Logika Aristoteles

Posted: April 26, 2015 in Home Philoshopy
Tag:

Prof. Dr. Will Durrant dalam bukunya The Story Of Philosofy menyebutkan bahwa salah satu ketistimewaan Aristoteles adalah dengan tanpa ada yang mendahuluinya, Aristoteles menciptakan sebuah ilmu baru yang disebut Logika, sepenuhnya bergantung kepada kekuatan pemikirannya sendiri. Sifat kebaruan pada disiplin logika ini berarti penciptaan istilah-istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya termasuk istilah Logika itu sendiri. Istilah-isitlah yang diciptakan oleh Aristoteles itu lestari hingga saat ini.

Plato dan Socrates memberikan sumbangan yang besar terhadap Aristoteles. Keduanya merupakan peletak dasar pemikiran Logika Aristoteles. Plato yang walaupun tidak mempergunakan syllogisme ala Aristoteles, tapi dia terkenal dengan metode komunikasinya yang disebut dialektika. Plato terinspirasi oleh ibunya yang seorang bidan yang senantiasa membantu para ibu yang hendak melahirkan dengan segenap kekuatannya. Demikian pula ia menganggap dirinya sebagai bidan filsafat. Sehingga menurutnya, belajar adalah proses mengingat-ngingat. Oleh karena itu dimanapun ia berada selalu mendorong  orang lain untuk berpikir dengan benar dengan cara mengajukan “pertanyaan yang memburu”. Intisari dari metodanya ini adalah “tak perlu ajarakan orang lain mengenai apapun, tapi dorong orang lain agar mereka mau berpikir dan mengingat-ingat sesuatu secara bersungguh-sungguh”. Metode Plato ini sangat efektif sejauh mereka yang diajak bicara tidak malas dalam berpikir dan mengingat-ngingat.
Cara Plato mengajukan pertanyaan merupakan dasar-dasar Logika bagi Aristoteles. Ia memahami bagaimana plato mendorong semua orang untuk mendefinisikan segala sesuatu yang perlu didefinisikan, seperti apa itu keberanian, apa itu moral, apa itu malu, dll. Lalu plato menguji kebenaran definisi-definisi itu dengan contoh-contoh. Jika ada orang mengatakan bahwa keberanian itu begini dan begitu, maka plato menyodorkan contoh-contoh dan bertanya “apakah ini adalah keberanian? Apakah itu adalah keberanian?” mendorong orang lain untuk mengevaluasi ulang makna keberanian yang telah didefinisikannya. Inilah hal-hal yang mendasari pemikiran Aristoteles.

Dengan bekal ilmu yang dipelajarinya di akademi Socrates, Aristoteles menyusun dan menciptakan Logika yang sempurna dan sampai masa kini tiada bandingannya. Menurut Immanual Kant, berbeda dengan disiplin ilmu lainnya,   Logika tidak dapat ditambahkan agak sedikitpun, karena sudah sempurna sejak pertamakali diciptakannya.

Logika sebagai ajaran tentang berfikir secara ilmiyah yang membicarakan hal bentuk-bentuk pikiran itu sendiri (y.i. pengertian, pertimbangan dan penalaran) dan hukum-hukum yang menguasai pikiran itu sendiri. Berfikir dilaksanakan dengan perantara pengertian-pengertian (Daun, bunga, taman, Danau dll). Menurut aristoteles, tiap pengertian berpatutan dengan benda tertentu. Maka setiap pengetahuan adalah penggambaran kenyataan. Segala pengertian dapat dihubungkan dengan satu dengan yang lain berdasarkan tertibnya dan dapat disusun berdasarkan sifat-sifatnya yang umum. Umpamanya, secara kongkrit ada kucingku, kucingmu dan kucing kita, dll, yang semuanya itu dapat digolongkan kepada pengertian “kucing” yang lebih umum. Umpanya kucing kampung. Disamping kucing kampung ada kucing bule, kucing arab, dll, yang semuanya dapat golongkan pada yang lebih umum. Kucing adalah hewan yang menyusui disamping binatang-binatang menyusui lainya, sehingga dapat digolongkan binatang-binatang yang “menyusui”. Binatang menyusui adalah binatang yang disamping binatang-binatang yang lain, sehingga kucing dapat digolongkan kepada pengertian yang lebih umum “binatang”. Demikian seterusnya, dari binatang naik ke makhluk hidup,ke makhluk pada umumnya, dan seterusnya. penggolongan menurut sifatnya secara umum ini dapat diturunkan dari kelompok yang lebih tinggi lagi, sampai kepada kelompok pengertian yang telah mencakup apa saja yang dapat dikatakan sesuatu. Kelompok pengertian yang sifatnya paling umum ini oleh aristoteles disebut Ketegori. Ketegori sebagai kelompok pengertian cocok juga dengan kelompok segala sesuatu yang ada. Menurut aristoteles ada 10 kategori :

  1. Substansi (manusia binatang dll)
  2. Kuantitas (dua,tiga, dll)
  3. Kualitas (putih busuk, dll)
  4. Relasi (rangkap, separoh, dll)
  5. Tempat (pasar, rumah, dll)
  6. Waktu (sekarang, besok, dll)
  7. Keadaan (duduk, berdiri, dll)
  8. Mempunyai (bersepatu, bersuami, dll)
  9. Berbuat (mengiris, membakar, dll)
  10. Menderita (terbakar, terpotong, dll)

Segala pengertian itu dapat digabungkan yang satu dengan yang lainya, sehingga membentuk suatu pertimbangan, umpamanya: manusia adalah fana. Pengertian “manusia” digabungkan dengan pengertian “fana”, yang bersama-sama mewujudkan pertimbangan. Ada macam-macam pertimbangan, ada yang meneguhkan, ada yang menyangkal dan ada yang bersifat umum atau khusus.

Bukan hanya pengertian-pengertian yang dapat digabungkan yang satu dengan yang lain, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan yang dapat digabung-gabungkan, sehingga menghasilkan Penyeimpulan. Penyimpulan adalah suatu penalaran, denganya dari dua pertimbangan dilahirkan pertimbangan yang ketiga, yang baru, yang berbeda dengan kedua pertimbangan yang mendahuluinya.

Contoh:

  1. Manusia adalah fana
  2. Yoga adalah manusia
  3. Jadi; yoga adalah fana
  1. Semua Pengurus harus hadir dalam Diskusi Stufil
  2. Dariana adalah pengurus
  3. Dariana hadir dalam diskusi Stufil

Cara penyimpulan ini disebut syilogisme (uraian penutup). Suatu syilogisme terdiri dari 3 bagian, yaitu: suatu dalil umum, yang disebut mayor (manusia adalah fana), suatu dalil khusus, yang disebut minor (yoga adalah manusia), dan kesimpulanya (yoga adalah fana) syilogisme mewujudkan puncak logika aristoteles.

Terlepas dari kesimpulan seperti diatas, aristoteles dan para pengikutnya berpendapat bahwa semua kesimpulan deduktif, jika dikemukaan dengan cermat, bersifat silogistik. Dengan memaparkan semua jenis silogisme yang falid, dan dengan menyusun semua argument yang dianjurkan dalam bentuk silogistik, terbukalah kemungkinan untuk menghindari semua kesalahan.

Oleh; Rayinda Dwi Prayogi disampaikan pada Study Fhiloshopy (STUFHIL) tanggal 23 april 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s