PERAN HMI DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN AJARAN TENTANG KHALIFAH FIL ARDH

Posted: Maret 3, 2016 in Intelegensia Muslim

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Lataderianr Belakang

Ada banyak ayat dan surah dalam Al–Qur’an yang menyinggung soal manusia dan eksistensinya sebagai khalifah fil-ardh, sebagai penanggung jawab dari proses dialektika sejarahnya. Di mulai dari penciptaan Nabi Adam AS yang menuai protes dari iblis dan setan, serta tindakan – tindakan manusia korup, dengki dan kediktatoran manusia keturunan Nabi Adam yang di kisahkan dalam Al-Qur’an. Diserahi tanggung jawab untuk melestarikan bumi dan seisinya, merupakan sebuah amanah langit yang diemban oleh manusia tatkala alam (gunung-gunung, lautan) tak dapat menanggung beban serta menolak tugas tersebut. Gambaran demikian menunjukkan bahwa, betapa mulia dan dianggungkannya manusia dihadapan Allah SWT dibanding berbagai entitas makhluk yang menghuni dunia ini (malaikat, jin, iblis) yang senantiasa bertasbih dan memuja PadaNya. Terbentuk dari lumpur yang hina Dinah, kemudian ditiupkan Ruh Ilahi, menjadikan manusia tetap “superior” dibanding makhluk lainnya. Puncak ciptaan tertinggi inilah (manusia) yang menjadi wakil Tuhan di muka bumi dengan berbagai tugas mulia yang menimbulkan protes dan cemburu para pemuka langit yang tidak mau bersujud pada Nabi Adam sebagai manusia pertama dan “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” Allah Swt membantah kecaman para Malaikat dan iblis.

Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Dimana fitrah manusia adalah satu penunjang eksistensinya untuk turut dan cenderung pada kebenaran serta kebaikan. Hal itu melukiskan betapa manusia mewakili sifat-sifat Tuhan.

1 Nurcholis Madjid – Islam Doktrin & Peradaban ( Paramadina, 1992) hal 305

(Ar-Rahman, Ar-Rahim) karena adanya Ruh yang telah ditiupakan mencerminkan fitah kesucian. Oleh karena kesucian dan kebaikan itu fitri dan alami bagi manusia, ia membawa rasa aman dan tenteram dalam dirinya. Keinginan tersebut termanifestasi berupa rasa keadilan, cinta dan keindahan yang semuanya dapat dikategorikan sebagai aktivitas amal saleh. Selain itu, fitrah merupakan sunnatullah sebagai bentuk pembeda secara esensial antara manusia dan makhluk lainnya. Namun disamping fitrah-nya, manusia juga memiliki sifat kelemahan1 . Kelemahan itu bukannlah kejahatan tetapi menjadi pintu bagi masuknya kejahatan pada manusia. Akibatnya, perilaku serta aktivitas manusia tidak senantiasa atau selalu “berpihak” pada fitrahnya sendiri karena kelemahannya tersebut. Maka dari itu kejahatan pun merupakan bagian dari hakikat manusia, sekalipun hakikat sekunder (hakikat primernya tetap fitrah-nya yang suci)2.

Tidak ada konsep Kitab Suci tentang manusia yang lebih terkenal dari ajaran bahwa manusia yang lebih terkenal dari ajaran bahwa manusia adalah Khalifah (wakil, pengganti, duta) Tuhan di bumi. Penuturan tentang kekhalifaan itu terdapat dalam kitab suci berkenaan dengan Adam (Islam Doktrin dan peradaban). Agama-agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) berpandangan bahwa Adam adalah manusia pertama dan bapak umat manusia (abu al-basyar). Tetapi juga ada petunjuk bahwa Adam a dalah “representasi” umat manusia secara keseluruhan, dari masa awal sampai masa akhir sejarahnya3

1 Nurcholis Madjid – Islam Doktrin & Peradaban ( Paramadina, 1992) hal 305

2 Ibid., hal 306

3 Ibid., hal 302

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka ada beberapa poin yang bisa penulis rumuskan sebagai berikut:

  1. Apa fitrah manusia dalam pandangan Al-Qur’an dan Hadist ?
  2. Bagaimanakah fitrah manusia mampu mempengaruhi karakter seorang khalifah ?
  3. Apa tugas serta tanggung jawab terhadap seorang khalifah ?
  4. Apakah pemimpin di era sekarang sudah layak dikatakan sebagai khalifah?
  5. Bagaimana peran kader HMI terhadap aplikasi ajaran islam tentang khalifah fil ardh?
  6. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

  1. Untuk memenuhi syarat mengikuti latihan kader 2 HMI Cabang Sukoharjo.
  2. Untuk memahami fitrah kita sebagai manusia.
  3. Untuk menambah pemahaman tentang khalifah fil ardh.
  4. Untuk mengetahui tugas serta tanggung jawab sebagai seorang khalifah.
  5. Untuk mengetahui pemahaman khalifah dari berbagai pendangan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Fitrah manusia dalam perspektif islam

Secara tegas istilah “Fitrah”dalam al-Qur’an hanya disebutkan sekali, yaitu terdapat dalam surat al-Rum ayat 30. Kata ini berasal dari kata fatara,yafturu, fatran. Bila dirunut dari asal-usul kata dan bentuk musytaq Nya. al-Qur’an menyebutkannya sebanyak 19 kali. Secara bahasa kata “fitrah” mempunyai arti ciptaan atau sifat pembawaan (yang ada sejak lahir), fitrah, agama dan sunnah. Menurut Louis Ma’luf kata fitrah berarti mencipta/membuat sesuatu yang belum pernah ada yaitu suat sifat yang setiap yang ada ini disifati olehnya sejak awal penciptaanya, atau sifat pembawaan, agama dan sunnah Makna fitrah secara bahasa/harfiyah ini disinonimkan/disepadankan dengan kata “khalaqa”. Kata khalaqa banyak digunakan oleh Allah untuk menyatakan penciptaan sesuatu, seperti khalaqallahus samawati wal ard (Allah telah menciptakan langit dan bumi). Contoh lain dari penggunaan kata khalaqa terdapat pada surat al-‘alaq ayat 2, Khalaqal insaana min ‘alaq (Dia Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah). Kedua contoh ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika Allah menciptakan makhluk-Nya tidak diawali oleh adanya bahan dasar ciptaan. Oleh karena itu semua ayat yang menggunakan kata khalaqa menisbatkan fa’ilnya (pelakunya) kepada Allah, karena hanya Dialah yang mampu menciptakan segala sesuatu yang tidak memiliki bahan dasar awalnya. Sementara manusia mampu membuat sesuatu karena bahan dasarnya sudah tersedia di alam raya ini.

Merujuk pada pendapat tersebut, kata fitrah dan bentuk mustaq-nya dalam al-Qur’an disandarkan pelakunya kepada Allah. Kata yang fitrah yang di taraduf kan (disamakan) dengan khalaqa menurut Achmadi sebagaimana dikutip oleh Usman Abu Bakar dan Surohim berarti kejadian asal. Bila dikaitkan dengan kejadian manusia maka pengertiannya adalah kejadian asal atau pola dasar kejadian manusia, dan bila dikaitkan dengan sifat-sifat manusia maka pengertiannya ialah sifat asli kodrati yang ada pada manusia. Pertanyaan yang muncul adalah apa kejadian asal manusia dan sifat kodrati apa yang ada pada manusia ?. Menurut Ibnu Kasir, manusia sejak awal diciptakan Allah dalam keadaan Tauhid, beragama Islamdan berpembawaan baik dan benar. Sejalan dengan pendapat Ibnu Kasir al-Maragi berpendapat bahwa Allah menciptakan dalam diri manusia fitrah yang selalu cenderung kepada ajaran tauhid dan meyakininya. Hal itu karena ajaran tauhid itu sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh akal dan yang membimbing kepadanya pemikirannya yang sehat. Makna fitrah seperti tersebut di atas sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya: Semua anak itu dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), hanya kedua orang tuanyalah yang meyahudikannya, menasranikannya atau memajusikannya. (HR. Bukhari). Pengakuan manusia akan keesaan Allah merupakan sifat kodrati yang melekat pada dirinya. Sifat tersebut akan menyatu pada dirinya sampai ada pihak lain yang mampu membuatnya menyimpang dari sifat asal tersebut. Nabi menyebut yahudi, nasrani dan majusi sebagai bentuk penyimpangan fitrah manusia mengindikasikan adanya pembelokan tauhid yang dHakukan oleh pemeluknya. Pengakuan akan keesaan Allah yang terkandung dalam ajaran tauhid bukan saja pengakuan dan keyakinan adanya Allah yang maha Esa, tetapi semua ajaran yang timbul dari keesaan Allah juga menjadi sifat kodrati yang dimiliki oleh manusia. Ajaran yang muncul dari dimensi tauhid terangkum dalam ajaran syariat Islam secara menyeluruh, karena antara tauhid dan syariat Islam merupakan dua hal yang saling melengkapai dan saling mengisi sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Eksistensi dari kedua dimensi tersebut dapat diumpamakan seperti dua sisi mata uang yang selalu kait mengkait dan saling melengkapi. Apabila mata uang telah kehilangan salah satu sisinya dengan sendirinya uang tersebut akan kehilangan nilai kegunaannya. Hamka dalam tafsir al-Azhar menafsirkan fitrah sebagai rasa asli murni dalam jiwa manusia yang belum kemasukan pengaruh dari yang lain, yaitu pengakuan adanya kekuasaan tertinggi dalam alam ini, yang maha Kuasa, maha Perkasa, maha Raya, mengagumkan, penuh kasih sayang, indah dan elok. Sejalan dengan hadis di atas Hamka mengakui adanya campur tangan pihak lain akan membawa pengaruh kepada fitrah yang telah tertanam dalam diri manusia. Campur tangan tersebut tidak harus datang dari orang tua sendiri, tetapi pihak lain yang bersentuhan dengan orang tersebut akan membawa pengaruh kepadanya. Jika pengaruh itu tidak baik maka akan menggiring manusia keluar dari fitrahnya. Jika manusia telah menentang adanya Allah berarti ia telah melawan fitrahnya sendiri. Al-Tabari dengan redaksi lain berpendapat bahwa fitrah itu bermakna murni atau ikhlas. Murni artinya suci yaitu sesuatu yang belum tercampur dan ternoda oleh yang lain.

Muhaimin dkk juga menjelaskan makna fitrah sebagai suatu kekuatan atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap/menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepada Allah, cenderung kepada kebenaran (hanif). Penjelasan makna fitrah sebagaimana tersebut di atas lebih menafsirkan fitrah dari aspek aqidah yang bersentuhan dengan keyakinan dan pengakuan manusia akan keberadaan Allah, sehingga makna fitrah lebih terkait dengan urusan jiwa manusia. Lantas pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pembawaan manusia yang bersifat fisik atauJasmani ? Satu hal yang mesti harus disadari adalah bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur. Pertama, unsur jasmani yang selalu bisa ditangkap oleh indera manusia dan kedua, unsur jiwa yang keberadaannya tidak dapat ditangkap oleh indera. Masing-masing dari kedua unsur tersebut memiliki pembawaan asli yang dibawa sejak lahir, yang dalam perjalanan hidup tidak bisa dipandang remeh.

Dalam kesempatan lain Muhaimin dkk memberikan pengertian fitrah sebagai alat-alat potensial dan potensi-potensi dasat yang harus di aktualisasikan dan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata di dunia. Untuk menguatkan pendapatnya tersebut Muhaimin dkk mengutip pendapat Abdul Fatah Jalal yang memerinci alat-alat potensial manusia ke dalam beberapa hal. Menurut AbduI Fatah Jalal manusia dianugerahi 5 macam alat potensial yang dapat digunakan untuk meraih Hmu pengetahuan. Kelima alat tersebut adalah:

  1. al-lams & al-syums( alat peraba dan alat pencium/pembau),sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-An’am ayat 7 dan Q.S. Yusuf ayat 94.
  2. Al-Sam’u (alat pendengaran). Penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu, yang menunjukkan adanya saling melengkapi antara berbagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al al-isra’ ayat 36, aI-Mu’minun ayat 78, al-Sajdah ayat 9, al-Muluc ayat 23 dan sebagainya.
  3. al-Absar(pengtihatan). Banyak ayat aI-Qur’an yang menyeru manusia untuk melihat dan merenungkan apa yang dilihatnya, sehingga dapat mencapai hakekatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-A’raf ayat 185, Yunus ayat 101, al-Sajdah ayat 27 dan sebagainya.
  4. Al-Aql (akal atau daya berfikir). Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan akal dalam berfikir, sebagaimana firman AUah dalam Q.S. Ali Imran ayat 191. Dalam AI-Qur’an dijelaskan bahwa penggunaan akal memungkinkan diri manusia untuk terus ingat (zikr) dan memikirkan/ merenungkan ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al- Ra’d ayat 19. Dan penggunaan akal memungkinkan manusia mengetahui tanda-tanda (kebesaran/ keagungan) Allah serta mengambil pelajaran dari padanya. Dalam berbagai ayat, kata al-nuha sebagai makna al-‘uqul sebagaimana fiiman-Nya daIam Q.S. Thaha ayat 53-54 dan sebagainya.
  5. Al-qalb (kalbu). HaI ini termasuk alat ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu, sebagaimana firman Allah Q.S. al-Hajj ayat 46, Q.S. Muhammad ayat 24 dan sebagainya. Kalbu ini mempunyai kedudukan khusus dalam ma’nfah ilahiyah, dengan kalbu manusia dapat meraih berbagai ilmu serta rna’rifah yang diserap dari sumber iIahi. Dan wahyu itu sendiri dirurunkan ke dalam kalbu Nabi Muhammad SAW sebaginiana firman Allah-Nya Q.S. al-Syu’ara ayat 192-194.
  6. Pengertian khalifah fill ardh

Untuk memahami secara luas dan tepat mengenai Khalifah, maka dipikir perlu untuk memberi definisi singkat perihal apa Khalifah itu. Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam Al- Qur‟an yaitu dalam Surah al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26. Sedangkan dalam bentuk plural ada dua bentuk yang digunakan yaitu: (a) khalaif yang terulang sebanyak empat kali terdapat dalam surah al- An‟am ayat 165, surah Yunus ayat 14 dan 73 dan surah Fathir ayat 39; (b) khulafa‟ terulang sebanyak tiga kali pada surah al- A‟raf ayat 69 dan 74 dan surah al-Naml ayat 62. Keseluruhan katatersebut pada berakar dari kata khalafa yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini kata khalifah sering kali diartikan sebagai “pengganti”4

Menurut Ensiklopedia Islam, kata khalifah berasal dari kata Bahasa arab, khalifah yang artinya wakil pengganti atau duta. Dalam manusia adalah khalifah, yakni sebagai wakil, pengganti atau duta tuhan di muka bumi. Dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi, manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu5 . Pada tataran empirik sejarah Islam, kata khalifah juga mengandung makna pengganti Nabi Muhammmad SAW dalam fungsinya sebgai kepala Negara, yaitu pengganti Nabi SAW dalam jabatan kepala pemerintahan dalam islam, baik untuk urusan agama maupun urusan dunia. Secara terminologis

Kekhalifahan manusia ini mempunyai implikasi prinsipil yang luas. Disebabkan oleh Kedudukannya sebagai “duta” Tuhan di bumi, maka manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu5 . Manusia diharapkan untuk

  1. Ibid., Hal. 35
  2. Ibid., Hal. 1384

senantiasa memperhatikan amal perbuatannya sendiri sedemikian rupa, sehingga dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Pengadilan Ilahi kelak. Pertanggung jawaban manusia kelak di akhirat merupakan konsekuensi dari amanah yang dipikul sebagai khalifah. Sebuah konsekuensi yang dimana alam, lautan dan gunung – gunung tak dapat menanggungnya. Tugas kekhalifahan manusia juga berhubungan erat dengan kemampuan manusia menggunakan potensi akal yang dimilikinya dihubungkan dengan fenomena alam yang muncul di sekelilingnya. Inilah sebenarnya yang menjadi latar belakang mengapa pencarian ilmu pengetahuan didalam konsep Islam merupakan perbuatan yang diwajibkan Allah. Misi manusia sebagai Khalifah dalam arti pengganti atau penguasa maupun pewaris di bumi, tentu hanya dapat terlaksana apabila manusia dibekali dengan sebuah instrumen yang dimana instrument tersebut dapat membantunya secara teknis, tentang apa atau bagaimana saya sebagai manusia bisa lakukan dalam perjalanannya di bumi. Instrument tersebut berupa kesadaran diri, kemampuan rasionalitas dan potensi akal manusia sampai pada hati nurani, yang dapat memungkinkan terwujudnya cita – cita kekhalifaan di bumi. Selain dari petunjuk pokok yakni Al – Qur‟an dan Hadist Nabi. Muara dari semua prinsip ke-khalifahan manusia ialah reformasi bumi. Untuk pengertian “reformasi” itu Al-Quran menggunakan kata- kata “ishlâh” yang berakar sama dengan kata-kata “shâlih” (saleh) dan “mashlahah” (maslahat). Semuanya mengacu kepada makna baik, kebaikan dan perbaikan. Paham tentang reformasi bumi (ishlâh al-ardl) dapat disimpulkan dari paling tidak dua firman yang terjemahnya seperti berikut: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah di ” reformasi ” , dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa cemas dan harapan . Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Qs Al‟araff : 56)6

6 ibid., hal. 250

  1. Tugas dan tanggung jawab khalifah fill ardh

Adam sebagai khalifah menerima amanah dari Allah swt untuk ditunaikan dan dijalankan. Demikian juga Nabi Daud as diperintahkan untuk menegakkan hukum-hukum dengan adil setelah Ia diangkat menjadi khalifah. Hal ini sangatlah logis karena penegakan hukum di tengah-tengah masyarat baru dapat berjalan secara efektif, apabila didukung oleh kekuasaan. Pemahaman seperti ini menggambarkan bahwa pemimpin dalam pandangan Alquran, selain sebagai wakil Tuhan di bumi dan penegak hukum, juga merupakan hal yang mesti ada di dalam suatu komunitas. Selain itu dapat juga dipahami bahwa penegakan hukum-hukum Allah swt di bumi merupakan tugas para pemimpin. Oleh karena itu, penegakan hukum baru dapat terlaksana dengan baik kalau mendapat dukungan politik, meskipun naṣ (Alquran dan al-Sunah) tidak menegaskan kewajiban mendirikan daulah bagi Islam, tetapi umat Islam berkewajiban mengangkat pemimpin yang merupakan salah satu unsur penting dalam daulah. Adapun ayat yang berbicara tentang khalifah yang ada asbāb al-nuzūl hanya Q.S. al-Nur (55). Sabab al-nuzul ayat ini berdasar pada kisah Rasulullah saw. pada saat sampai di Madinah, pada saat itu, Rasulullah saw. dan para sahabatnya tidak melepaskan senjatanya baik pada siang maupun pada malam hari, karena selalu diincar oleh orang kuffār Arab Madinah. Kemudian para sahabat berkata kepada Nabi “kapan tuan dapat melihat kami hidup aman dan tentram tidak takut kecuali kepada Allah Q.S. al-Nūr (24): 55 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai jaminan Allah bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi ini. sebab turunnya ayat ini tampaknya menjadi landasan beberapa orang mufasir dalam menafsirkan ayat tersebut.tidak sembarang orang dapat menjadi seorang khalifah dimana terdapat 5 sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang khalifah Kelima sifat terpuji tersebut menarik untuk dianalisis; pertama, seorang khalīfah hendaklah mampu memberikan rakyatnya petunjuk kepada jalan yang lurus sesuai dengan perintah Allah. Hal ini dapat dimaksudkan sebagai bimbingan maupun penyuluhan secara langsung dari khalīfah maupun melalui para pembantunya atau kepada mereka yang ditugaskan oleh khalīfah, agar rayak memiliki pengetahuan sehingga dapat merealisaikan akhlak yang mulia di tengah-tengah masyarakat; kedua, khalīfah adalah orang yang diberikan Allah swt keinginan untuk berbuat kebajikan. Seorang khalīfah haruslah seorang yang taat beribadah kepada Allah, karena dia adalah teladan. masyarakatnya dari segala tindakannya; ketiga, khalīfah adalah hamba Allah yang mampu merealisasikan penghambaannya kepada Allah melalui perbuatannya; keempat, adalah manusia yang mampu bersabar dalam menjalankan tugasnya. Sebagai khalīfah, tantangan yang dihadapi sungguh sangat berat, Oleh karena itu, kesabaran merupakan kunci keberhasilan dalam kepemimpinan; dan kelima, manusia yang memiliki keteguhan iman kepada Allah swt. Seorang khalīfah, agar tidak tergelincir kepada jalan yang sesat, harus memiliki iman yang kuat.

Dalam masa empat khalifa al-rasyidin saja dapat dilihat kebijaksanaan masing-masing mereka yang sangat bervariasi, terutama sekali dalam masalah suksesi. (M. Hasbi Zainuddin, 2000). Misalnya Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi Muhammad saw wafat. Umar Bin Khattab mendapat kepercayaan sebagai Khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam suatu forum musyawarah terbuka, tetapi melalui penunjukkan dan wasiat pendahulunya. Sebagaimana pada akhir hidupnya, Khalifah Abu Bakar sibuk bertanya pada banyak orang, “bagaimana pendapatmu tentang Umar”? hampir semua orang menyebut Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik. Setelah itu, Abu Bakar meminta kepada Usman bin Affan untuk menuliskan wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar. Tampaknya Abu Bakar khawatir jika umat Islam akan berselisih pendapat bila ia tak menuliskan wasiat. Utsman bin Affan menjadi Khalifah yang ketiga melalui pemilihan oleh sekelompok orangorang yang telah ditetapkan oleh Umar sendiri sebelum Ia wafat. Umar memberikan enam nama yaitu Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah. Pada akhirnya yang lainnya mundur dari pencalonan dan tinggallah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dan terpilihlah Umar untuk menjadi Khalifah tertua pada waktu dengan usia 70 tahun. Selanjutnya Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah keempat melalui pemilihan yang penyelenggaraannya jauh dari sempurna (H.Munawir Sjadzali,1990:28-29). Berbeda dengan pendapat Imam Khomeini (2002 : 59) yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw melihat dengan jelas bahwa perselisihan akan sangat mungkin terjadi sepeninggalan beliau saw, dikarenakan terbatasnya pengetahuan mereka akan Islam dan Iman. Atas dasar ini, maka Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan permasalahan berupa siapa yang akan menjadi penerus kepemimpinan beliau.

Mendirikan salat merupakan lambang hubungan yang harmonis kepada pencipta dan menunaikan zakat merupakan lambang keharmonisan kehidupan sosial. Ini menandakan bahwa manusia haruslah memiliki hubungan yang baik secara vertical maupun sosial-horisontal. Menjalankan salat dan menunaikanzakat didahulukan dari menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Hal sangatlah logis karena kedua perintah yang pertama merupakan pembinaan pribadi seorang pemimpin untuk terjun bertugas menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Selanjutnya, tugas khalīfah yang tidak kalah pentingnya adalah menunaikan amānat (Q.S.al-Nisa [4]: 57) “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu untuk menyampaikan amanat-amanat itu kepada pemiliknya” Arti ayat ini apabila dianalisis, memiliki berbagai relevansi. Seseorang yang senanatiasa menjalankan amanah yang diberikan, akan merasa puas dan tenang hatinya karena tidak akan khawatir digugat oleh orang yang memberi amanah itu. Demikian pula orang yang memberi amanah akan merasa tenang, apabila diberikan kepada orang yang jujur karena tidak khawatir berlaku khianat. Selanjutnya orang yang beriman juga jiwanya tenang. Hal ini tidak lepas karena agama menyuruh kepada kebaikan. Sedangkan kebaikan membawa kepada keselamatan. Kemudian orang yang senantiasa menjalankan amānah adalah ciri orang yang beriman dan menjadi orang yang jujur. Orang jujur adalah orang yang paling disenangi dalam berbagai urusan. Dengan demikian orang yang khianat adalah ciri orang menyalahi iman. Sayyid Qutub menjelaskan bahwa amanah adalah kewajiban setiap muslim untuk disampaikan kepada pemiliknya yang meiliputi seluruh tanggungjawab manusia di bumi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa amanah merupakan semua kewajiban dari Allah swt. yang berdimens, baik horizontal yang berhubungan dengan sesama manusia maupun yang berdimensi vertikal yang berhubungan dengan Pencipta.

Eksistensi alam raya (bumi dan langi) secara kesuluruhan, dinisbatkan kepada ummat manusia, disamping hewan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya dan tentu sebagai “arena” untuk berbuat amal – saleh sesuai dengan hukum dan perintah Penciptanya. Bumi yang diciptakan dengan neraca keadilan Allah SWT, dan diserahi untuk seluruh manusia sebagai anugerah dan nikmat Penciptanya. Disamping itu, agar seluruh anugerah yang melimpah tersebut dapat secara terus – menerus dinikmati oleh manusia, maka selaku khalifah dalam alam raya, manusia harus taat pada hukum – hukum penciptaan alam tersebut. Hukum penciptaan alam sebagai sunnatullah yang ditetapkan – Nya, juga disebutkan dalam Al – Qur‟an bahwa alam raya ini diciptakan Allah dengan benar (bi al-haqq) tidak sia-sia (bâthil). Sebagai wujud yang benar (haqq), alam raya juga mempunyai wujud yang nyata (hakikat, haqi-qah). Oleh karena itu, alam raya bukanlah wujud yang semu, maya dan palsu, seperti dalam ungkapan maya pada (dunia yang maya). Sebab, pandangan bahwa alam raya adalah palsu atau berwujud semu belaka, tidak nyata, akan dengan sendirinya menghasilkan pandangan bahwa pengalaman hidup (manusia) dalam alam itu adalah juga palsu, tidak nyata. Akibatnya, pengalaman hidup yang palsu (samsara) itu tidak mungkin memberi kebahagiaan hidup kepada manusia; kebahagiaan hidup itu diperoleh hanya dengan melepaskan diri dari dunia maya, yaitu menempuh hidup bertapa, sebagai bentuk hidup kesucian dan kebebasan murni. Kekhalifaan manusia (wakil Tuhan di bumi) menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sesuai dengan petunjuk – petunjuk Ilahi yang tertera dalam wahyu – wahyuNya. Khusus mengenai interaksi manusia dengan alam, tidak serta merta tanpa aturan maupun prosedur. Solidaritasa terhadap Alam merupakan prinsip hidup yang muncul dari filosofi pandangan para filsuf bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan alam, disamping kenyataan bahwa manusia adalah bagian yang terkait dengan alam semesta. Sebagai agama fitrah dan rahmat bagi seluruh alam semesta, agama Islam juga mengatur tentang bagaimana cara manusia bersikap terhadap alam sekelilingnya. Karena bumi dan isinya diciptakan menurut hukumnya, maka manusia harus senantiasa memperhatikan hukum tersebut dalam setiap pemanfaatan sumber daya alam. Dalam hal itu, pada Surah Al-Rahman ayat 7, Allah berfirman, “Allah menciptakan langit itu tinggi dan kemudian ditetapkan hukum keseimbangan (neraca)” . Bahkan lebih jauh lagi, menurut Nurcholis Madjid, melanggar hukum cosmos sama saja dengan melanggar hukum lainnya (gravitasi, hukum pidana, hukum jual beli) dan akan mengakibatkan disharmoni. Alam raya sebagai manifestasi kebesaran Allah SWT, jika dikelola tanpa proporsionalitas, akan menimbulkan dis-harmonitas (tidak seimbang) ekosistem lingkungan hidup dan berakibat pada pencemaran lingkungan sampai pada perusakan alam. Eksploitasi alam secara berlebihan dapat mengakibatkan banjir, erosi lingkungan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Allah SWT telah memperingatkan manusia dalam Surah Ar-Ruum Ayat 41 bahwa: “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ”. 48 Dengan jelas bahwa kerusakan alam baik di bawah laut dan di darat, itu semua akibat perbuatan tangan khalifah yang tidak tunduk pada hukum pengelolaan alam secara benar dan kerusakan itu merupakan bagian dari sunnatullah akibat dari dilanggarnya keseimbangan (al-mizan) hukum alam. Pandangan kosmologi agama Islam dalam melihat eksistensi alam semesta, yakni meletakkan alam sebagai rahmat dan nikmat bagi seluruh makhluk didalamnya. Relasi manusia dengan lingkungan alam bukan sebagai relasi antara eksploitator dengan yang dieksploitasi, melainkan adanya hubungan simbiosis mutualisme, dimana manusia dijadikan khalifah untuk melestarikan, merawat serta menjaga keberlangsungan kehidupan flora dan fauna, sehingga ikhtiar dari merawat bumi tersebut, memberi manusia sumber nikmat dan kehidupan untuk tetap menjaga eksistensinya dimuka bumi. Hubungan tersebut didasari karena manusia dan alam raya (makro cosmos) merupakan ciptaan Allah dan kedua entitas tersebut sama – sama tunduk secara pasrah kepada Nya, baik yang ada dilangit dan dibumi.7 Pernyataan pemberi tugas kekhalifaan ini, mengundang sang khalifah (manusia) untuk tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, kelompok, atau bangsa dan sejenisnya saja. Ia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang – wenang terhadapnya. Karena dalam islam tidak dikenal istilah penaklukan alam.8 Penaklukan alam muncul dari pandangan mitos yunani yang beranggapan bahwa benda – benda alam merupakan dewa – dewa yang memusuhi manusia sehingga harus ditaklukkan 51 . Makna dari penaklukan alam menggambarkan bahwa, alam tak berdaya di hadapan manusia dan berimplikasi penguasaan manusia atas alam secara berlebih. Jika demikian terjadi, bencana alam adalah hasil dari penguasaan serta penaklukan tersebut. Memang tidak dipungkiri, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantar manusia pada penguasaan alam melalui bentuk penambangan (baik legal maupun ilegal), reklamasi pantai dan eksplorasi sumber daya minyak bumi

7 Ibid., hal. 371

8 Ibid., hal .296

(gas dan minyak) telah membawa manusia pada tahap “krisis ekologis” kontem porer. Dimana rasionalitas nilai yang merupakan rasionalitas yang mengahayati nilai- nilai kehidupan, takluk oleh rasionalitas – instrumental (rasionalitas tujuan) yang berorientasi tujuan dan mengabaikan aturan atas eksplorasi alam. Atau dalam bahasa Herbert Marcuse, rasio instrumental (teknoratis) merupakan biang keladi segala bentuk penindasan dan perbudakan manusia atas manusia, eksploitasi manusia dan eksploitasi alam secara berlebihan.

Etika agama terhadap alam mengantar manusia untuk bertanggung jawab sehingga ia tidak melakukan perusakan atau dengan kata lain “setiap perusak an terhadap lingkungan harus dinilai sebagai kerusakan pada diri manusia sendiri”. Hal demikian memberi bantahan kepada kaum teknokratis yang memandang alam hanya sebagai sarana pemuasan konsumsi manusia dan sebebas – bebasnya mengeksplorasi alam demi akumulasi kapital yang tanpa henti dan tidak mengindahkan efek lingkungan yang timbul dari aktivitas tersebut. Doktrin ajaran agama islam terhadap pemanfaatan alam seperti yang tergambar diatas, tentunya memiliki hikmah dan tujuan yang mulia seperti tidak terbawa pada sikap yang boros dan berlebih – lebihan. Karena berlebih – lebihan mengabaikan apa yang menjadi wajib dan prinsipil.

  1. Peran HMI dalam mengimplementasikan ajaran tentang khalifah fill ard

Berbicara khalifah fill ardh tentu tidak akan lepas dari sosok esensi dari seorang kader Hmi yang memang dididik untuk menjadi pemimpin strategis di negara Indonesia.Kondisi negara Indonesia sekarang semakin mengkhawatirkan, dimana banyak sekali terjadi ketimpangan- ketimpangan moral yang yang di alami oleh para pemimpin maupun aparatur negara.Dimana seharusnya lembaga hukum yang menjadi payung bagi masyarakat untuk berlindung dari lilitan masalah justru tidak bisa menjaga ekssistensinya dalam melindungi masyarakat. Nah,disinilah peran seorang kader Hmi yang harus berupaya keras dalam memecahkan masalah-masalah yang terdapat di era modern ini,baik itu masalah keagamaan,sosial,politik dan budaya.Kader Hmi harus berani melakukan gerakan perubahan agar permasalahan yang terjadi dinegara maritim ini berangsur-angsur akan teratas.Salah satu gerakan perubahan adalah dengan membawa konsep-konsep perkembangan modernisai dalam islam. Mengutip pendapat Harun Nasution,bahwa perkembangan modern dalam islam muncul sebagai akibat dari perubahan-perubahan besar di semua aspek hidup dan kehidupan manusia ,yang disebabkan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknoogi modern .Problem-problem yang diakibatkan dalam bidang keagamaan termasuk islam lebih musykil dibandingkan dengan yang ditemukan dalam bidang-bidang kehidupan lain .sifat dasar ilmu pengetahuan lebih dan teknologi ,berkembang dengan dinamis dan pasti. Ilmu pengetahuan dan juga teknologi senantiasa mengalami dan sekaligus membawa perubahan dalam kehidupan manusia sehari-hari.perkembanag cepat itu membawa perubahan perubahan– perubahan besar dan mendasar,dalam kehidupan umat manusia yang Esensi menjadi objek sasaran.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang lahir di era modern ini ,dengan latar belakang pemikiran yang telah dibahas diatas, membenarkan argument yang mengatakan bahwa Hmi adalah salah satu mata rantai dari gerakan pembaruan di Indonesia. Pemikiran pembaruan Hmi bertujuan membawa bangsa Indonesia kepada kehidupan baru yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya . Dengan demikian harkat martabatnya dapat terangkat sejajar denga bangsa-bangsa yang lain . Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan yang seimbang dan terpadu antara pemenuhan kebutuhan dunia dan akhirat ,akal dan kalbu,iman dan ilmu dalam mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.

Hmi Menyadari bahwa modernisasi yang sudah dan terus berlangsung saat ini adalah suatu pola kehidupan modern yang akan terus berlangsung tanpa diketahui batasnya. Hal demikian terjadi karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak bisa dibendung lagi,untuk memenuhi kebutuhan kontemporer masa kini. Mengabaikan bahkan meninggalkan kehidupan modern akan berkibat fatal bagi kehidupan manusia . Suka tidak suka , mau tidak mau, dimanapun berada manusia ,sedikit atau banyak pasti terlibat dalam persoalan modernisasi. Walaupun kita menghindar dari yang namanya modernisasi tetap juga kena imbas serta pengaruhnya modernisasi. Secara Historis, sebenarnya islam merupakan ajaran yang mengandung nilai-nilai yang mendukung modernisasi. Dalam konteks itu kata Dawam Roharjo,tokoh seperti nurkhalis madjid adalah contoh figure yang ingin memperlihatkan bahwa islam yang ada pada dirinya sendiri secara inheren dan aslinya adalah agama yang selalu modern

Sikap menolak perkembangan ,menurut Nurchalish, disebabkan karena orang kurang berpengalaman dibidang administrasi dan kurang memiliki wawasan pendidikan modern. Kaum muslimin cenderung enggan berpartisipasi dalam arus modernisasi ,sehinga lamban dalam merespon perubahan sosial yang radikal . Kaum muslimin secara fanatik berlindug dibalik doktrin keagamaan yang diartikan sempit dan kaku . Dalam konteks politik, fanatisme keagamaan digunakan semata-mata untuk pelestarian dan identifikasi diri, padahal mestinya di gunakan sebagai imbauan yang menarik . Konservatisme terjadi disebabkan orientiasi tradisionalitas yang memainkan peranan yang lebih besar dari pihak-pihak yang ingi menciptakan perubahan . ini terjadi karena kejahilan masyarakat.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Kesimpulan

                 Dengan demikian, fitrah manusia adalah ketetapan atau bawaan manusia yang suci. Fitrah dengan arti asal kejadian dihubungkan dengan pernyataan seluruh manusia sewaktu berada di alam arwah yang mengakui ketuhanan Allah swt seperti yang digambarkan dalam surah Al – A‟raf ayat 172 – 173. Asal kejadian tersebut tidak pernah berubah hingga manusia kembali – Nya. selain itu fitrah juga dikaitkan dengan Islam sebagai agama yang sesuai atau tepat dengan naluri kemanusiaan dalam perkata lain Islam sangat manusiawi, yang mencintai kesucian, kebenaran dan keindahan.

Dalam manusia adalah khalifah, yakni sebagai wakil, pengganti atau duta tuhan di muka bumi. Dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi, manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu5 . Pada tataran empirik sejarah Islam, kata khalifah juga mengandung makna pengganti Nabi Muhammmad SAW dalam fungsinya sebgai kepala Negara, yaitu pengganti Nabi SAW dalam jabatan kepala pemerintahan dalam islam, baik untuk urusan agama maupun urusan dunia.

5 sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang khalifah Kelima sifat terpuji tersebut menarik untuk dianalisis; pertama, seorang khalīfah hendaklah mampu memberikan rakyatnya petunjuk kepada jalan yang lurus sesuai dengan perintah Allah. Hal ini dapat dimaksudkan sebagai bimbingan maupun penyuluhan secara langsung dari khalīfah maupun melalui para pembantunya atau kepada mereka yang ditugaskan oleh khalīfah, agar rayak memiliki pengetahuan sehingga dapat merealisaikan akhlak yang mulia di tengah-tengah masyarakat; kedua, khalīfah adalah orang yang diberikan Allah swt keinginan untuk berbuat kebajikan. Seorang khalīfah haruslah seorang yang taat beribadah kepada Allah, karena dia adalah teladan. masyarakatnya dari segala tindakannya; ketiga, khalīfah adalah hamba Allah yang mampu merealisasikan penghambaannya kepada Allah melalui perbuatannya; keempat, adalah manusia yang mampu bersabar dalam menjalankan tugasnya. Sebagai khalīfah, tantangan yang dihadapi sungguh sangat berat, Oleh karena itu, kesabaran merupakan kunci keberhasilan dalam kepemimpinan; dan kelima, manusia yang memiliki keteguhan iman kepada Allah swt. Seorang khalīfah, agar tidak tergelincir kepada jalan yang sesat, harus memiliki iman yang kuat.

  1. Saran

Manusia telah di pilih oleh Allah untuk menjadi seorang khalifah di muka bumi ini, sebagai seorang kader HMI seharusnya kita harus benar-benar memahami tugas dan tanggung jawabnya. Manusia memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk lain diantaranya kita diberikan akal dan fikiran sehingga kita harus bisa mengunakannya pada jalan yang semestinya yaitu sesuai dengan tujuan HMI yang tertuang dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI “terbinanya insan akademis,pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah subhannallahu wata’ala”

DAFTAR PUSTAKA

Mujahid, 2005.konsep fitrah dalam islam dan implikasinya terhadap pendidikan islam.jurnal pendidikan agama islam,vol. 2

Adhayanto,oksep,2011. Khilafah dalam system pemerintahan islam.jurnal ilmu politik dan ilmu pemerintahan, vol. 1

Rahim,abdul,2012.khalifah dan khilafah menurut Al quran. UIN Alaudin Makasar.Vol . 9

Firdaus,endis. 2009. Wacana kepemimpinan wanita persaingan empirik dengan pria di indonesai dan dunia, jurnal pendidikan agama islam,vol. 9

Riadi,haris.2014, perspektif taqiyuddin Al-nabhani tentang bai’at.jurnal pemikiran islam. Vol. 39

Sudrajat,ajat.2010, khilafah islamiyah dalam perspektif sejarah. UNY Yogyakarta.Vol 1

Majdid,nurchalis. 2006.islam doktrin dan perbadaban. Jakarta : paramadina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s