HMI bergerak, memberi kedamaian

Posted: Agustus 3, 2015 in Intelegensia Muslim
Bersama Rekan-rekan menggapai karya dan cita

Bersama Rekan-rekan menggapai karya dan cita

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan satu dari beberapa organisasi pergerakan kemahasiswaan di Indonesia yang memiliki corak pemikiran keilsaman yang khas, yaitu adanya integralisasi antara iman, ilmu dan amal. Sejak 1947, HMI memulai karirnya mengemukakan ajaran islam yang universal kepada para kadernya yang memiliki latar belakang golongan ormas berbeda-beda, seperti Muhammadiyah, Nahdhotul ulama (NU) dan bahkan yang netral.

Yogi, mahasiswa unyu UMS, salah satu kader HMI di Sukoharjo tahun 2012. Dia adalah alumni pesantren yang berlatar belakang modern, ta mengenal golongan namun memiliki jargon ”berdiri di atas semua golongan”. Orang tuanya sudah lama bergabung pada golongan jamaah tabligh ”jaulah”, tetapi kemudian tidak memaksa yogi untuk bergabung dan cenderung membebaskannya, asalkan tetap menjalankan sholat wajib lima waktu.

Berawal pada tongrongan di depan kampus pada waktu itu, dengan beberapa senior-senior HMI yang memang sedang mencari mangsanya untuk segera ditikam dengan pemahaman baru, yogi mulai membuka diri untuk belajar bersama.Tidak lama kemudian, penjaringan kader baru dilakukan oleh organisasi HMI dan melibatkan banyak calon kader termasuk yogi. Bertemu dengan beberapa teman baru seperti bukhori ; NU tulen dari jakarta, Ghofur; Muhammadiyah banged dan yang lainya netral. Belajar bersama membongkar paradigma baru islam yang universal atau rahmatan lilalamiin.

Menjadi kader himpunan ini sangat mendewasakan yogi untuk memiliki sifat terbuka atau inklusif pada sebuah kebenaran, keharmonisan, dan kedamain dalam berkehidupan. Diskusi-diskusi secara masif dilakukan sampai pada larutnya malam yang kadang menjadikan pagi hari adalah malam yang indah untuk bermimpi. Suatu saat ketika menjelang sholat subuh, ia bersama kader Himpunan lainya melakukan sholat subuh berjamaah. Bukhori, NU tulen lah julukanya menjadi imam sholat subuh pada waktu itu dan mengunakan doa kunut. Semua kader secara bersamaan ikut menggunakan doa tersebut walaupun pada sholat subuh sebelumnya ketika imam kebetulan dari kader Himpunan yang berlatar belakangkan muhamadiyah, tidak mengunakan doa tersebut. Tidak menjadi sebuah permasalahan dalam aktifitas ibadah walau ada perbedaan pendapat, yang jelas mereka mengetahui dasar hukum mengapa dia menggunakan dan yang tidak mengunakan doa tersebut. Menarik mengulas celotehan Kiyai Ca Nuun, ”NU yang memakai doa kunut itu benar, Muhammadiyah yang tidak mengunakanya pun juga benar, yang tidak benar itu yang tidak sholat subuh”. Keharmonisan aktifitas organisasi pun mulai terbangun.

Lagi-lagi ketika menjelang akhir ramadhan ditahun 2013, maraknya wacana perbedaan hari idul fitri antara NU dan Muhammadiyah. Yogi yang kebetulan liburan di kampung halamannya, mayoritas NU dan kebanyakan selalu membingungkan ”Muhamadiyah kok engga mau idul fitrian bareng-bareng yak, padahal ada keputusan sidang isbad tuuh dari pemerintahan”. Ketika menjelang hari idul fitri yang telah ditetapkan oleh organisasi masyarakat Muhammadiyah ini, yogi memulai menyapa sahabat HMI nya dengan hand phon selulernya,

”Broo,, kapan lebraaan? ;)” Ujaar yogi dengan santun kepada ghofur kader himpunan yang terlihat akan ikut lebaran sesuai keketapan muahamadiyah.

”InsaAllah hari ini kanda, aku ikut muhamadiyah ;)” kalau kamu gimana kanda? Gofur menjawab

”aku ikut keputusan pemerintah dinda, okokok selamat hari Hari raya idul fitri yah, Minal Aidin wal Faiziin mohon maaf lahir batin”

”yuup, sama-sama kanda, ;)” jawab ghofur. Di hari berikutnya, ungkapan selamat pun kembali tersampaikan melalui massege singkat dari hand phon ghofur ke hand phon yogi. Begitulah bagaimana yogi dan rekan-rekannya menyampaikan arti kebaikan pada sebuah perbedaan.

            Perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan, pasti ada dan tak bisa dihindari. Keharmonisan yang dibangun berdasarkan pengalaman yogi dan kawan-kawan HMI lainya tersebut adalah representasi dari pngetahuan ajaran islam yang rahmatan lillalamiin. Segala sesuatunya dikembalikan pada dasar hukum yang jelas, ketika ada sebuah perbedaan dalam berpendapat maka saling menghargai adalah solusi. Barangkali kebenaran tuhan yang mutlak akan terlihat pada keharmonian kita dalam berkehidupan. Yakin usaha sampai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s