Visi Misi Ketua Umum 2015-2016

Posted: Februari 29, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-HMI-an, Keorganisasian

بسم الله الرحمن الرحيم8

“..Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”AL-MUJADALAH 11

Ilmu dalam pandangan islam mempunyai peranan yang sangat besar, dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. Bahkan Islam identik dengan ilmu. Ilmu adalah Islam, dan islam adalah Ilmu. Islam menjadikan Ilmu pengetahuan sebagai syarat dan tujuannya. Islam menyamakan pencarian ilmu pengetahuan dengan ibadah. Islam sangat memuji orang yang tekun mencari pengetahuan, menjadikan mereka wali dan sahabat Allah Swt, serta menempatkan nilai tintanya di atas nilai darah syuhada.

Kata ‘ilm termasuk yang berkaitan dengan ‘alam (dunia), dalam pengamatan Rosenthal terdapat 750 kali pengulangan dalam kitab suci Al-Quran. Menempati urutan ketiga sesudah kata Allah Swt dan Rabb yang diulang masing-masing sebanyak 2.800 dan 950 kali. Semua itu memiliki makna tanda, petunjuk, atau indikasi yang denganya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri, indikasi; tanda.[1]

Meminjam istilah Ali Syariati Maka pada dasarnya seorang manusia dituntut tidak hanya menjadi manusia (basyar) yakni makhluk yang sekedar berada (Being) tetapi harus makhluk men-jadi (becaming) yang terus bergerak maju ke arah kesempurnaan, merindukan keabadian, dan tidak pernah menghambat dan menghentikan proses terus menerus ke arah kesempurnaan.

                       Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dilahirkan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, mempunyai motivasi dasar untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dan mempunyai derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Motivasi dasar inilah yang menjadi wawasan dan komitmen kebangsaan dan keislaman bagi pengembangan organisasi.

Sebagai organisasi berasas Islam maka setiap gerak langkah HMI senantiasa dilandasi oleh ajaran Islam baik dalam kehidupan organisasi maupun yang tercermin dalam sikap pola pikir, sikap dan tindak kader HMI sehingga ajaran Islam tidak hanya menjadi sumber inspirasi dan motivasi tetapi sekaligus menjadi tujuan yang harus diwujudkan.

Ajaran Islam bagi HMI harus diwujudkan dalam kehidupannya, baik dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT maupun dalam tugas kekhalifahannya. HMI berusaha secaraa nyata untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu masyarakat adil dan makmur yang dirdhoi Allah SWT, serta mampu menjaga eksistensi bangsanya di tengah interaksi bangsa-bangsa di dunia.

HMI merupakan wadah sekaligus instrumen harus mampu memberikan sumbangsih yang bermanfaat bukan hanya untuk para anggotanya namun sekaligus untuk masyarakat, bangsa, negara dan agama serta mampu menempatkan dirinya menjadi “Rahmatan lil Al ‘Alamin”.

Pemantapan fungsi kekaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling mendasar.

            Atas faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI yaitu :

“TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG

BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS

TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR

YANG DIRIDHOI ALLAH SWT”[2]

            Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan mendidik dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

HMI komisariat ahmad dahlan I yang memiliki lahan garap di lima fakultas yaitu Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Fakultas Kedokteran Umum (FKU), Fakultas Farmasi (FF) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), harus berupaya dalam menjalankan aktivitasnya senantiasa mengarah pada pembentuan integritas watak dan keperibadian, pengembangan kualitas intelektual, pengembangan kemampuan professional dan pembentukan karakter kemandirian. Usaha-usaha dalam mewujudkan keempat aspek harus terintegrasi secara utuh sehingga kader HMI benar-benar lahir menjadi pribadi muslim intelektual professional yang mampu menjawab tuntutan zaman.

Fenomena kemunduran HMI secara umum baik secara kualitas dan kuantitas, yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini, dan kondisi tersebut tentunya akan ikut mempengaruhi tingkat produktivitas organisasi HMI dan tidak menutup kemungkinan hal ini akan berdampak pada eksistensi HMI sendiri untuk kedepannya. Lebih jelasnya lagi bisa digambarkan kemunduran HMI secara kualitas mencakup pada, ; 1.menurunnya tingkat kesadaran berorganisasi kader, 2. Minimnya intelektual kader yang didasarkan pada basic keilmuan/akademis masing-masing kader, 3. Minimnya intelektual kader dalam wacana-wacana keilmuan yang bersifat umum.   

Kemudian dari pada itu pada akhri tahun ini, tepatnya 31 Desember 2015 akan diberlakukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dimana elemen bangsa ini dituntut berfikir cermat, bertindak cerdas menghadapi nuansa persaingan Negara-Negara ASEAN ini. Dilanjutkan Pada tahun 2025-2045, menurut analisa kependudukan bangsa Indonesia akan memiliki manusia-manusia produktif (berumur 15-45) berkisar 70 % dari seluruh penduduk Indonesia. Hal tersebut biasa disebut dengan bonus demografi. Setidaknya ada 3 gambaran perkembangan SDM di era membludaknya manusia produktif ini, yaitu apakah menurun, statis, atau berkembang baik secara kualitasnya.

Didasari pada fenomena tersebut, serta demi mencapai misi organisasi maka kemudian Arah Perjuangan  HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I Periode 2015-2016, untuk setengah periode akhir kedepan, akan menitik beratkan pada pembinaan sumber daya kader yang berorientasi pada peningkatan kapasitas keilmuan serta upaya peningkatan produktivitas organisasi yang pastinya hal tersebut akan di ikuti oleh peningkatan jumlah kuantitas kader dengan sendirinya. Dan untuk mewujudkan cita-cita tersebut tentunya membutuhkan usaha yang dilaksanakan secara sadar, teratur dan sistematis serta selaras dengan pedoman perkaderan HMI sehingga memungkinkan anggota HMI KOMADI kedepannya mampu  mengaktualisasikan potensi dirinya sebagai seorang kader Muslim-IntelektualProfesional  serta memiliki kualitas insan cita. Amien

Sebagaimana idealnya, dalam upaya mengaktualisasikan hal tersebut selama setengah periode akhir kedepan ini tentunya  membutuhkan rencana dan strategi yang matang dalam hal menetukan skala prioritas targetan ataupun indikator keberhasilan  baik yang sifatnya jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang sebagaimana yang akan dicapai dengan masing-masing jangka waktunya.

            Visi
Membangun Tradisi keilmuan yang kompetitif dalam mewujudkan Insan Cita HMI”

Tradisi[3]keilmuan yang kompetitif[4] berarti tradisi yang diwujudkan dengan sifat kompetitif untuk melepaskan keilmuan yang kosevatif, usang, dan tidak berkembang. Karena melihat pemaknaan tradisi, sejatinya tradisi bersifat progresif; ia akan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Di era informasi ini, penuh dengan nuansa kebebasan dalam kontek perolehan pengetahuan, kita dituntut melakukan trobosan-trobosan yang unggul melalui upaya pelaksanaan perkaderan yang jauh lebih produktif. Jika kader-kader HMI tidak memiliki sesuatu yang unggul, maka mereka tidak akan pernah muncul sebagai garda terdepan dalam dunia kemahasiswaan, keumaatan dan keindonesiaan. Tradisi yang berjalan selama pelaksanaan perkaderan, akan menjadi sebuah tradisi yang didokumentasikan dan dinilai. Maka HMI Komisariat Ahmad Dahlan I kedepan adalah terlihat dengan bagaimana mereka melakukan proses perkaderannya. Ada gambaran kemungkinan, yang akan diperoleh pada akhir perjuangan, perkaderan ini akan berkembang, statis atau mundur. Seorang yang berjuang harus sadar pula, umur perjuangan itu lebih panjang dari pada yang melakukanya, sehingga perkaderan setiap periodenya memiliki sekala waktu perjuangan, bisakah melakukan lompatan-lompatan yang baru dan jauh lebih berkembang dan memungkinakan menjawab keseluruhan kebutuhan kader, masyarakat dan mahasiswa pada umumnya.

Insan Cita HMI merupakan Man Of future, insanpelopor yang berfikiran luas, berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil dalam bidangnya. Dia sadar apa yang menjadi cita-citanya. Tahu bagaimana cara berjuang, yang secara operatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan.

Ideal Type hasil perkaderan HMI adalah man of inovator atau duta-duta pembaharu. Bahwa suara idea of progress, yaitu insan yang berkepribadian imbangdan padu, dinamis, adil,dan jujur. Insan yang jauh dari sikap taqabbur serta bertaqwa kepada Allah Swt. Kader-kader HMI adalah manusia yang beriman, berilmu dan mampu beramal saleh dalam kualitas maksimal (Insan Kamil).

Insan Cita HMI pada hakikatnya adalah merupakan tujuan dalam setiap Anggota HMI. Insan cita HMI adalah gambaran masa depan HMI. Insan Cita HMI merupakan intelectual community, yaitu kelompok intelegensia yang mampu merealisasikan cita-cita umat Islam dan bangsa Indonesia dalam satu kehidupan masyarakat yang sejahtera secara spiritual, adil, makmur, serta bahagia yang di ridhoi Allah Swt. Suksesnya seorang HMI dalam membina dirinya untuk mencapai Insan Cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI. Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya pada kualitas insan cita HMI sebagaimana yang diatur dalam AD HMI, serta untuk setiap anggota HMI harus mampu mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen.

Sekarang ini, kita mesti berpikir lebih cerdas dan bekerja lebih keras untuk membuat babak baru bagi pekaderan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Tantangan kemajuan dalam perkaderan khususnya di HMI komisariat Ahmad Dahlan I sekarang ini jauh lebih besar dan kompetible, demi mewujudkan generasi yang kuat dan unggul serta menghasilkan prodak-prodak keilmuan sebagai bentuk aktualisasi proses perkaderan yang produktif, maka kita membutuhkan strategi dan taktik yang jauh lebih visionable, up todate, realistis-rasional,

Misi

“Membangun Produktifitas Perkaderan”

#Kualitas           : Membangun pola pembelajaran yang trategis dan massif dan menghasilkan kader yang mempunyai keredebelitas intelektual yang tinggi. (Bidang PPPA, Bidang PP dan Bidang KPP Dep. Pengembangan Profesi)

#Kuantitas         : Melakukan strategi requitmen yang optimal sehingga menghasilkan input kader-kader yang berkualitas. (PTKP dibantu dengan bidang PPPA dan seluruh pengurus lainya)

“Membangun Etos juang dan Solidaritas Kepengurusan”

Etos juang dalam sebuah kepengurusan sangat dibutuhkan karena ini merupakan sebuah pandangan dan semangat perjuangan yang khas bagi semua kader HMI terkhusus komisariat Ahmad Dahlan I. Keyakinan atas tercapainya tujuan yang menyatukan kebersamaan kita berhimpun dan bercita (Lihat pasal 4 AD HMI) ini adalah dengan menumbuhkan solidaritas kepengurusan. Demikian pengawalan solidaritas akan dijalankan oleh seluruh elemen pengurus dalam menjalin persaudaraan menempuh tujuan bersama. Dalam hal ini Bidang administrasi dan kesekretariatan dan bidang keuangan dan perlengkapan sebagai bidang pelayanan mengambil peran untuk membangun etos demi lancarnya keberlangsungnya kepengurusan yang ideal.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Assof 04.

[1] Alim, Akhmad. “Sains dan Teknologi ISLAM”. (Bandung 2014: PT REMAJA ROSDAKARYA) hal. 09

[2] Lihat di Hasil-Hasil Kongres XXVIII tahun 2013.

[3] Menurut keterangan dalam kamus filsafat lorens, tradisi berasal dari bahasa latin, traditio-tradire: menyerahkan dari aspek sejarah yakni berupa adat istiadat, nilai-nilai dan aturan-aturan. Tradisi ini bersifat progresif, dihubungkan dengan perkembangan kreatifitas kebudayaaan atau pandangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks keilmuan, berarti kontinuitas pengetahuan atau metodelogi penelitian, juga dapat bermakna diwariskan dan akan mewariskan kontiunitas atau komitmen kepada ilmu pengetahuan.

[4] Berarti berkepribadian unggul dan cinderung akan keunggulanya. Bersemangat juang tinggi, mandiri, produktif, pembangun dan pembina jaringan, dan bersahabat denga perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s