Memainkan Peranan Intelektual: Mengupas persoalan kemahasiswaan

Posted: Maret 16, 2016 in Intelegensia Muslim, Kemahasiswaan

Memainkan Peranan Intelektual:
Mengupas persoalan kemahasiswaan[1]

              yogi  Tampaknya semakin memperhatinkan, jika saja kita menyadari betul bagaimana kondisi dunia kemahasiswaan kita hari ini. Bagaimana tidak, riset yang dilakukan oleh Kemenristekdikti terkait dengan kualitas kegiatan kemahasiswaan yang dilakukan oleh serangkaian organisasi mahasiswa saat ini adalah 0,0 %, sebagaiaman kita lihat bersama dalam layanan kabar dari Pabelan post. Hal ini sudah dapat dipastikan bahwa ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Lantas siapakah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas persoalan ini?

            Adalah tidak benar jika kita saling menyalahkan satu dengan lainya secara mutlak, namun memang perlu dipertanyakan kembali. Bagaimanakah kontribusi Perguruan tinggi selama ini dalam upaya mewujudkan cita-cita luhurnya, bagaimanakah peranan organisasi mahasiswa dalam upaya meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para anggotanya. Serta bagaiamana kecenderungan mahasiswa secara umum melakukan aktifitas kependidikanya, baik di dalam ruang kelas maupun di luar kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya kita perbincangkan sebagai upaya memainkan peranan intelektual kita, dalam menentukan nasib kesejarahan kita dimasa sekarang dan akan datang.

Barangkali benar dan tidak salah bahwa memang kampus ini hanya mewacanakan keilmuan dan keilsaman saja tanpa banyak realisasinya. Kemewahan dan kemegahan infrastruktur kampus harus juga dibarengi dengan kemajuan sumber daya manusianya. saya tegaskan bahwa masalah eksistensi dan proses kemajuan manusia harus menjadi tujuan utama setiap peradaban yang ingin membangun manusia dan masyarakatnya. Kita memahami betul bahwa sesungguhnya cita – cita luhur perguruan tinggi adalah untuk melahirkan generasi yang memiliki kesadaran dan ilmu pengetahuan serta bertanggung jawab atas kemajuan bangsa yang berdasarkan pendidikan, penelitian, pengabdian dengan menjunjung tinggi nilai – nilai keislaman.

Kesadaran mahasiswa atas dirinya dan kualitas-kualitasnya menjadi penting untuk diketahui, dipahmi dan dijalankan. Pada tahap ini barangkali kebanyakan mahasiswa, baru kepada tahap mengetahui tanpa mampu menjalankan. Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok elit dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian, dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam generasi muda. Sifat-sifat tersebut yang didasarkan pada objektif yang harus diperankan mahasiswa jika dia berada dalam suasana bebas merdeka, demokratis dan rasional. Sikap ini adalah yang progresif (maju) sebagai ciri dari pada seorang intelektual. Sikap atas kejujuran keadilan dan objektifitas. Maka Mahasiswa sebagai kaum terpelajar, memiliki peran kepemimpinan dan kepeloporan yang akan menjadi duta masa depan bangsa.

            Berangkat dari pemahaman diatas, saya menyakini bahwa organisasi pergerakan memiliki andil besar yang merupakan intelektual community, mampu bergerak dan menggerakan elemen dunia kemahasiswaan dalam upaya merealisasikan cita-cita umat dan bangsa, mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang religius sejahtera, adil dan makmur serta bahagia (Masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt) . meminjam intilah Ali Syariati bahwa Kaum-kaum intelektual inilah yang mampu memainkan peranan intelektual yang sebenarnya dalam upaya membentuk dan menentukan nasib sejarah kita, jika tidak demikian, kita tidak lebih dari sekedar boneka-boneka buta tanpa kesadaran dari sang Pemberi Nasib.

Perlu kita ketahui bahwa, prilaku manusia terdiri dari niat dan tindakan, niat menjelma dalam pikiran dan kemauaan, sementara gerak menjelma dalam perbuatan praksis. Maka pikiran dan kemauaan mahasiswa saat ini sangat dipengaruhi terhadap apa yang dia baca dan didiskusikanya. Dengan mengkaji kembali konsepsi-konsepsi filosofi tentang manusia, kemerdekaan manusia dan keharusan universal, ketuhanan dan pri kemanusiaan dan lain sebagainya. Pengkajian-pengkajian tersebut dapat membantu untuk memenuhi kualitas intelektual, yang kemudian akan melahirkan kekuatan untuk melakukan kerja kerja kemanusian atau amal sholeh.

            Ali syariati mempunyai beberapa ketegori seputar konsep manusia, yakni Khalifah, Manusia dua dimensional, Insan dan Manusia tersecahkan (Rausn Fikr). Keempat istilah tersebut memiliki makna yang berbeda namun saling berhubungan satu sama lain. Sebagai kholifah, syariati menempatkan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan merupakan makhluk supporior diantara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan karena pemberia-Nya Ilmu pengetahuan.[2] Dan ilmu pengetahuan tersebut menjadi sumber keunggulan unik manusia menurutnya. Kemudian syariati memahami pula bahwa manusia sebagai kholifah yang bertugas supaya menyesuaikan sifatnya dengan sifat-sifat Tuhan.

            Manusia dua demensional menurut syariati brdasarkan kisah penciptaan Adam diketahui bahwa manusia terdiri dari dua deminsional, yakni materi (tanah) dan spiritual (ruh Tuhan). Selanjutnya nyariati memaknai bahwa dimensi material merupakan simbol kehinaan, sementara dimensi spiritual sebagai simnol kemuliaan. Sebagai manusia sebagai dua deminsional manusia diberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, yakni pilihan kepada jalan kemuliaan atau kehinaan.

            Kategori Insan, syariati berpendapat bahwa manusia secara kualitas terdiri dari basyar dan Insan. Manusia yang dalam hidupnya tinggal menjalankan takdir (being), itulah basyar, sedangkan insan ialah manusia yang hidupnya selalu men-jadi (becoming) menuju kesempurnaan. Oleh karena proses itulah, insan memiliki tiga ciri khas utama, antara lain: Kesadaran diri, kehendak bebas dan daya cipta.

            Kategori yang terakhir yakni manusia tercerahkan, syariati berpandangan manusia tercerahkan adalah orang yang sadar akan keadaan kemanusiaan (human candition) di masanya, serta setting kesejarahanya dan kemasyarakatanya. Pada prinsipnya tanggung jawab sosial yakni mendorong perubahan-perubahan struktural yang mendasar, seperti tanggung jawab yang pernah diemban oleh para Nabi terdahulu.

Dengan ini saya sampaikan sikap dan solusi menanggapai persoalan kemahasiswaan hari ini. dalam upaya memainkan peranan kita sebagai kaum terdidik dalam menentukan sejarah kampus kita.

  1. Mengadakan Dialog interaktif secara bersama dengan pembahasan persoalan-persoalan filosofis untuk menambah dan menguatkan kesadaran kita. (Integrasi missi kampus dengan mahasiswa dalam penguatan wacana keilmuan dan keislaman)
  2. Menyatukan gerakan dalam mengawal persoalan dunia kemahasiswaan dan melakukan perjuangan atas nama Cinta[3].

“Pejuangan dirintis oleh orang-orang yang berilmu,
diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas dan
akan dimenangkan oleh orang-orang yang Berani.”

[1] Disampaikan dalam Diskusi Pergerakan yang diselenggarakan oleh Bid. PTK-P HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I pada Selasa, 08-Maret-2016 di Taman Fakultas Hukum.

[2] Ali Syariati, Tugas Cendidkiawan Muslim, Hal. 9

[3] Cinta yang dimaksud disini adalah istilah yang dikemukakan oleh Syari’ati sebagai pembebas dari penjara ego, yakni cinta dalam artian substantif yang harus melahirkan kekuatan bagi setiap pencinta untuk mengorbankan apa-apa yang dimilikinya. Dalam perkataan lain, cinta yang dimaksud adalah cinta yang mampu menimbulkan kekuatan untuk memberontak melawan sifat dasar manusia (kecendrungan instingtif dan egoisme) dan mengorbankan kehidupannya untuk sebuah cita-cita ideal (“kebersatuan” dengan Ruh Ilahiyah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s