SPIRIT PERDAGANGAN ISLAM UNTUK MENUMBUHKAN JIWA ENTREPRENEUR KADER HMI DI ERA GLOBALISASI

Posted: November 29, 2014 in Makalah Intermediate Tranning (Lk II)
Tag:

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat illahi rabbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehinggatersusunlah Makalah dengan berjudul “Spirit Perdagangan Islam Untuk Menumbuhkan JiwaEntrepreneur Kader Hmi Di Era Globalisasi” sebagai syarat mengikuti Intermediate Basic Training (Latihan Kader 2) yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Jombang.

Fatimah Nur Aini (Bendahara Umum Kom. Ahmad Dahlan I)

Fatimah Nur Aini (Bendahara Umum Kom. Ahmad Dahlan I)

Sholawat serta salam tak lupa senantiasa tercurahkan kepada Junjungan Nabi besar Muhammad SAW, pelopor dari segala peloppor, yang luar biasa dalam hal kebaikan, kasih sayang, pembebasan dari belenggu kekafiran dan kemunafikan, serta keberhasilan perjuangannya menghantarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang sungguh merupakan rahmat Allah SWT yang tiada kemuliaan serupa.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Kanda-Kanda HMI komisariat Ahmad Dahlan I Cabang Sukoharjo yang telah membimbing dan membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga dapat terselesaikan makalah ini dengan lancar dan baik.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sehingga penulis dapat menambah grade pengetahuan dan kemampuan penulis.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin

Surakarta, 23 November 2014

                 Fatimah Nur Aini

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………. ……..2

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………3

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………….. ……..4

  1. Latar belakang………………………………………………………………………………. ……..4
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………………5
  3. Tujuan………………………………………………………………………..6

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………. ……..7

  1. Sejarah peradaban Islam di Indonesia………………………………………………. ……..7
  2. Sejarah masuknya Islam di Indonesia…………..…………………………7
  3. Korelasi Islam dan perdagangan di Indonesia………………………….9
  4. Masuk dan Pengaruh Kolonialisme barat ke Indonesia………………………10
  5. Proses masuknya bangsa barat ke Indonesia……………………………10
  6. Paradigm masyarakat Islam Indonesia akibat kolonialisme…………….13
  7. Globalisasi dan tantangannya bagi umat Islam……………………….………14
  8. Implementasi nilai ke-HMIan dalam membentuk jiwa entrepreneur kader….16

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………… ………17

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………… ………17

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………. ………18

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

“Tidak ada manusia stagnan”, kira-kira seperti itulah yang diisyaratkan oleh Auguste Comte, sosiolog barat. Rasa keingintahuan manusia memicu timbulnya ide-ide. Ide disini bisa diartikan sebagai pengetahuan. Ide-ide ini yang kemudian menjadi dasar manusia untuk bergerak. Kecenderungan untuk terus bergerak memicu terjadinya perubahan sosial. Sehingga agaknya kurang tepat jika Plato menuliskan bahwa manusia berasal dari dunia ide. Arus perubahan akan terus berjalan karena merupakan hukum evolusi-sosial yang tidak dapat dihentikan, sebagaimana diteorikan oleh Comte.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan-perubahan sosial yang ada semakin dinamis. Perlu diwaspadai bahwa perubahan yang ada tidak seluruhnya mengarah pada kecenderung positif, ada beberapa yang malah cenderung pada sesuatu yang negatif. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti politik, agama, geografis, ekonomi, dan perkembangan zaman yang selalu membayangi manusia.

Globalisasi bukanlah istilah yang muncul begitu saja. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi munculnya istilah ini. Bahkan istilah globalisasi yang dimiripkan dengan universalisme yang dibawa oleh para mubaligh Islam dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Secara singkat globalisasi dianggap puncak peradaban manusia. Era yang menghendaki hilangnya batas-batas antar manusia dan ditandai dengan penemuan-penemuan baru di berbagai bidang dan telah membawa manusia pada perkembangan yang sangat maju. Globalisasi diusung membawa visi membangun kehidupan modern yang membawa kemudahan dalam kehidupan manusia.

Arus ini datang juga membawa perubahan yang kompleks. Tak hanya pada bidang ekonomi-politik yang merupakan jalur masuknya globalisasi, tapi juga mempengaruhi di bidang kebudayaan dan tak terkecuali pada religiusitas umat. Tak pelak budaya-budaya baru masuk dan menjangkiti masyarakat Indonesia. Hedonisme, apatisme, pragmatisme, konsumerisme, dsb. Selain itu mental inlander warisan penjajah yang masih mengakar dan masih sulit untuk dihilangkan semakin menambah kejumudan masyarakat. Istilah “sekolah untuk mencari kerja” menjadi keniscayaan kalangan pelajar saat ini.

Maka dibutuhkan revolusi mental, seperti kata pak Jokowi, walau mungkin tidak seekstrem itu. Setidaknya jiwa-jiwa masyarakat Islam yang jumud perlu untuk diingatkan kembali akan kebesaran Islam dahulu yang dengan spirit keIslamannya mampu mengarungi luasnya lautan demi menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai cara, salah satu cara yang popular adalah melalui perdagangan. Dari mulai pengenalan hingga persebaran dan menjadi kerajaan-kerajaan Islam yang cukup disegani di Indonesia dan menjadi sentral perdagangan dan persebaran Islam.

Titik balik kejayaan tersebut adalah ketika mulai datangnya invasi dari bangsa kolonial. Kerajaan Islam perlahan mulai berkurang pengaruhnya, terganti oleh peran penjajah dengan praktik monopoli perdagangannya. Islam pernah dicoba untuk dibangkitkan kembali melalui Sarikat Dagang Islam yang menyentralkan aktivitasnya pada perdagangan meniru gaya Islam model awal abad Hijriyah sekaligus aktif dalam melawan penjajah.

Oleh karena itu, dianggap perlu untuk membentuk jiwa entrepreneur kader HMI apalagi di tengah globalisasi yang arusnya sudah tak terbendung lagi. Karena fenomena semakin tumpulnya daya kreativitas dan intelektual para kader. Padahal kader HMI disiapkan untuk menjadi pembaharu bangsa. “Sejarah Indonesia adalah milik pemuda”. Sadar atau tidak, kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan para pemudanya. Sesuai dengan firman Allah, “Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga ia merubah keadaannya sendiri”

  1. Rumusan Masalah
  2. Sejarah peradaban Islam di Indonesia
  3. Bagaimana sejarah masuknya Islam ke Indonesia?
  4. Bagaimana korelasi Islam dan perdagangan di Indonesia?
  5. Masuk dan Pengaruh kolonialisme barat ke Indonesia
  6. Bagaimana proses masuknya bangsa Barat ke Indonesia?
  7. Bagaimana paradigma masyarakat Islam Indonesia akibat kolonialisme?
  8. Bagaimana Globalisasi dan tantangannya bagi umat Islam?
  9. Bagaimana implementasi nilai ke-HMIan dalam membentuk jiwa entrepreneur kader?
  1. Tujuan
  2. Sejarah peradaban Islam di Indonesia
  3. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia
  4. Korelasi Islam dan perdagangan di Indonesia
  5. Masuk dan pengaruh kolonialisme barat ke Indonesia
  6. Proses masuknya bangsa barat ke Indonesia
  7. Paradigm masyarakat Islam Indonesia akibat kolonialisme
  8. Globalisasi dan tantangannya bagi umat Islam
  9. Implementasi nilai ke-HMIan dalam membentuk jiwa entrepreneur kader

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sejarah peradaban Islam di Indonesia
  2. Proses Masuknya Islam ke Indonesia

Menurut prof. Dr. Snouch Hurgronje, sejarawan Belanda, Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13 M dibawa oleh pedagang Gujarat. Namun, kuat sekali anggapan bahwa Islam datang ke kawasan Asia Tenggara jauh lebih lama dari perkiraan tadi. Karena adanya hubungan perdagangan antara Indonesia dan sekitarnya dengan negeri Arab adalah jalinan hubungan yang telah berlangsung selama berabad-abad bahkan jauh sebelum adanya Islam (lahirnya Muhammad). Sehingga memungkinkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-1 H/ ke-7 M dibawa oleh pedagang Arab. Sesuai dengan berita dari China dari dinasti Tang, 618-907 M, sekalipun China, tidak menuliskan bahwa pembawa ajaran Islam yang pertama masuk ke Nusantara Indonesia adalah wiraswasta China. Melainkan dituliskan pada abad ke-7 M adalah wirausahawan Arab. Bukan Gujarat bukan pula India. J.C. van Leur dalam Indonesia Trade and Society menyatakan bahwa pada tahun 674 M di pantai barat Sumatera telah terdapat settlement (hunian bangsa Arab Islam) yang menetap di sana. Meski tidak memungkiri bahwa pada tahun-tahun selanjutnya ajaran Islam juga di bawa ke Nusantara oleh para pedagang dari Gujarat, China, dan Persia.

Islam masuk ke Indonesia melalui proses mission sacre yaitu proses dakwah bi al-hal yang dibawakan oleh para mubaligh yang merangkap sebagai pedagang. Islamisasi dimulai dari wilayah pantai barat Sumatra (Perlak) dan pantai utara Jawa. Proses ini mulanya dilakukan secara Individual. Mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat Islam dengan menggunakan pakaian bersih dan memelihara kebersihan badan, pakaian, dan tempat tinggal, serta rumah-rumah ibadahnya. Dalam pergaulan mereka menampakkan sikap sederhana, dengan tutur kata baik, sikap yang sopan, sesuai dengan tuntunan akhlak karimah, jujur, suka menolong, terutama ikut memberikan pengobatan-pengobatan terhadap orang sakit, dan menolong orang yang ditimpa kecelakaan tanpa pamrih(Dunlap, t. th :249-250 dan Azra, 1994: 33). Sikap seperti ini yang menjadi daya tarik bagi penduduk pribumi yang pada saat itu memeluk agama Hindu-Budha dan Para penguasa saat itu menilai ajaran Islam tidak mengganggu stabilitas pemerintahan, bahkan ikut memperkuat ketahanan pemerintahan dan mempererat persatuan. Proses selanjutnya ketika masyarakat Islam makin besar di suatu daerah, bupati daerah tersebut pada akhirnya ikut memeluk Islam sebagai agama rakyatnya dengan motivasi kekuasaan, untuk mempertahankan kekuasaan. Maka Islam yang hadir di perairan Nusantara mampu dengan cepat beradaptasi sehingga tidak memunculkan benturan budaya dengan adat dan tradisi lokal yang telah ada sebelumnya. Pada akhirnya Islam yang masuk dalam wilayah kekuasaan politik mengindikasikan islam mampu menjadi kekuatan yang berpengaruh dan diperhitungkan

Dengan makin berkembangnya ajaran Islam yang masuk pada abad ke-7 M, akhirnya pada tahun 1267 M berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samodra Pasai, yang merupakan gabungan antara kerajaan Pase dan Perlak. Di sinilah tempat yang kemudian menjadi pusat perkembangan agama Islam di Sumatera. Proses Islamisasi di pantai utara Jawa pada akhirnya mampu mendirikan kerajaan Islam Demak pada tahun 1500 M dan berkembang menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di Jawa, oleh Sembilan tokoh ulama yang disebut sebagai walisongo. Daerah kekuasaan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan. Pada abad ke-15 para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke daerah Timur, Maluku, menyebabkan munculnya empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Rahan (Maluku Empat Raja), yaitu kesultanan Ternate (1486-1500 M), kesultanan Tidore, kesultanan Jailolo, dan kesultanan Bacan. Pada masa ini lah masyarakat muslim Maluku sudah menyebar hingga Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera.

Azyumardi Azra berpendapat meski Islam sudah diperkenalkan pada abad ke-1 H, namun setelah abad ke-12 M pengaruh Islam tampak lebih nyata, dan proses Islam mengalami akselerasi antara abad 12-16 M(Azra, 1999: 30-31). Dan bisa dikatakan meski pergeseran status dari sebuah komunitas ke sosietas Islam berjalan lamban, Islam berhasil menunjukkan eksistensinya setelah berhasil memasuki wilayah kekuasaan politik yang selanjutnya dipakai untuk mendapatkan dukungan rakyat agar memeluk Islam.

  1. Korelasi Islam dan perdagangan di Indonesia

Perkembangan Islam di Nusantara tak dapat dilepaskan dari hubungan perdagangan antara kawasan Asia Timur dengan wilayah Asia Tenggara. Dijelaskan berabad-abad sebelum adanya Islam, kota-kota di Yaman telah mempunyai hubungan perdagangan yang luas dengan negeri-negeri lain. Bangsa Arab merupakan wirausaha perantara antara Eropa dengan negeri-negeri Afrika, India, Asia Tenggara, dan Timur Jauh, yakni Jepang dan China. Sehingga bisa dikatakan hubungan perdagangan antara Indonesia dengan bangsa Arab sudah terjalin cukup lama sebagai negeri pemasok rempah-rempah yang orisinal dan merupakan komoditas penting yang dicari oleh masyarakat dunia, khususnya Eropa.

Ketika mulai disebarkan ajaran Islam di daerah Arab, para pedagang Arab yang menuju ke Nusantara melalui jalur laut dengan rute dari Aden menyisir pantai menuju Maskat, Raisut, Siraf, Guadar, Daibul (Debeal), pantai Malabar yang meliputi Gujarat, Keras (ibukota kerajaan Kadangalar), Quilon (India Barat), dan Kalicut kemudian menyisir pantai Karamandel, seperti Saptagram ke Chitagong (pelabuhan terbesar Bangladesh), Akyab (sekarang wilayah Myanmar), Selat Malaka, Perlak (Aceh Timur), Lamno (pantai barat Aceh), Barus, Padang, Banten, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ampel, Makasar, Ternate, dan Tidore

Seperti yang diungkapkan oleh N.A. Baloch, sejarawan Pakistan dalam the advent of Islam in Indonesia (N.A. Baloch, 1980), pada awalnya Islam dikenalkan di pantai-pantai Nusantara oleh para niagawan Arab, yang terjadi pada abad ke-1 H/ ke-7 M. proses dakwah mengenalkan Islam ini berlangsung selama lima abad, dari abad ke 1-5 H/ 7-12 M. Langkah berikutnya, mulai abad ke-6 H/ 13 M, terjadi pengembangan Islam hingga ke pedalaman. Pada periode ini pengembangan agama Islam ke pedalaman dilakukan oleh para wirausahawan pribumi. Selain itu dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M. Kemudian, diikuti di wilayah lainnya di Nusantara. Didukung oleh interaksi antara para pedagang muslim dari berbagai negeri, seperti Arab, Persia, Anak benua India, Jeumpa, Melayu, dan China yang berlangsung intensif mampu membentuk masyarakat muslim di Nusantara. Islam disini berperan sebagai realitas yang mampu menciptakan solidaritas emosional sekaligus membuat jaringan yang solid diantara mereka.

Dimulai dari berdirinya kerajaan Samodra Pasai (1267 M) yang menjadi menjadikan wilayahnya, Perlak menjadi pusat perniagaan penting selain sebagai pusat persebaran agama Islam. Kerajaan Demak di Jawa berperan serupa. Selain sebagai pusat agama Islam khususnya di Jawa juga sebagai daerah niaga dengan dikuasainya beberapa pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik yang juga berperan sebagai pelabuhan penghubung (transito) dengan wilayah Timur.

Gerak Islam yang meluas ini tidak lain merupakan gerakan pasar ke pasar. Para wirausahawan tidak hanya memasarkan komoditi barang dagangan, tetapi juga menjadikan pasar sebagai arena amal ajaran niaga Islami. Islam memberikan semangat kehidupan dan pencipta ekonomi terbuka melalui pasar. System ini yang melahirkan system social terbuka-opened society. Mengartikan bahwa setiap individu memperoleh kesempatan untuk mengubah jenjang sosialnya, dengan jalan social climbing- pendakian sosial.

Aktivitas keIslaman di dunia pasar diwarnai oleh ajaran Rasulullah, “sampaikanlah ajaran yang berasal dariku, walaupun baru satu ayat – balighu ani walau ayah. Inilah yang menjadi pijakan tiap muslim untuk aktif berdakwah. Dan sarana yang paling cocok untuk berdakwah adalah pasar. Meski beberapa pihak mengira pasar hanyalah sebagai tempat pemenuhan kebutuhan materi, hal itu tidak sepenuhnya benar. Pasar juga sebagai tempat jual-beli barang, tempat pertukaran bahasa, ekonomi, politik, ideologi, sosial, budaya, ketahanan dan pertahanan, dan terkhususnya sebagai medan penyampaian ajaran Islam.

  1. Masuk dan Pengaruh kolonialisme barat ke Indonesia
  2. Proses masuknya bangsa Barat ke Indonesia

Masuknya bangsa kolonial ke daerah Timur tidak lepas dari peristiwa yang terjadi di Timur Tengah. Jatuhnya Konstantinopel dipimpin oleh Muhammad al-Fatih tahun 1453 M, membuat pelabuhan pusat perniagaan Eropa, Istanbul, masuk ke dalam kekuasaan kekhalifahan Turki Usmani. Didasari kebutuhan akan perdagangan, bangsa barat berusaha mencari sendiri jalan menuju Timur. Karena telah mencapai kemajuan di bidang teknologi, pada abad ke-15 bangsa Portugis dan Spanyol mempelopori Eropa melakukan ekspedisi pelayaran menuju negeri Timur dengan berbekal perintah paus, gold, glory, gospel. Diawali dengan perjanjian Tordesillas tahun 1494 M, dimana Paus Alexander VI memberikan kewenangan kepada Portugis untuk menguasai dunia belahan Timur. Sebaliknya kerajaan Spanyol diberi kewenangan menguasai dunia belahan barat. Garis Tordesillas membentang dari kutub utara ke kutub selatan melalui kepulauan Verde di sebelah barat benua Afrika. Paus Alexander VI mengajarkan bahwa bangsa-bangsa di luar Negara Vatikan, yang tidak beragama Katolik, dinilai sebagai bangsa biadab. Negara atau wilayahnya dinilai sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik).

Di wilayah yang dilalui pelayaran Portugis terjadi bencana kemanusiaan karena motivasi pelayarannya bukan berniaga sebagaimana perniagaan yang lazim, melainkan reconquita dores (penaklukkan). Pada tahun 1511 M, Portugis berhasil menaklukkan Malaka sebagai pusat perdagangan Islam di bawah kepemimpinan Albuquerque setelah sebelumnya berhasil menaklukkan Goa, 1497 M. Dampak imperialis Portugis yang memasuki perairan Asia Tenggara menimbulkan kekacauan sistem niaga. Selain itu, Portugis juga mendirikan benteng pertahanan di Sunda Kelapa(meski pada tahun 1527 M berhasil direbut oleh Fatahillah dan berganti nama menjadi Jayakarta) dan berusaha menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Ternate, 1522 M.

Seakan belum cukup, pada abad ke-17 datang bangsa Belanda ke Indonesia. Mendarat pertama kali di Banten. Dengan misi menjadikan tanah jajahan sebagai sumber bahan mentah (raw material recources) dan pasar dari produksi industri penjajah, Belanda mendirikan VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) pada tanggal 20 Maret 1602, dengan anggota perusahaan-perusahaan dagang Belanda yang berada di empat wilayah, Amsterdam, Zeeland, de Mass, dan North Holland. Dengan legalitas dan kekuatan militernya, VOC memaksakan praktik monopoli dagangnya pada kerajaan-kerajaan di Indonesia.

  1. Paradigma masyarakat Islam Indonesia akibat kolonialisme

Di tengah lingkungan fisik Nusantara Indonesia, penduduk Indonesia memiliki kemampuan penguasaan maritim yang digunakan untuk menguasai jaringan jalan niaga laut, sehingga bisa dikatakan dahulu penduduk Indonesia termasuk wirausahawan yang diperhitungkan. Namun, karena tidak didukung oleh kesiapan persenjataan dalam menghadapi invasi dan agresi luar, maka begitu imperialisme barat masuk dengan kekuatan persenjataannya dan penguasaan maritimnya, rusaklah kehidupan damai dan kemerdekaan di Indonesia.

Imperialis barat kuat karena memiliki kekuatan laut dengan armada perangnya. Dilengkapi dengan persenjataan berat dan dukungan modalnya berhasil menguasai pintu-pintu laut sebagai gerbang niaga laut penghubung ke Timur Tengah. Di tengah situasi ini, pada saat itu kekuatan politik Islam telah terbiasa berniaga secara aman dan damai tidak memiliki armada perang dan senjata seperti yang dimiliki bangsa barat. Hal ini diakibatkan Islam di Indonesia dikembangkan secara damai dan tidak mengalami revolusi industri seperti di Eropa. Meski begitu, umat Islam menjadi pelopor perlawanan terhadap bangsa barat. Kondisi seperti ini tidaklah direspon dengan membangun pabrik senjata secara fisik, melainkan lebih mengutamakan membangun man behind the gun, sekaligus memperkuat solidaritas antar muslim yang diikat dengan kesadaran hukum Islam. Ketika Malaka dikuasai Portugis, kesultanan Demak dan kesultanan Aceh berusaha merebut kembali sektor niaga strategis tersebut, meski akhirnya menemui kegagalan di tengah jalan. Penaklukkan benteng Portugis di Sunda Kelapa oleh Fatahillah, pengusiran Portugis dari Ternate oleh sultan Baabullah, perlawanan rakyat Aceh pada pemerintah kolonial Belanda.

Upaya untuk mempertahankan kekuasaannya atas tanah Indonesia, terutama dalam sektor perdagangan, bangsa kolonial mematahkan potensi pasar yang dikuasai oleh umat Islam. Tidak cukup dengan VOC-Verenigde Oost-Indische Compagnie, EIC-East Indian Company, dan CIO- Compagnie des Indies Orientales, mereka juga berusaha keras untuk mematikan kesadaran pasar dengan jalan mematahkan kemampuan umat Islam dalam hal penguasaan pasar. Baik dalam hal pemasaran melalui jalur niaga laut atau maritim dan pemasaran di pasar daratan. Dalam bahasa sederhananya menghilangkan kemauan umat Islam sebagai wirausahawan. Bentuk nyatanya upaya ini salah satunya adalah penguasaan system penulisan sejarah. Karena hasil dari penulisan sejarah, akan berdampak pada terbentuknya citra dan opini masyarakat jajahan tentang kisah masa lalu yang dibacanya. Dengan target hasil bacaannya akan menumbuhkan perubahan system keimanan dan tingkah laku sosial politik dan budaya selanjutnya, yang akan memihak para penjajah.

Upaya lain adalah menumbuhkan keinginan masyarakat jajahan hanya menjadi punggawa atau pegawai jajahan. Realisasi nyatanya adalah diterapkannya sistem tanam paksa-Cultuur stelsel sebagai salah satu sistem pemerintah kolonial Belanda mengeksploitasi tenaga, waktu, dan lahan pertanian rakyat dengan menjadi tenaga produktor semata. Cara lain adalah disebarkannya ajaran Islam, melalui hadis yang dipalsukan, bahwa Allah menyukai orang-orang di masjid daripada di pasar, yang berdampak perlahan-lahan mematahkan budaya niaga dan kesadaran upaya penguasaan pasar oleh kalangan pribumi. Untuk penguasaan pasar, seluruhnya dipercayakan pada bangsa Asing Timur: China, India, dan Arab, terutama cina yang sangat dipercaya. Sehingga tak pelak warga pribumi menjadi warga Negara kelas tiga. Karena Pasarnya disita serta kekuasaan ekonominya dipatahkan, pribumi Islam menjadi sangat terbelakang.

Bukannya tanpa usaha, pribumi Islam berusaha bangkit dari keterpurukan akibat kolonialisme melalui Sarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan tahun 1905 M oleh H. Samanhudi. Upaya ini menjadikan pasar sebagai lahan operasi aktivitasnya. Apalagi dengan adanya kerjasama niaga, antara pribumi dengan China , dengan nama organisasi niaga Kong Sing. guna memperluas informasi organisasi niaga ini, diterbitkan terlebih dahulu bulletin, Taman Pewarta, yang bertahan tiga belas tahun, 1902-1915 M. maka keputusan mendirikan SDI adalah suatu jawaban yang tepat sesuai dengan zaman saat itu. Seakan ingin mengulang sejarah, Islam yang masuk ke Nusantara dan berkembang dengan cepat tak lain karena penguasaan pasar dan pemasarannya.

  1. Globalisasi dan tantangannya bagi umat Islam

Globalisasi adalah tantangan yang harus dihadapi umat Islam Indonesia secara nyata setelah melepaskan diri dari genggaman kolonialisme. Kata Globalisasi berasal dari barat dan merupakan istilah yang merebak pada tahun-tahun terakhir ini. Secara jamak, globalisasi berasal dari kata “global” yang berarti mendunia. Globalisasi menurut sebagian orang berarti eliminasi batas-batas territorial. Ada pula yang mendefinisikan sebagai perubahan dunia menjadi satu desa global (global village).

Seorang pakar ekonomi dan sosial, Dr. Jalal Amin berpendapat bahwa “kata globalisasi adalah kata baru akan tetapi fenomena globalisasi sebenarnya sudah lama sekali ada. Jika dipahami globalisasi sebagai penciutan secara cepat atas jarak-jarak yang membatasi antar masyarakat manusia, baik berhubungan dengan perpindahan komoditi, orang, modal, informasi, gagasan, atau nilai, maka globalisasi bagi kita akan tampak seolah-olah sama dengan pertumbuhan kebudayaan manusia di masa lalu.” (dr jalal amin dalam mukaddimah buku “globalisasi dan pembangunan di dunia arab: dari ekspedisi Napoleon hingga putaran uruguay, penerbit markaz dirasah al wahdah al arabiyah).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa globalisasi adalah produk lama. Bahkan sebelum didengungkan dalam istilah “globalisasi”, masyarakat dahulu sudah melakukan segala pertukaran, baik komoditi, informasi, gagasan, ataupun nilai dalam media yang disebut pasar dan melalui kegiatan yang disebut dengan perdagangan. Islam dibawa dan disebarkan di Indonesia melalui para niagawan muslim. Hanya saja dulu menggunakan istilah universalisme, tidak globalisasi.

Secara eksplisit, arti globalisasi (aulamah) hampir sama dengan arti universalisme (alamiyah). Al-quran menegaskan dalam firmannya:

“dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (Al-anbiya: 107)

Tetapi dalam realitanya, terdapat perbedaan antara muatan universalisme Islam dengan globalisasi yang yang dideklarasikan di Barat. Universalisme Islam berdiri dengan penghormatan bagi semua bani Adam (manusia), sebagaimana firman Allah:

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam.” (Al-Isra’: 70)

Selain itu pula, tidak ada upaya untuk menghilangkan karakteristik bangsa-bangsa. Islam tetap mengakui bahwa Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan maksud untuk saling mengenal antara satu dengan yang lain (Al-Hujurat :13).

Adapun globalisasi, propagandanya yang kita dengar hingga hari ini adalah pemaksaan hegemoni politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari Barat kepada dunia, khususnya dunia Timur atau dunia ketiga, lebih khusus lagi dunia Islam. Dalam konsep utuhnya, globalisasi berarti “westernisasi dunia”. Dan bisa juga dikatakan sebagai imperialisme gaya baru yang telah melepaskan gaya-gaya kunonya untuk memainkan hegemoni baru dengan istilah “globalisasi”.

Hegemoni global yang dikatakan membawa modernisasi dan mendukung pembangunan, telah membawa masyarakat Indonesia dalam berbagai sisi realitas baru kehidupan, seperti kenyamanan, kesenangan, kesempurnaan penampilan, dan kebebasan. Namun sebaliknya menyebabkan kita kehilangan realitas-realitas masa lalu dan kearifannya yang justru lebih berharga bagi pembangunan diri sebagai manusia. Begitu kuatnya hegemoni ini mengakar, gaya-gaya hidup, seperti konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, dsb, merupakan realita yang umum terjadi pada masyarakat.

Seperti kata Yasraf Amir Piliang dalam bukunya, “setiap jejak peristiwa kebudayaan yang akan terjadi tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri secara revolutif dari peristiwa-peristiwa kebudayaan sebelumnya”, menandakan selalu ada peristiwa-peristiwa lama yang diambil, yang diteruskan, yang dikembangkan. Setelah melepaskan diri dari belenggu kolonialisasi Belanda, Indonesia kembali terjajah, meski tidak oleh satu Negara, melainkan dengan sistem global. Sehingga tantangan umat adalah tidak hanya sekedar bertahan-menghadapi adalah pilihan yang tepat. Harus dikembangkannya ilmu pengetahuan, kinerja, sumber daya alam, pertanian, perindustrian, dan administrasi. Tapi sebelum itu semua, harus terlebih dahulu mengembangkan SDM yang merupakan sarana sekaligus obyek dari pembangunan dan kemajuan. Dimana SDM ini haruslah bersikap moderat; merefleksikan visi dan spirit pertengahan dari umat pertengahan, berwawasan luas, inklusif, bangga dengan identitasnya, yakin dengan universalismenya, konsisten, menjunjung tinggi budayanya, dan berpikir hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. SDM ini yang kemudian harus bekerja baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, hingga dapat memainkan peran di arus globalisasi ini, tidak hanya sekedar berlindung saja.

Selalu ada peluang untuk mewujudkan kebangkitan yang mengantarkan dari posisi pasif dalam interaksi internasional menjadi kekuatan yang aktif. Indonesia tidak dapat bangkit selama masyarakatnya sendiri tidak berusaha mewujudkannya. Kekuatan Negara terletak pada kekuatan masyarakatnya,. Masyarakat yang mati tidak bisa menegakkan Negara yang hidup. Masyarakat yang lemah tidak mampu membangun Negara yang kuat, sebagaimana disebutkan oleh sebuah kata hikmah, “sebagaimana adanya kalian, begitulah kuasa kalian”.

  1. Implementasi nilai ke-HMIan dalam membentuk jiwa entrepreneur kader

Dari awal berdirinya, HMI sudah bertekad mengambil peran dengan berusaha menciptakan intelektual-intelektual muslim. Hal ini dikarenakan jumlah muslim intelek pada awal kemerdekaan menempati prosentase paling sedikit diantara golongan muslim yang lain. Lafran Pane berpendapat segala sesuatu dalam masyarakat saling mempengaruhi, antara satu kelompok manusia dengan kelompok yang lain. Hal ini dikarenakan perbedaan tingkat pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Islam, maka diperlukan para intelektual muslim yang siap berjuang untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan dalam masyarakat Islam. Dalam periode selanjutnya, cita-cita ini dirumuskan dalam tujuan HMI, “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Dapat dilihat dari tujuan ini betapa pentingnya sumber daya manusia dalam kehidupan suatu bangsa, dan hal ini yang mendasari berdirinya HMI.

Konteks kader HMI sekarang ini khususnya pada era globalisasi yang sudah tak terbendung, tradisi intelektual sudah mulai ditinggalkan oleh kader. Kenapa? Tidak lain karena telah bergesernya HMI dari kittah perjuangannya dan semakin lengketnya kader ke pusaran kekuasaan serta politik praktis. Hal ini juga diungkap oleh Anas Urbaningrum, “ketika garis politik menjadi mainstream, maka dinamika akademis-intelektual menjadi menyempit. Sebaliknya ketika garis intelektual menjadi mainstream, terlihat bahwa kecerdasan dan ketajaman politik organisasi tidak pernah tumpulPertanyaan dasarnya mengapa harus membentuk jiwa entrepreneur? Entrepreneur atau yang bisa disebut wirausaha adalah profesi yang bebas menentukan kehendak-tidak terkekang oleh pihak manapun. Hal ini sesuai dengan prinsip HMI yakni independensi. Selain itu, wirausaha juga dituntut tepat dalam mengambil inisiatif di setiap kondisi dalam memenuhi tuntutan yang senantiasa berubah, hal ini memenuhi kualifikasi kader sebagai avant garde, generasi pelopor. Dengan wirausaha, sesorang dapat mensejahterakan hidup orang lain dengan memberikan lowongan pekerjaan, sehingga tercapailah tujuan HMI dengan bunyi, “…atas terwujudnya masyarakat adil makmur….”. Dan yang terpenting dengan wirausaha seseorang dapat menguasai pasar, yang notabene merupakan wadah yang tepat untuk dakwah, pengajaran, pengenalan budaya, dan menguntungkan dari segi ekonomi.

Bercermin dari kejayaan Islam masa lampau yang berjaya dari kegiatan perdagangan dapat dijadikan spirit dalam mengembangkan jiwa wirausaha pada tiap individu kader. Kebesaran Islam di Nusantara hingga abad ke-15 dapat dijadikan refleksi oleh para kader dalam mengembangkan Islam.

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Kebudayaan Islam di Indonesia tak lepas dari rentetan sejarah peradaban Islam yang disatukan oleh perdagangan melalui lautan dengan spirit dakwah ke-Islaman melalui media efektif yakni pasar. Peran muslim pribumi di pasar kemudian direbut oleh para kolonialis yang hingga kini berdampak memunculkan mental-mental inlander dan menumpulkan kelihaian muslim Indonesia dalam berwirausaha. Peran muslim di pasar ini yang berusaha untuk dihidupkan kembali dengan usaha menanamkan jiwa entrepreneur terkhususnya pada kader HMI apalagi era abad ke-21 yang dikenal sebagai zaman globalisasi, zaman yang meniadakan batas-batas dan penuh dengan persaingan.usaha penanaman jiwa entrepreneur kader berusaha dilakukan dengan menyadarkan umat pada spirit perdagangan Islam di masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Piliang, Yasraf, 2011, “Dunia yang Dilipat-Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan” Edisi ke-3, MATAHARI: Bandung

Hasil-hasil Kongres Himpunan Mahasiswa Islam ke XXVIII, “HMI untuk Indonesia Satu Tak Terbagi”

Karim, M. Abdul, 2007, “Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam”, Pustaka Book Publisher: Yogyakarta

Soebachman, Agustina, 2014, “Sejarah Nusantara Berdasarkan Urutan Tahun”, Syura Media Utama: Yogyakarta

Suryanegara, A. Mansur, 2009, “Api Sejarah”, Salamadani Pustaka Semesta: Bandung

Dr. Qardhawi, Yusuf, 2001, “Umat Islam Menyongsong Abad ke-2”, Era Intermedia, Solo

Disusun:
Fatimah Nur Aini

Himpunan Mahasiswa Islam
Cabang Sukoharjo
Komisariat Ahmad Dahlan I
2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s