“Keteladanan dan Kepemimpinan: Membangun Manajemen Organisasi Kader yang Profesional”

Posted: Februari 29, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-HMI-an, Makalah Intermediate Tranning (Lk II)

rustam.jpgBAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Organisasi adalah wadah yang memungkinkan manusia untuk mencapai tujuan yang sebelumnya tidak pernah dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. Organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri dari dua orang atau lebih, berfungsi mencapai sasaran tertentu. Dalam organisasi perlu adanya manusia, karena manusia adalah hal yang paling utama di dalam organisasi. Pada umumnya manusia secara sendiri- sendiri sangat susah mewujudkan tujuan. Dengan adanya kelompok maka akan mempermudah pencapaian tujuan karna didasari pada asas kerjasama dari masing-masing individu untuk membentuk kelompok, kemudian membentuk organisasi.(Veithzal Rivai, 2003) Terlebih ketika membahas tentang organisasi pengkaderan, yang tidak lepas dari kader dan anggota sebagai ujung tombak keberlangsungan hidup dan matinya organisasi yang menaungi mereka.

HMI adalah suatu gerakan pembaharuan untuk membebaskan umat Islam dan bangsa Indonesia dari keterbelakangan. Pemikiran keislaman- keindonesiaan HMI menampilkan Islam yang bercorak khas Indonesia. Pemikiran ini akan mendatangkan perubahan sesuai dengan kebutuhan kontemporer menuju masa depan yang baru yang dicita-citakan seluruh rakyat Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun HMI sudah berbalik menjadi tidak mengikuti, hanya menjadi kader olah mengolah pejabat yang mencari keuntungan pribadi tanpa memikirkan apa yang diperbuatnya telah merugikan orang lain.

Dalam setiap organisasi khususnya HMI, kader memiliki peran sentral, dimana kader sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang sesuai dengan tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT

sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan kualitas lima insan cita dan bersifat independen, penuh semangat dan militansi yang tinggi dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Dengan usia HMI yang semakin dewasa, harus para kader HMI memiliki kesadaran yang lebih sebagai upaya meningkatkan peran dalam pengawalan kebijakan yang ada di dalam kampus atau kbijakan nasional, yang hal ini tidak lepas dari tujuan HMI sendiri, serta lebih memiliki semangat juang dalam membentuk pribadi kader-kader yang profesional dan berkualitas yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga guna kemajuan agama, nusa dan bangsa khususnya pada ranah generasi muda. Kader kader HMI seharusnya melakukan partisipasi ini secara terus menerus dengan kritis, konstruktif, obyektif dn sejalan dengan tujuan HMI yaitu: terbinanya insan akademis, pencipta, pengapdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di rihoi Allah SWT.

B. Rumusan masalah

  1. Mengetahui pengertian dari menejemen?
  1. Mengetahui pengertian organisasi?
  1. Apa pengertian dari kader HMI?
  1. Bagaimana pola HMI dalam Membangun Manajemen Organisasi Kader yang Profesional ?

 C. Tujuan penulis

  1. Mengetahui pengertian dari manajemen
  1. Mengetahui pengrtian dari organisasi
  1. Mengetahui pengertian dari kader HMI
  1. Mengetahui bagaimana pola HMI dalam membangun manajemen organisasi kader profesional

BAB II
PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN MANAJEMEN

Secara umum, manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja.

George R. Terry (1977), menyatakan “Manajemen adalah suatu proses yang berbeda yang terdiri dari planning, organizing, actuating dan cotroling yang secara serentak dan teratur dilakukan guna mencapai tujuan yang di tentukan dengan menggunakan manusia dan sumber data lainnya.

Manajemen sebagai pengendalian suatu usaha yaitu proses pendelegasian/pelimpahan wewenang kepada beberapa penanggung jawab dengan tugas kepemimpinan dan proses pergerakan bimbingan pengendalian semua sumber daya manusia dan sumber materiil dalam kegiatan pencapaian tujuan organisasi. Dengan demikian manajemen memungkinkan terjadinya perpaduan dari semua usaha dan kegiatan. Tujuan organisasi menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran efektifitas kerja.

2. Pola Umum Manajemen

♦ Manajemen pada dasarnya adalah alat atau sarana daripada administrasi;

♦ Sebagai alat administrasi fungsi manajemen adalah menggerakkan unsur statik daripada administrasi yaitu organisasi ;

♦ Dalam fungsinya menggerakkan organisasi, manajemen merupakan suatu proses dinamika yang meliputi fungsi planning, organizing, actuating dan lain-lain ;

♦ Proses manajemen selalu diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu ;

♦ Dalam mencapai tujuan tersebut manajer sebagai pelaksana manajemen menggunakan berbagai unsur yang tersedia dalam organisasi ;

♦ Penggunaan unsur-unsur manajemen tersebut selalu dilaksanakan dengan seefisien mungkin berdasarkan prinsip-prinsip manajemen

Sebagaimana dalam buku “The propesional of management” Manajemen adalah suatu jenis pekerjaan khusus yang menghendaki usaha mental dan fisik yang di perlukan untuk memimpin, merencanakan, menyusun, mengawasi serta meneliti. Di sisi lain Allen, Louis A.Pekerjaan Manajer itu mencakup empat fungsi, Yaitu:

  1. Memimpin (Leading)

Fungsi Leading ini terdiri dari beberapa kegiatan, Yaitu:

a. Mengambil Keputusan

b. Mengadakan komunikasi

c. Memberikan Motivasi

d. Memilih orang-orang

e. Mengembangkan orang-orang

Leading adalah fungsi pokok manajemen yang sangat nyata dan keahlian memimpin merupakan keahlian hubungan antarmanusia (Human Relations) maka timbul kecenderungan untuk menarik kesimpulan bahwa hubungan antarmanusia yang sempurna dan manajemen yang efektif adalah sebuah keniscayaan.

  1. Merencanakan (Planning)

Untuk menghasilkan suatu tujuan dan untuk lebih efektifnya di perlukan perencanaan yang tepat. Rencana di tentukan sebelumnya, Apa yang dikerjakan, Bagaimana mengerjakan, Kapan mengerjakan, dan Siapa yang mengerjakannya.

Planning   meminta proses pemikiran yang memerlukan arah tindakan yang   ditentukan secara sadar dan merupakan dasar dari keputusan-keputusan terhadap tujuan, pengetahun dan dugaan yang disoroti.

  1. Menyusun (Organizing)
    Fungsinya antara lain:
  • Merencanakan struktur organisasi dan penanggung jawab tiap-tiap progra
  • Mempercayakan Tanggung jawab dan wewenang kepada orang lain.
  • Menetapkan hubungan yang membedakan antara line dan staf
  1. Mengawasi dan Meneliti (Controlling)

Yaitu menentukan langkah-langkah yang lebih baik sesuai perencanaan. Kegiatan untuk menyesuaikan antara pelaksanaan dan rencana-rencana yang telah ditentukan.

  1. PENGERTIAN ORGANISASI

Organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri dari dua orang atau lebih, berfungsi mencapai sasaran tertentu. Dalam organisasi perlu adanya manusia, karena manusia adalah hal yang paling utama di dalam organisasi. Pada umumnya manusia secara sendiri-sendiri sangat susah mewujudkan tujuan. Dengan adanya kelompok maka akan mempermudah pencapaian tujuan karna didasari pada asas kerjasama dari masing-masing   individu   untuk   membentuk   kelompok,   kemudian membentuk organisasi.( Veithzal Rivai,2003 hlm. 88).

Menurut Soekarno dalam Almanak Lembaga Administrasi Negara

1960, Organisasi adalah wadah ketika semua aktivitas administrasi dijalankan karena administrasi merupakan keseluruhan proses kerja untuk mencapai tujuan organisasi yang ditentukan.

Lebih lanjut Yayat M. Herujito dalam bukunya Dasar-Dasar

Manajemen membagi pengertian organsasi dalam dua sisi:

  1. Organisasi sebagai wadah, lembaga atau kelompok fungsional ketika proses manajemen berlangsung.
  2. Organisasi sebagai wadah pembentukan tingkah laku hubungan antarmanusia secara efektif sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas- tugasnya serta memberikan kondisi lingkungan tertentu untuk mencapai tujuan. Pengertian ini merujuk pada proses pengorganisasian, yaitu cara bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota sehingga tujuan dapat tercapai.
  1. PRINSIP DASAR ORGANISASI
  1. Perumusan Tujuan Organisasi Dengan Jelas

Dengan jelasnya tujuan maka akan lebih mengefisiensikan jalannya organisasi sehingga apa yang menjadi hajatan organisasi akan tercapai.

  1. Pembagian Pekerjaan

Organisasi merupakan suatu “system pembagia kerja”. Oleh karena itu, struktur organisasi harus disusun sesuai dnegan kebutuhan dan tujuan yang di tetapkan.

  1. Delegasi Wewenang dan Tanggung Jawab harus Jelas dan Seimbang

Memperjelas wewenang otoritas (Hak) seorang manajerial sebuah keniscayaan yang mesti dibangun oleh sebuah sistem yang kokoh.

  1. Kontinuitas dan Fleksibilitas

Artinya, kelangsungan dan keseimbangan sikap organisasi harus benar-benar terjamin, baik dalam perencanaan sasaran, program maupun kegiatan pelaksanaan (operasional). Maksudnya agar cepat beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa mengurangi tujuan organisasi.

  1. Unity of Direction (Kesatuan Arah)

Semua kegiatan, pemikiran, keahlian, waktu dan kemampuan, harus ditujukan pada satu arah, yaitu pencapaian tujuan dengan cara efisien dan efektif

  1. Unity of Command (Kesatuan Komando)

Kesatuan manajerial sangat menentukan arah organisasi dan tidak adanya dualisme kepemimpinan mesti dibangun

untuk mengefesiankan waktu dalam pencapaian tujuan organisasi.

  1. Span of Control (Rentangan Kekuasaan

Maksudnya berapa orang yang mesti ada menjadi ikon pembantu pejabat atasan yang dapat dipegang dan dikendalikan oleh seorang manajerial untuk mencapai tujuan organisasi mesti harus dipastikan semakin banyak yang dapat dikendalikan maka semakin mudah untuk menjalankan roda organisasi. Azas ini

merupakan prinsip organisasi   yang harus diperhatikan untuk menjaga efektifitas dan kesinambungan komunikasi.

  1. Prinsip Koordinasi

Hal ini penting untuk mencegah kesimpangsiuran tugas dan tanggung jawab. Kerja sama merupakan asas koordinasi.

  1. Strategi apa yang Diperlukan untuk Membangun Manajemen

Sebelum kita berdiskusi tentang tawuran strategi maupun pola bagaimana membangun manajemen pengelolaan organisasi yang efektif. Maka ada berapa hal yang perlu kita sepakati terlebih dahulu untuk mengarahkan persoalan yang akan kita bicarakan diantaranya:

  1. a. Bila di atas telah jelas prinsip-prinsip pembentuk organisasi yang efektif maka tinggal merancang bagaimana cara dan pola untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut dengan memainkan sistem yang ada.

Ada beberapa hal yang saya pikir dan saya amati cenderung diabaikan oleh seorang manajer (pemimpin), sebagaimana dalam Buku Manajer Lima Menit ada beberapa hal pokok yang mesti kita miliki dan diterapkan dalam sebuah organisasi antara lain:

Ø Membangun visi bersama

Ø Membantu kesadaran berorganisasi

Ø Membangun koordinasi

Ø Membangun komunikasi

Ø Membangun komitmen bersama membentuk program meeting sebagai wahana evaluasi dan laporan pertanggungjawaban (LPJ)

Satu hal yang sangat perlu dan tidak boleh diabaikan yakni seorang pemimpin adalah panutan sebagaimana dalam semboyan “Perkataan pemimpin adalah sabda suci”

E. PENGERTIAN KADER HMI

  1. Pengertian Pengkaderan

Dalam hasil kongres HMI disebutkan bahwa perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis, selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader muslim, intelektual, professional yang memiliki kualitas insan cita.

Menurut Ambar Teguh S & Rosidah dalam buku manajemen sumber daya manusia, di sebutkan bahwa pelatihan adalah proses sistematik pengubahan perilaku para anggota dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasional. Pelatihan merupakan hal yang penting, karena keduanya merupakan cara yang digunakan oleh organisasi untuk mempertahankan, menjaga, memelihara anggota dalam organisasi dan sekaligus meningkatkan produktivitasnya.

Pada dasarnya pelatihan (training) itu merupakan proses yang berlanjut dan bukan proses sesaat saja. Munculnya kondisi-kondisi baru, sangat mendorong pemimpin organisasi untuk terus memperhatikan dan menyusun progam-progam latihan dan pendidikan yang kontinyu serta semantap mungkin. (Susilo Martoyo, 2000 hal.61).

  1. Pengertian kader

Kader adalah anggota inti organisasi, mereka ini adalah ujung tombak dan penggerak organisasi. Karenanya mereka harus memiliki pandangan, visi, dan ideologi organisasi tersebut. Sebagaimna disebutkan bahwa setiap kader memerlukan sosialisasi politik dan pendidikan politik. (Sidratahta Mukhtar, 2006 hal.89-90).

Menurut AS Hornby   (dalam kamusnya Oxford Advanced Learner’s Dictionary) dijelaskan, pengertian kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar.

Hal ini dapat di jelaskan, pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam berorganisasi, mengena aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi.

Bagi HMI aturan-aturan itu sendiri dari segi nilai adalah nilai dasar perjuangan (NDP). Dalam pemahaman memaknai perjuangan sebagai alat untuk mentransformasikan nilai-nilai keIslaman yang membebaskan (Libration force), dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustadhafin). Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman perkaderan dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya.

Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran.

Ketiga, seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pola aspek kualitas. Keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan “sosial engineering”.( Hasil-Hasil Kongres HMI XXVII, 2010, Hal. 308-309)

Tugas kader-kader HMI adalah untuk melibatkan sisi-sisi derivasi keanekaragam pemikiran, dengan peningkatan intensitas dan kualitas diskursus keIslaman di setiap tingkatan organisasi. Jika bisa dilaksanakan dengan baik, maka bisa di perkirakan akan muncul generasi baru pemikir Islam di Indonesia. (Agussalim Sitompul, 1997 Hal.33).

  1. Maksud dan tujuan pengkaderan

Maksud dan tujuan perkaderan adalah usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sistematis sebagai   alat transformasi   nilai   ke-Islaman   dalam   proses rekayasa peradaban melalui pembentukan kader berkualitas muslim- intelektual-profesional sehingga berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan pedoman perkaderan HMI.

Segala usaha pembinaan yang mengarah kepada peningkatan kemampuan mentransformasikan ilmu pengatahuan ke dalam perbuatan nyata sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya secara konsepsional, sistematis dan praksis untuk mencapai prestasi kerja yang maksirnal sebagai perwujudan amal shaleh. (Hasil-Hasil Kongres HMI XXVII, 2010, Hal. 313)

Penjelasan dari membentuk kader yang muslim-inteektual- profesional ialah, muslim (integritas watak dan kepribadian muslim), yakni kepribadian yang terbentuk sebagai pribadi muslim yang menyadari tanggung jawab kekhalifahannya dimuka bumi, sehingga citra akhlakul karimah senantiasa tercermin dalam pola pikir, sikap dan perbuatannya, dan juga intelektual Yakni segala usaha pembinaan yang mengarah pada penguasaan dan pengembangan ilmu (sains) pengetahuan (knowledge) yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Serta profesional sehingga berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan pedoman perkaderan HMI.

segala usaha pembinaan yang mengarah kepada peningkatan kemampuan mentransformasikan ilmu pengatahuan ke dalam perbuatan nyata sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya secara konsepsional, sistematis dan praksis untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal sebagai perwuju dan amal shaleh.

F. Pembentukan Karakter Anggota (kader HMI)

  1. Pengertian Karakter

Akar dari semua tindakan yang   jahat dan buruk, tindakan kejahatan, terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang kuat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakantindakan tidak bermoral. (Muchlas Samani, 2012, Hal. 41).

Menurut Megawangi karakter berbeda dengan moral dimana moral lebih cenderung pada pengetahuan seseorang terhadap nilai-nilai yang benar dan nilai-nilai yang salah serta tergantung dengan kondisi masyarakatnya sedangkan karakter adalah tabiat seseorang yang langsung di-drive dari otak namun dapat dibimbing kearah yang lebih baik dengan pembiasaan (habituasi). (http://www.lpmpalmuhajirin.com). Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa karakter adalah gambaran tingkah laku atau prilaku seseorang yang dinilai dengan norma norma dalam masyarakat.

  1. Unsur-Unsur Pembentukan Karakter

Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena di dalam pikiran terdapat seluruh progam yang terbentuk dari pengalaman hidupnya yang   menjadi merupakan pelopor segalanya. Progam ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang bisa mempengaruhi perilaku seseorang. Jika progam yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Dan jika perilaku tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

Menurut, Joseph Murphy mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri berbeda. Dan kedua ciri tersebut, dikenal dengan istilah pikiran sadar (conscious mind) atau pikiran objektif dan pikiran bawah sadar (subconscious mind) atau pikiran subjektif.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter

Menurut Masnur Muslich dalam bukunya Pendidikan karakter menjelaskan bahwa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan atau pembinaan karakter itu terdapat 8 faktor, yaitu:

a) Guru

b) Selebriti/Idola

c) Tokoh Masyarakat d) Teman Sejawat

e) Kedua Orang tua

f) Media Cetak

 G. Pola Perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam Membentuk Karakter Anggota

Perkaderan HMI adalah proses upaya organisasi untuk mengaktualisasikan potensi manusia bagi para anggota HMI sesuai dengan ajaran Islam dalam rangka meningkatkan kualitas dirinya menjadi kader yang memiliki kemampuan serta kesediaan menghayati, mengamalkan dan mengembangkan dalam dimensi kemasyarakatan, kebangsaan dan Negara. Hal itu berarti perkaderan HMI pada dasarnya merupakan usaha meningkatkan kualitas kader HMI yang meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan secara menyeluruh.

Agussalim Sitompul mengungkapkan HMI sendiri merupakan organisasi yang memiliki kepribadian sejak ia berdiri. kepribadian itu mula-mula bersumber pada nauri, kemudian terungkap dalam sikap, tertulis atau terucap. Rangkaian ungkapan-ungkapan naluri itu kemudian disebut kepribadian HMI.

Dari naluri naluri tersebut telah terbentuk suatu kepribadian yang menunjukkan kerakteristik sebagai berikut :

  1. Berintegrasi dengan dan dalam Kehidupan Nasional Bangsa.
  1. Berfikir, bersikap dan melangkah secara mandiri.
  1. Turut serta dalam dan turut memelihara Ukhuwah Islamiah. (Agussalim

Sitompul,1997 Hal. 21)

Pada hakikatnya tugas pokok HMI adalah perkaderan dan secara fungsional berperanan sebagai lembaga perkaderan, maka secara totalitas juga mengembangkan potensi-potensi kader HMI. Guna melaksanakan perkaderan itu, maka diperlukan media-media perkaderan yang dikenal dengan training.

Sebagian besar kegiatan HMI merupakan pendidikan kader yang menitik beratkan pada segi tertentu, meliputi:

  1. Watak dan kepribadian, yaitu memberikan kesadaran beragama, akhlak dan watak. Dengan modal itu diharapkan kader HMI memiliki nilai idealisme dan moralitas yang memadai.
  2. Kemampuan ilmiah, dimana kader HMI harus memiliki ilmu pengetahuan, intelektualitas dan wisdom (kebijaksanaan).
  3. Aspek ketrampilan dalam melaksanakan tujuan dan misi organisasi. (Sidratahta Mukhtar,2006 Hal. 90-91).

Dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi kader, HMI menggunakan pendekatan sistematik dalam keseluruhan proses perkaderannya Semua bentuk aktifitas/ kegiatan perkaderan disusun dalam semangat integralistik untuk mengupayakan tercapainya tujuan organisasi. (Hasil-Hasil   Kongres HMI,2010, Hal. 308).

Dengan berasaskan islam dan dengan semua kegiatan   yang merujuk pada pembentukan karakter termasuk karakter kader profesional yang bisa membuat HMI kembali mengaung di kampus ataupun di luar kampus.

Pola perkaderan HMI disusun dengan memperhatikan tujuan organisasi dan arah perkaderan yang telah ditetapkan. Selain itu juga dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan organisasi serta tantangan dan kesempatan yang berkembang dilingkungan eksternal HMI.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

  1. Manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja.
  2. Organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri dari dua orang atau lebih, berfungsi mencapai sasaran tertentu
  3. Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis.
  4. Pengertian kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar
  5. Dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi kader, HMI menggunakan pendekatan sistematik dalam keseluruhan proses perkaderannya Semua bentuk aktifitas/ kegiatan perkaderan disusun dalam semangat integralistik untuk mengupayakan tercapainya tujuan organisasi.

B. SARAN

Sebagai seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam kita harus senantiasa mengasah, mendalami nilai dasar perjuangan (NDP) serta memahami AD/ART HMI, sebab dengan 2 hal itu kita akan bisa mencapai tujuan HMI serta menjadi kader yang profesional.

DAFTAR PUSTAKA

Ambar, Rosidah. 2003 Manajemen Sumber Daya Manusia. Graha ilmu: Yogyakarta

Agussalim Sitompul.1997. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah

Perjuangan Bangsa Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media

Hasil-Hasil Kongres HMI XXVII, depok 05-10 november 2010

 Modul LK I Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Surakarta.

Muchlas Samani.2012.Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sidratahta Mukhtar.2006. HMI dan Kekuasaan. Jakarta: Prestasi Pustaka Susilo Martoyo.2000. Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE Veithzal Rivai, (2003). Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s