Tema Latihan Kader I (Basic Traning) HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I “04-07 Desember 2014”

Posted: November 27, 2014 in Ke-HMI-an
Tag:

Perubahan bangsa ini tidak lepas dari perjuangan mahasiswa. Sebagai kelompok terpelajar yang merupakan bagian dari perubahan, sudah seharusnya mahasiswa harus mampu peka terhadap realitas yang ada. Masalah bangsa ini yang semakin kompleks, menuntut kita sebagai mahasiswa agar tidak hanya tinggal diam melihat masalah yang ada. Untuk menunjang perannya sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mengembangkan diri pada saat waktu mengenyam bangku kuliah, memperkaya pengalaman, mencari passion dengan mengikuti organisasi sehingga mampu menganalisis permasalahan yang ada, agar setelah lulus kuliah punya kemampuan serta jiwa kepemimpinan yang akan membantu menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan. Mahasiswa yang seharusnya turun langsung mengadvokasi hak-hak rakyat serta membantu kaum mustadh’afin (tertindas).

Namun mahasiswa saat ini cenderung apatis, sehingga animo untuk aktif di organisasi sangat rendah. Mahasiswa memandang berorganisasi sebagai sesuatu hal yang kurang penting, apatisme seakan-akan dirayakan. Di sisi lain, permasalahan mahasiswa muslim saat ini adalah terkait masalah penghayatan keagamaan, terutama nilai-nilai keislaman. Aktivitas mahasiswa pun kering dari n\uansa keislaman, walaupun sudah banyak organisasi-organisasi mahasiswa yang berbasis islam di kampus, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi mahasiswa yang berlandaskan islam, namun para kader-kadernya belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai keislaman secara kaffah (menyeluruh). Ini merupakan autokritik, Islam sebagai nafas HMI ternyata masih sebatas teks dalam pasal tujuan. Lantas, bagaimana kader-kader himpunan mampu menyadarkan mahasiswa umum, sedangkan di internal HMI sendiri nilai-nilai keberislaman belum tersematkan dalam jiwa kader.

Kalau tilik ke belakang sejarah HMI, para founding father HMI mendirikan organisasi ini dengan semangat mengimplementasikan nilai-nilai keislaman. Bahkan dr. Sulastomo (Mantan Ketum PB HMI) dalam bukunya Hari-hari yang panjang, pada waktu Ayahanda Lafran Pane mendirikan HMI dengan niat agar mahasiswa yang berada di perguruan tinggi waktu itu belajar tentang islam. Kontribusi HMI dalam memperjuangkan islam juga tidak di ragukan lagi. HMI pada awal berdirinya berjuang melawan paham-paham ideologi komunis yang waktu itu sudah mewabah di perguruan tinggi. HMI muncul sebagai kekuatan elit yang membebaskan. Asas Islam sebagai spirit perjuangan. Selain Islam adalah agama yang haq dan sempurna, juga islam bukan sekedar untuk di pahami secara individu, tetapi harus di dakwahkan kepada yang lain. Substansi pada dimensi agama spirit pada pembentukan moral dan etika. Islam yang menetapkan Tuhan dari segala tujuan, menyiratkan perlunya meniru etika Ketuhanan yang meliputi sikap rahmat (pengasih), barr (pemula), ghafur (pemaaf), rahim (penyayang), dan ihsan (berbuat baik). Totalitas dari etika tersebut menjadi kerangka pembentukan manusia yang kaffah. Adanya kecenderungan bahwa peran kebangsaan islam mengalami marginalisasi dan tidak mempunyai peran yang signifikan dalam penghayatan keberagamaan merupakan implikasi dari proses yang ambiguitas dan distorsif. Fenomena ini ditandai dengan penurunan kualitas keislaman para kader HMI. Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana interaksi yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika keislaman.

Islam yang senantiasa memberikan energi perubahan, mengharuskan para penganutnya untuk senantiasa melakukan inovasi, internalisasi dan eksternalisasi. Dan yang paling fundamental peningkatan gradasi umat diukur dari kualitas keimanan yang datang dari kesadaran paling dalam bukan dari pengaruh eksternal. Perubahan bagi HMI merupakan suatu keharusan. Dengan semakin meningkatnya keyakinan akan islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi, maka pemilihan islam sebagai asas merupakan konsekuensi logis bagi kader HMI untuk selalu mengamalkan nilai-nilai keislaman.

Untuk dapat mewujudkan cita-cita di atas, maka seyogyanya perkaderan harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang memiliki karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi kepribadian dan kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah).

           Melihat realitas itu, HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I mengadakan basic training (latihan kader 1) dengan tema ‘’Terwujudnya Kader HMI yang Berkepribadian Muslim, Akademis dan Organisatoris”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s