasal dari moncong senapan ” (salah satu kutipan ucapan Mao), dan kaum buruh-tani dapat dimobilisasi untuk melakukan “perang rakyat” dalam perjuangan bersenjata yang melibatkan perang gerilya dalam tiga tahap.

Tahap pertama melibatkan mobilisasi dan pengorganisasian kaum buruh-tani. Tahap kedua melibatkan pembanugnan wilayah basis di pedesaan dan peningkatan koordinasi di antara organisasi-organisasi gerilya. Tahap ketiga melibatkan transisi ke perang konvensional. Doktrin militer Maois menyamakan pejuang gerilya dengan ikan yang berenang di sebuah lautan yang penuh dengan buruh tani, yang memberikan dukungan logistik.

Maoisme menekankan “mobilisasi massa yang revolusioner ” (secara fisik memobilisasi sebagian besar penduduk dalam perjuangan demi sosialisme), konsep tentang Demokrasi Baru, dan Teori Angkatan Produktif sebagaimana yang diterapkan dalam industri-industri tingkat desa yang tidak tergantung dengan dunia luar (lihat Lompatan Jauh ke Depan). Dalam Maoisme, pengorganisasin yang cermat atas kekuatan militer dan ekonomi yang besar adalah perlu untuk mempertahankan wilayah revolusi dari ancaman luar, sementara sentralisasi menjaga agar korupsi dapat terus diawasi, di tengah-tengah kontrol yang kuat, dan kadang-kadang perubahan, melalui kaum revolusioner di ranah seni dan ilmu pengetahuan.(Rizal Sukma: 1995)

  1. Kondisi kemasyarakatan di Nusantara

           Pasca kemerdekaan, kapitalisme di Indonesia kian berkembang dengan masuknya perusahaan-perusahaan raksasa bangsa Barat untuk berinvestasi, seperti PT. Freeport misalnya. PT. Freeport membawa banyak sekali peralatan-peralatan modern untuk industri pertambangan emas di Irian Jaya. Setelah itu, perusahaan-perusahaan asing semakin gencar berebut melakukan investasi di Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya perusahaan-perusahaan asing berebut untuk berinvestasi dan membuka cabang pabriknya di Indonesia adalah lantaran biaya pekerja di Indonesia tergolong rendah bila dibandingkan dengan biaya pekerja dan buruh di negara-negara lain.

Kapitalisme pada dasarnya merupakan sistem yang kemudian seakan membuat jurang pemisah antara kota dan desa. Semakin maju sistem kapitalisme di sebuah negara, maka jumlah penduduk desa di negara tersebut akan semakin sedikit sementara jumlah penduduk kotanya semakin banyak. Kapitalisme membuat kota-kota sebagai pusat produksi kemudian terlihat seakan lebih menjajikan, sehingga masyarakat pedesaan kemudian berbondong-bondong datang ke kota dengan harapan akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Tan Malaka (2008) mengatakan bahwa sesungguhnya kapitalisme di Indonesia mengalami penyimpangan. Kota-kota di Indonesia bukan menjadi pusat ekonomi seperti yang seharusnya terjadi di negara-negara dengan sistem kapitalis, sebaliknya kota-kota di Indonesia menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk bangsa asing (Malaka 2008). 

Kolonialisme di Indonesia dilakukan selama lebih dari 300 tahun. Belanda khususnya, telah merasuki kehidupan masyrakat Indonesia jauh kedalam. Walaupun kita telah lebih dari 60 tahun merdeka, namun sesungguhnya tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh kolonialisme terhadap sistem kapitalisme di Indonesia sangat besar. Teknologi dalam dunia industri, hampir sebagian besar dibawa oleh bangsa asing. 

Menurut penulis, perkembangan sistem kapitalisme di Indonesia merupakan hasil campur tangan bangsa Barat, khususnya negara-negara penjajah seperti Belanda dan Inggris. Mereka melakukan penjajahan dan pada saat yang bersamaan membawa peradaban bagi Indonesia. Menurut penulis, hingga hari ini, masih terdapat banyak sekali hal yang perlu dikembangkan dan diubah terkait dengan terus berkembangnya kapitalisme di Indonesia. Masyarakat Indonesia sendiri perlu terus mengembangkan diri agar dengan demikian, Indonesia tidak kemudian tertinggal dan menjadi penggembira saja dalam sistem kapitalis dunia. Sebaliknya, agar dengan demikian Indonesia dapat menjadi partisipan yang sesungguhnya, yang memajukan bangsanya seperti yang terjadi pada negara-negara Barat. 

 

  1. Peran Kader HMI dalam membangun kesejahteraan masyarakat di Nusantara

Sejak awal HMI hadir telah memprokalimrkan sebagai organisasi perjuangan dan organisasi perkaderan yang berwajah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Oleh karena itu HMI tidak lepas dari perannya sebagai pondasi-pondasi yang kokoh dalam pembangunan bangsa. Hal tersebut akan menjadi konsistensi bahwa HMI menjadi tulang punggung bangsa.

Dari masa ke masa HMI sukses menciptakan mahasiswa yang progresif dan kritis serta telah melahirkan tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan seperti Anis Baswedan yang sukses dibidang akademiknya, Akbar Tanjung dibidang politik. Tokoh-tokoh intelektual ini yang menjadi penopang pembangunan bangsa melalui pemikiran-pemikirannya maupun perannya sebagai insan kamil. Dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan ini yang melahirkan eksistensi HMI sehingga sampai saat ini HMI masih dikenang. (sitompul, Agus Salim: 2008)

Perkaderan HMI merupakan strategi besar perjuangan HMI sebagai organisasi perkaderan dan organisasi perjuangan dalam menjawad tantangan zaman. Lantas, apa peran HMI dimasa mendatang ? HMI memiliki peran strategis dalam upaya membangun dan menyiapkan sumber daya yang berkualitas di abad 21 ini. Peran tersebut peran yang telah dimiliki perguruan tinggi, tidak lepas dari peran kemahasiswaannya. Oleh sebab itu aktualisasi dan prean HMI dimasa mendatang sebagai upaya HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Melahirkan Kader Berkualitas Insan Cita dengan memperkuat basis kelompok intelektual

                        Sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI menjadi wadah pembelajaran diluar kurikulum perguruan tinggi terutama yang sudah tidak bisa bisa dijadikan wadah penampung kreatifitas dan inovatif mahasiswa. Agar menghasilkan kader kualitas insan cita, HMI harus menjaga bangunan intelektual yang telah dikokohkan

                        HMI Sebagai lembaga pembelajaran di luar kurikulum akademik perguruan tinggi, diharapkan HMI dapat memberi kontribusi besar terhadap proses pematangan mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terpelajar. Dengan proses pembelajaran yang akan melahirkan manusia-manusia unggul masa depan. Yaitu manusia-manusia yang cerdas, terampil, memiliki etos kerja tinggi, semangat dan daya juang yang bergelora, sehingga siap dan mampu menyongsong kehidupan kompetitif global dan menciptakan msayarakat madani.

  1. Menguatkan pondasi nasionalisme dengan memperkukuh wawasan kebangsaan

                        HMI adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Kebangsaan sebagai alat gerak HMI dalam melakukan perjuangan. Oleh karena itu HMI dituntut untuk mengenal bangsanya agar dapat berjuang dijalan yang benar sehingga perjuangan HMI tidak hanya untuk kepentingan HMI belaka, melainkan kepentingan ummat.

  1. Menggiatkan program pengabdian masyarakat

                        HMI sebagai organisasi perkaderan yang dibina secara terus menerus untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, adil makmur sehingga realisasi untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pengabdian masyarakat.

  1. Penguasaan IPTEK

           Meski HMI dilahirkan sebagai organisasi pergerakan dan perkaderan ini tidak lepas dari peran HMI dalam menjawab tantangan di zaman mendatang. Di eramondial saat ini IPTEK sangat dibutuhkan disegala bidang. HMI harus bisa mengikuti arus perkembangan zaman sehingga mampu memanfaatkan informasi-informasi sebagai bahan rujukan dalam mengaplikasikan peran HMI.

  1. Memperkuat Basis Kepemimpinan

           HMI sebagai wadah strategis dalam pembentukan karakter kepemimpinan. HMI sebagai organisasi kader terbesar di Indonesia telah menyumbangkan banyak kadernya dalam estafet kepemimpinan nasional Indonesia dari tahun ke tahun. Nama-nama kader HMI dewasa ini menghiasi jajaran kepemimpinan nasional Indonesia seperti Laode M. Kamaluddin, Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, Anis Baswedan, Mahfud MD, Mulyaman Hadad, Marwah Daud, Ida Nasution, Lena Maryana, Marzuki Ali, Wa Ode Ida, dll.

           Bangsa Indonesia membutuhkan kader-kader tangguh seperti tokoh-tokoh intelektual yang sudah menjajaki kehidupan kepemimpinan yang sesungguhnya di kepemimpinan nasional. Demi terjaganya kualitas kader, HMI memandang perlu selalu adanya peningkatan-peningkatan kekuatan karakter kepemimpinan sehingga mampu menjadi estafet kepemimpinan nasional. (sitompul, Agus Salim: 2008)

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan salah satu indikasi yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan negara. Maka dalam menumbuh-kembangkan perekonomian di nusantara ini dibutuhkan sosok atau tokoh yang dapat membenahi atau bahkan merubah sistem-sistem yang ada dengan sistem yang baru.

Melihat sosok Lenin dan Mao Zedong yang merupakan tokoh terkemuka, sang revolusioner di negaranya masing-masing. Dimana kedua tokoh tersebut memiliki kemampuan intelektual yang tinggi sehingga mampun berfikir secara radikal dan dapat menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang terjadi dalam negrinya. Ini artinya bahwa selalu ada jalan dan harapan bagi mereka yang selalu berusaha.

Dalam nusantara ini, mahasiswa khususnya kader HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM selaku kaum akademisi, kaum intelektual dan kaum agent of change bagi kehidupan bangsa, harus sadar akan hak dan kewajibanya sebagai kader pencipta, kader perubahan dan kader pengabdi di Nusantara ini.

Secara garis besar, dua hal dibawah ini yang seharusnya segera dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh kader HMI demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat di Nusantara ini.

  1. Pembangunan merupakan hal yang paling pokok bagi suatu bangsa. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu mensejahterakan kehidupan bangsa. Sesuai yang dirumuskan dalam Pembukaan Undang Undang 1945 bahwa Indonesia mempunyai cita-cita dalam mensejahterkan kehidupan bangsa yang berdaulat, adil dan makmur serta memiliki tujuan yang masih termaktub dalam UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka hal yang paling pokok untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan tersebut adalah memperkokoh pembangunan bangsa.
  2. HMI tidak hanya sampai pada perjuangan dan pergerakan dimasa lalu ataupun saat ini, tetapi hadir di masa yang akan datang pula. Oleh karena itu HMI perlu adanya aktualisasi sebagai peran HMI dimasa mendatang. Peran strategis HMI di masa mendatang antara lain, memperkuat basis kelompok intelektual, memperkukuh wawasan kebangsaan, menggiatkan program pengabdian masyarakat, penguasaan IPTEK serta memperkuat basis kepemimpinan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sitompul, Agus Salim. 2008. Menyatu Dengan Umat Menyatu Dengan Bangsa. Jakarta : Misaka Galiza.

Sitompul, Agus Salim. 1997. HMI Mengayuh di Antara Cita dan Kritik. Yogyakarta : Aditya Media.

Malaka, Tan. 2008. “Kapitalisme Indonesia“‘ dalam Aksi Massa, Yogyakarta: Narasi, pp 45-54

Soekarno, Ir. 1930. Imperialisme di Indonesia, dalam Risalah ‘Indonesia Menggugat’, dari pidato di depan Pengadilan Landraad di Bandung

Michael H. Hart, 1978, Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982, “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A Jakarta Pusat

William Ebenstein,Edwin Fogelman, Alex Jemadu, 1994, “Isme Isme Dewasa Ini” Penerbit ERLANGGA Jakarta.

Sukma, Rizal, 1995, “Pemikiran Strategi Cina

Mills, Wright, 1997, diterjemahkan Muttaqin, Imam, 2003, “KAUM MARXIS Ide-Ide Dasar dan Sejarah Perkembangan” Pustaka Pelajar Yokyakarta

Creel, 1989, diterjemahkan Soemargono, Soejono 1990, “Alam Pikiran Cina” PT Tiara Wacana Putra Yogyakarta

Aidit, 1964, “Tentang Marxisme” Aliarcham Djakarta

Larry, Diamond, 1994, diterjemahkan soemardi 1992,” Nasionalis, Konflik etnis, dan Demokrasi” Penerbit ITB Bandung

Clammer, Jhon, 2003, diterjemahkan saenong, ilham,2003, “NEO MARXISME ANTROPOLOGI” Sadasiva yokyakarta

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s