IMPLEMENTASI PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID (NDP) SEBAGAI IDEOLOGI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) GUNA MEWUJUDKAN MASYARAKAT CITA

Posted: Maret 24, 2016 in Intelegensia Muslim, Makalah Intermediate Tranning (Lk II)

 

 

KATA PENGANTAR

ﺑﺴﻢﺍﻠﻠﻪﺍﻠﺮﺤﻣﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻡ

hegemoni intelektualAssalamu’alaikum.Wr.Wb

Puja, puji serta syukur selalu kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa. Shalawat beriring salam senantiasa kita sanjungkan kepada Muhammad SAW, sang Revolusioner Sejati, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada umatnya hingga akhir zaman.

Makalah dengan tema KONSTRUKSI PARADIGMA PANDANGAN DUNIA ISLAM MENUJU IDEOLOGI ISLAM TRANSFORMATIF “IMPLEMENTASI PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID (NDP)   SEBAGAI IDEOLOGI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM GUNA MEWUJUDKAN MASYARAKAT CITA disusun sebagai syarat dalam Latihan Kader II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang pada tanggal 10 s.d 16 Agustus 2015.

Semoga makalah ini dapat menjadi bahan evaluasi kritis dan diharapkan mampu memberikan solusi yang solutif untuk himpunan tercinta ini. Akhirnya penyusun mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan dalam penyusunan makalah ini.

Billahittaufik wal hidayah

Wassalamu’alaikumm wr. wb

Sukoharjo, 11 Syawal 1436 H

27 Juli 2015 M

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Sejak awal didirikan oleh ayahanda Lafran Pane pada tanggal 5 Februari 1947 di Jogjakarta, organisasi HMI telah menetapkan tujuan “menegakkan ajaran agama islam” dan “mempertahankan derajat rakyat Indonesia”.[1] Dilihat dari tujuan HMI, Islam telah dijadikan landasan organisasi ini. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menuangkan pemahaman-pemahaman keislamannya dalam sebuah buku pedoman yang diberi nama Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

NDP merupakan salah satu pemikiran Nurcholish Madjid yang dijadikan ideology[2] perjuangan bagi kader HMI. Nilai Dasar Perjuangan (NDP) memberikan gambaran bagi kader HMI dalam memahami islam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Secara doktrin, nilai-nilai yang terkandung dalam NDP tidak bertentangan dengan islam, melainkan dalam hal ini Nurcholish Madjid ingin memformulasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an agar mempermudah kader HMI dalam mempelajari nilai-nilai Islam.[3] Sehingga setelah mempelajari NDP, kader HMI untuk mewujudkan amanah Allah SWT sebagai khalifah Fil Ardhi yang sesuai dengan Al-Qur’an surah Al-Baqoroh ayat 30.

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [4]

Selain itu pula, NDP digunakan sebagai ideologi kader HMI, juga memberikan ruh perjuangan atau spirit untuk mendorong moral social kader HMI. Pemahaman terhadap Nilai Dasar Perjuangan yang digagas oleh Nurcholish Madjid dijadikan sumber nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi kehidupan manusia dan nilai-nilai perjuangan bisa dijadikan identitas yang khas bagi kader-kader HMI.

Dari pemikiran Nurcholish Madjid diharapkan kader HMI mampu menerapkan ajaran agama islam guna menciptakan masyarakat Cita. Arti masyarakat Cita adalah masyarakat Adil dan Makmur yang diridhai Allah SWT. Masyarakat yang bebas dari bermacam bentuk belenggu penindasan, masyarakat yang berdaulat, masyarakat yang berdaya, mampu dan mandiri serta dapat menentukan hidupnya sendiri, masyarakat yang menjadi cita-cita kemerdekaan.[5] Sehingga dari pemaparan latarbelakang diatas penulis ingin mengetahui dan memaparkan tentang Implementasi Pemikiran Nurholish Madjid (NDP) Sebagai Ideologi Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Guna Mewujudkan Masyarakat Cita.

 

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:

  1. Apa yang menjadi latar belakang pemikiran Nurcholish Madjid (NDP)?
  2. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam Nilai Dasar Perjuangan yang digagas oleh Nurcholish Madjid?
  3. Bagaimana implementasi pemikiran Nurcholish Madjid (NDP) sebagai ideologi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) guna mewujudkan Masyarakat Cita?

 

  1. TUJUAN PENELITIAN

Dari uraian rumusan masalah diatas kita mengetahui tujuannya adalah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan apa latar belakang pemikiran Nurcholish Madjid (NDP)
  2. Menjelaskan Nilai-nilai yang terkandung dalam Nilai Dasar Perjuangan yang digagas oleh Nurcholish Madjid
  3. Menjelaskan implementasi pemikiran Nurcholish Madjid (NDP) sebagai ideologi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) guna mewujudkan Masyarakat Cita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Landasan Pemikiran Nurcholish Madjid tentang Nilai Dasar Perjuangan

Rumusan NDP yang dijadikan ideologis perjuangan HMI merupakan hasil pemikiran Nurcholish Madjid. Secara sosiologis, NDP dirumuskan dalam kancah pertarungan ideology besar antara lain Nasakom[6] Bung Karno. Nurcholish Madjid atau yang sering dikenal dengan Cak Nur menulis perumusan NDP pada bulan Oktober 1968 pada saat beliau mendapatkan beasiswa sebagai pemimpin mahasiswa dari Council For Leaders and Specialist di Amerika. Namun menurut beliau, yang paling banyak memberikan gagasan dan sikap dari pemikirannya bukan karena kunjungan ke Amerika melainkan lawatan beliau ke Timur Tengah (Turki, Libanon, Syiria, Irak, Kuwait, Saudi Arabia, Sudan dan Mesir) selama empat bulan.[7]

Adapun Factor-factor yang dikemukakan oleh Cak Nur sehingga mampu menginspirasi perumusan nilai dasar perjuangan (NDP) adalah sebagai berikut:

  1. Pemahaman keislaman masyarakat di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan dalam menghayati nilai-nilai islam itu karena persoalan keislaman agaknya kurang mendapat tempat yang memadai di hati masyarakat.
  2. Sampai bulan april, HMI belom memiliki buku pegangan atau pedoman perjuangan bagi kader HMI sebagai mana layaknya organisasi perjuangan. Agar HMI memiliki suatu ideology yang dapat bertahan relative lama antara 20 -25 tahun.
  3. Memberikan panduan bagi kader HMI agar bisa memahami Islam dengan baik dan bisa menerjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu dalam bingkai keislaman, keindonesiaan dan kemodernan, karena NDP berisi nilai-nilai ajaran Al-Qur’an yang bersifat universal.
  1. Nilai – Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Rumusan Nurcholish Madjid

Pada kongres[8] ke-9 pada bulan Mei 1969 di Malang, Nurcholish Madjid membawa konsep yang dirumuskannya agar ditetapkan sebagai pegangan kader HMI. Namun karena pembahasannya meluas dan sulit diperbicarakan, NDP disempurnakan oleh tiga tokoh yaitu Endang Saifuddin Ashari, Sakib Mahmud dan perumusnya sendiri Nurcholish Madjid. Pada ke kongres HMI ke-10 di Palembang tahun 1971 konsep dasar islam ini dikukuhkan dengan nama “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan”. NDP yang dijadikan landasan pedoman perjuangan kader HMI memuat tujuh tema pokok yang dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dasar-Dasar Kepercayaan

Dalam bab pertama, Nilai Dasar Perjuangan menjelaskan tentang pentingnya sebuah kepercayaan bagi manusia. Kepercayaan yang dianut harus benar dan tidak membahayakan bagi penganutnya. Kepercayaan yang dianut dinegara Indonesia sangat hiruk pikuk atau beraneka ragam, sehingga manusia akan mengalami kebingungan dengan kepercayaan yang akan dianutnya.

Apabila kita membaca Al-Qur’an, problemnya itu bukan bagaimana membikin manusia percaya pada Tuhan, tetapi bagaimana membebaskan manusia dari politeisme.[9] Sehingga kita harus memiliki sebuah kepercayaan tetapi kepercayaan yang mampu menyelematkan kita yaitu kepercayaan kepada Allah SWT.[10]

Kepercayaan kepada allah SWT tercermin dalam agama islam yang sudah tertera jelas dalam Q.S Al-maidah ayat 3 yang artinya: “……….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[11]

Selain itu kepercayaan kepa Allah SWT juga dijelaskan dalam perumusan kalimat persaksian (Syahadat) dalam Islam yang kesatu ialah : “Tiada Tuhan selain Allah” yang mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan “Tidak ada Tuhan” meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan perkataan “Selain Allah” memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran.

Untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya, manusia harus berpegang teguh kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu mempercayai ke-rasul-an nabi Muhammmad SAW. Maka kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia, yaitu bahwa Muhammad adalah Rosul Allah.[12]

Kemudian di dalam Al-Quran didapat keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang maha Esa ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar dan jalan hidup yang mesti diikuti oleh manusia. Keesaan Tuhan dijelaskan dalam Q.S surat Al-Ikhlas (112: 1-4)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [١] اللَّهُ الصَّمَدُ [٢]لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ [٣]وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ [٤]

Artinya:

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa(1). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan(3). dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia(4).”

     Konsep yang menjelaskan tentang Al-tawhid (keesaan Tuhan) dan gagasan bahwa manusia adalah khalifah fil ardhi. Kedua konsep tersebut menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki transendensi dan kebeneran mutlak. Sehingga berdampak sebagai konsekuensi diri dengan menerima prinsip monoteis.[13]

Perkembangan pemikiran Cak Nur lebih historis dan intrepretatif yang terlihat saat beliau ingin mempertemukan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, dan upaya untuk mencari titik temu antara agama-agama dalam konteks hidup ber-Pancasila. Tujuan utama adalah untuk mengelaborasikan makna islam, islam bersifat universal dan kosmopolitanis. Sumber universisalitas Islam dapat dilihat dari perkataan islam itu sendiri, yang berarti sikap pasrah kepada Tuhan. Dengan pengertian ini, semua agama yang benar bersifat al-islam (dengan I kecil) yakni mengajarkan pasrah kepada Tuhan. Sehingga, menurut Nurcholish Madjid meskipun agama yang dibawa oleh nabi Musa AS itu dinamai yahudi dan nabi Isa dinamai dengan kriten , namun pada prinsip-prinsipnya bersifat al-islam.

Namun pada kenyataannya bahwa agama yang dibawa nabi Muhammad SAW itu bernama Islam (dengan I besar) terhadap pertanyaan ini, Nurcholish Madjid mengilustrasikan berarti umat Islam harus menjadi penengah (al-wasith) dan saksi (syuhada’) diantara manusia. Umat Islam sebagai moderator merupakan keadaan yang pernah dibuktikan dalam sejarah seperti yang tertera dalam buku sejarah peradaban Islam karya Badrim Yatim bahwasanya umat Islam menghargai minoritas Non-muslim. Sikap inklusif dan toleran ini termuat juga dalam Al-Qur’an yang mengajarkan kemajemukan beragama (religion plurality).[14]

  1. Pengertian-Pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna daripada makhluk yang lain dengan diberikan akal untuk menentukan mana yang termasuk perbuatan yang baik dan perbuatan buruk. Selain itu manusia diciptakan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Manusia hidup di alam dunia harus melakukan sebuah pekerjaan atau amal perbuatan untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Perbuatan manusia dapat dibedakan menjadi dua yaitu perbuatan kepada Allah SWT (habbluminnallah) dan perbuatan kepada manusia (habbluminnanass). Sehingga manusia diselimuti semangat untuk mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran. Perbuatan yang dilakukan manusia agar manusia tersebut menjadi manusia yang sejati (insane kamil). Perbuatan yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan diakhirat.

  • Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir)

Taqdir dalam Al-Qur’an adalah hukum ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan utnuk mengatur pola perjalanan dan tingkah laku alam ciptaannya khususnya alam material. Contohnya pola peredaran bulan mengelilingi bumi yang kemudian manusia menjadikannya sebagai dasar perhitungan waktu baik selama 1 bulan, dan 1 tahun.

Untuk menentukan kesuksesan dalam kehidupan duniawi manusia dituntut untuk memahami hukum ketetapan Allah bagi lingkungan sekelilingannya yaitu alam. Implikasi pemahaman semacam ini (pemahamam lingkungan material hidup didunia) menghasilkan ilmu pengetahuan yang dapap menjadi teknologi modern.

Namun menurut Nurcholish Madjid, hidup didunia tidak hanya cukup dengan dengan ilmu pengetahuan saja, karena ilmu pengetahuan bukanlah jaminan un tuk mendapatkan kebahagiaan yang langgeng. Namun manusia juga harus mengembalikan semuanya kepada Allah (pasrah) agar tidak ada rasa khawatir.

Segala sesuatu yang terjadi (sudah terjadi) maka itu adalah Takdir Allah, namun apabila peristiwa tersebut belum terjadi maka yang harus dilakukan manusia adalah ikhtiar. Selanjutnya berkenaan dengan Sunnatullah, CakNur menjelaskan bahwa Sunnatullah meliputi ajaran-ajaran moral atau agama yang disampaikan Allah kepada nabi Muhammad. Karena itu manusia harus memahami dan bertindak sesuai dengan ketentuan-ketentuan itu demi keselamatan dan kebahagiaan yang lebih utuh.

Sunnatullah bersifat menyeluruh, yang menguasai semua aspek hidup social manusia sepanjang sejarah, tidaklah diterangkan Allah, sebab otak manusia tidak akan muat utnuk sekaligus pemahaman. Oleh karena itu Sunnatullah itu terwujud nyata dalam perjalanan sejarah manusia maka terdapat kemungkinan bagi manusia utnuk melengkapi pengetahuaannya tentang hukum ketentuan Tuhan yang didapatnya secara deduktif dari ajaran agama itu dengan memeperhatikan dan memahami serta memacu manusia utnuk menggunakan segenap potensi akal bidinya dalam memahami hukum-hukum Tuhan yang ada dijagad raya ini (kawniyah).[15]

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan

Tujuan manusia adalah untuk mencari ridho Allah SWT. Karena Dia-Lah yang mengajarkan manusia dalam kebenaran dan tempat memohon segala sesuatu. Karena kemutlakannya, Tuhan bukan saja tujuan segala kebenaran namun kepada Allah SWT. Sesuai yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali Imron ayat 60,

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ الْمُمْتَرِينَ [٣:٦٠]

Artinya:

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Dari pernyataan diatas sebagai makhluk manusia harus mempunyai keimanan dalam pengabdiannya kepada Allah SWT. Orang tersebut dinamakan Muslim. Muslim muslim harus mampu mengeksplor dirinya lebih untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan dan memajukan peradaban umat Islam seperti zaman Rosullah dan para sahabat.

Hakikat hidup seorang manusia untuk mendapat ridho dari Allah SWT adalah terletak pada amal perbuatannya atau tindakannya. Orang yang mencintai Allah akan selalu melakukan perbuatan yang baik namun sebaliknya orang yang tidak mencintai Allah dia akan selalu melakukan hal- hal negative yang akan berdampak pada keruntuhan peradaban Islam. Salah satu perbuatan yang merusak akhlak manusia adalah perbuatan “syirik”. Maksudnya orang menghambakan diri kepada Tuhan yang lain. Dan sifat ini sangat bertentangan dengan sikap kemanusiaan. Pada dasarnya sikap kemanusiaan adalah sikap yang adil yang mampu menempatkan sesuatu pada posisinya secara wajar. Sifat kemanusiaan selalu mempunyai itikad baik untuk melakukan sesuatu kebaikan yang memancarkan sifat ketuhanan seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surah An-Nahl ayat 90 yang berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [١٦:٩٠]

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran[16]

 

  1. Individu dan Masyarakat

Manusia hidup dalam suatu bentuk hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya, sebagai mahkluk sosial, manusia tidak mungkin memenuhi kebutuhan kemanusiaannya dengan baik tanpa berada ditengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu. Manusia yang bergaul di tengah masyarakat akan banyak menimbulkan perbedaan antara satu dengan yang lainya. Namun perbedaaan tersebut untuk kebaikan diri pribadi. Pemenuhan bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat adalah suatau keharusan, walaupun hanya beberapa orang saja. Peningkatan manusia tidak dapat terjadi tanpa memberikan orang lain keleluasaan untuk mengembangkan kecakapannya memlaui aktifitas kerja yang sesuai dengan kecenderungannya atau bakatnya. Sehingga kebebasan individu dapat dibatasi dengan kebebasan orang lain.

Dalam kehidupan masyarakat, manusia tidak dapat hidup sendiri, mereka harus saling tolong menolong didalam masyarakat. Hubungan kepada masyarakat yang dijalin dengan keikhlasan maka akan mendapatkan pahala dari Tuhan, sedangkan apabila hubungan tersebut sudah tidak ada ikatan ikhlas maka akan mendapatkan azab Tuhan. Manusia akan meraakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtiarnya. Semakin orang bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab dengan kesadaran maka akan membentuk masyarakat yang tentram dan mendapat ridhonya.

Manusia yang mengenali dirinya sebagai makhluk yang nilai dan martabatnya dengan sepenuhnya, jik ia mempunnyai kebebasan tidak akan mengatur dirinya saja tetapi juga akan memperbaiki kehidupan sesama manusia dalam lingkungan masyarakat. Dsar hidup gotong royong ialah keistimewaan dan kecintaan sesame manusia dlam pengakuan akan adanya persaman sdan kehormatan kepada orang lain.

  1. Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi

Untuk membentuk masyarakat yang adil dan sejahtera tidak dapat dibentuk oleh satu orang saja melainkan dari banyak orang. Apabila individu mementingkan egonya maka akan terjadi sikap anarchi atau kekacauan. Yang akan mnghancurkan masyarakat itu sendiri dan tidak akan terciptanya keadilan di masyarakat. Lalu siapakan yang akan menegakkan keadilan dimasyarakat? Sudah tentu masyarakat itu sendiri. Namun dalam prakteknya diperlukan seorang pemimpin yang memiliki rasa kemanusiaan yan tinggi sebagai pancaran dari kecintaan yang tak terbatas pada Tuhan. Sehingga pemimpin tersebut akan bersikap demokratis , karena berasal dari rakyat oleh rakyat, dan untuk rakyat[17] untuk menjalankan kebijksanaan atas persetujuan rakyat yang berdasarkan musyawarah dimana keadilan dan martabat kemanusiaan tidak terganggu.

Menegakkan keadilan mencakup penguasaan atas keinginan-keinginan dan kepentingan pribadi yang tak mengenal batas (hawa nafsu). Kewajiban dari Negara sendiri dan kekuatan social untuk menjunjung tinggi prinsip kegotongroyongan dan kecintaan sesame manusia. Apabila kita jujur mampu menegakkan keadilan terhadap diri sendiri, masyarakat dan pemerintah maka perilaku tersebut merupakan ketaatan kepada Tuhan.

Menegakkan keadilan akan berpengaruh terhadap keadilan ekonomi masyarakat. Apabila masyarakat tidak membatasi batas-batasnya maka akan ada pertentangan golongan yang didorong dengan sikap tidakselarasan antara pertumbuhan kekuatan produksi dan pengumpulan kekayaan oleh golongan kecil dengan hak istimewa dipihak lain.

Didalam masyarakat yang tidak terjadi keadilan maka akan mengakibatkan kemiskinan yang berdampak pada kualitas dan proporsi atau perbandingan yang tidak wajar sekalipun realitasnya selalu menunjukan perbedaan kemiskinan di masyarakatbdengan pemerintah yang tidak mampu menegakan keadilan. Pemerintah yang seperti itulah adalah pemerintah yang dholim. Orang kaya sebagai pelaku kedholiman dan rakyat miskin menjadi korbannya.

Kejahatan dalam bidang ekonomi merupakan pengaruh dari kapitalisme[18] asing yang memeras orang berjuang hidup untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, menegakan keadilan mencakup pemberantasan kapitalisme yan terjadi di Indonesia. Sesudah syirik, kejahatan manusia adalah penumpukan harta benda yang tidak digunakan semestinya atau tidak benar dan menyimpang dari kepentingan umum serta tidak mengikuti jalan Tuhan. Menegakan keadilan inilah membimbing manusia kearah pelaksanaan tata masyarakat yang akan memberikan kepada setip orang kesempatan yang sama untuk mengatur hidupnyasecara bebas dan terhormat dan pertentangan terus-menerus dan rasa kemanusiaan. Menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma’ruf nahi munkar saja tetapi juga melalui pendidikan yang intensif terhadap pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari secara mendalam tentang adanya Tuhan. Dan sembahyang merupakan pendidikan yang yang continue sebagai bentuk formil peringatan kepada Tuhan untuk meluruskan dan memberikan garis hidup manusia dan untuk mencegah kemungkaran dan kekejian.

Didalam masyarakat yang adil mungkin masih terdapat pembagian manusia menjadi golongan kaya dan miskin. Tetapi itu dibatas-batas sewajarnya. Salah satu cara yang dijadikan cara adalah dengan “zakat”. Zakat dipungut dari orang kaya dan dibagikan kepada orang miskin. Tetapi sebelum penarikan zakat, harus dilakukan terlebih dahulu membentuk masyarakat yang adil berdasarkan Tuhan Yanga Maha Esa, dimana tidak lagi didapati cara memperoleh kekayaan secara haram, dimana penindasan atas manusia oleh manusia harus dihapuskan. Karena kepemilikan seseorang itu bersifat relative sebagai amanat Tuhan. Pengunaan hartapun juga harus sesuai dengan kehendaki Tuhan, untuk kepentingan umum atau masyarakat.

Maka apabila terjadi kemiskinan maka orang kaya wajib menzakatkan uangnya terutama untuk keluarga. Negara yang adil akan menciptakan persyaratan hidup yang wajar yang diperlukan pribadi-pribadi agar keluarganya dapat mengatur kehidupan secar terhormat sesuai dengan keinginan-keinginan utnuk menerima tanggung jawab atas kegiatan. Sehingga dalam prakteknya pemerintah harus membuka jalan yang mudah dan kesempatan yang sama kearah pendidikan, kecakapan kearah pendidikan, kecakapan yang wajar, kebebasan untuk beribadah sepenuhnya dan pembagian harta kekayaan bangsa yang pantas.

  • Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan

Inti dari pada kemanusiaan yang suci adalah Iman dan kerja kemanusiaan atau Amal Saleh. Iman dalam pengertian kepercayaan akan adanya kebenaran mutlak yaitu Tuhan Yang Maha Esa, serta menjadikanya satu-satunya tujuan hidup dan tempat pengabdian diri yang terakhir dan mutlak. Sikap itu menimbulkan kecintaan tak terbatas pada kebenaran, kesucian dan kebaikan yang menyatakan dirinya dalam sikap pri kemanusiaan. Sikap perikemanusiaan menghasilkan amal saleh, artinya amal yang bersesuaian dengan dan meningkatkan kemanusiaan. Sebaik-baiknya manusia ialah yang berguna untuk sesamanya. Oleh karena itu manusia berikhtiar dan merdeka, ialah yang bergerak. Gerakan itu tidak lain dari pada gerak maju kedepan (progresif). Dia adalah dinamis, tidak statis. Dia bukanlah seorang tradisional, apalagi reaksioner[19]. Dia menghendaki perubahan terus menerus sejalan dengan arah menuju kebenaran mutlak. Dia senantiasa mencarai kebenaran-kebenaran selama perjalanan hidupnya.

Kebenaran-kebenaran itu menyatakan dirinya dan ditemukan didalam alam dari sejarah umat manusia. Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun kebenarankebenaran merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan keyakinan adalah kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai oleh manusia, yaitu ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan sejarahnya sendiri. Jadi ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal soleh. Hanya mereka yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan diatas kebenaran-kebenaran, yang menyampaikan kepada kepatuhan tanpa reserve kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan iman dan kebenaran ilmu pengetahuan manusia mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi sesuai yang tertulis dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Mujadillah ayat 11,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١]

Artinya:

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Manusia harus menguasai alam dan masyarakat guna dapat mengarahkanya kepada yang lebih baik. Penguasaan dan kemudian pengarahan itu tidak mungkin dilaksanakan tanpa pengetahuan tentang hukum-hukumnya agar dapat menguasai dan menggunakanya bagi kemanusiaan.

Cara-cara perbaikan hidup sehingga terus-menerus maju kearah yang lebih baik sesuai dengan fitrah adalah masalah pengalaman. Pengalaman ini harus ditarik dari masa lampau, untuk dapat mengerti masa sekarang dan memperhitungkan masa yang akan datang. Menguasai dan mengarahkan masyarakat ialah mengganti kaidah-kaidah umumnya dan membimbingnya kearah kemajuan dan kebaikan.[20]

  1. IMPLEMENTASI PEMIKIRNAN NURCHOLISH MADJID GUNA MEWUJUDKAN MASYARAKAT CITA

Akar pembaharuan pemikiran islam Cak Nur merupakan dialektika seputar tema : keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Menurut penulis, Nurcholish Madjid adalah sosok orang terpelajar yang berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.[21] Dengan pemikirannya memberikan dampak terhadap perkembangan HMI dan mempunyai pedoman untuk memahami islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila kita tarik kesimpulan dari pemikiran Nurcholish Madjid, NDP juga memberikan tafsir azas islam, tafsir tujuan, dan tafsir independensi yang menjadi dasar perjuangan HMI yang dijadikan pedoman bagi para kader HMI dalam memahami Islam secara komprehensif dan rasional. Tafsir azas islam memberikan semangat spiritual agar mampu memperdalam keimanan. Tafsir tujuan menjelaskan tentang kualitas insane cita dan mengajarkan manusia untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dengan cara yang baik.

Implementasi kader HMI untuk mewujudkan masyarakat cita adalah dengan jalan sebagai berikut:

  1. Senantiasa meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran islam yang dimilikinya dengan penuh ghirah
  2. Aktif dalam studi terhadap Fakultas yang dipilihnya
  3. Mengadakan tentor club untuk jurusannya dan club studi untuk masalah kesejahteraan dan kenegaraan
  4. Selalu hadir dan pro aktif dalam forum ilmiah
  5. Aktif mengikuti karya seni dan budaya
  6. Mengadakan halaqoh-halaqoh perkaderan di masjid kampus

Selain kegiatan-kegiatan diatas kita juga dapat melakukan pengabdian terhadap masyarakat dengan mengadakan penyuluhan kesehatan gratis, mengajar TPA didaerah kantor komisariat, pengadakan pengajian rutin dengan mendatangkan alumni (KAHMI), berpartisipasi dalam politik dan banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat.

Apabila kita melihat proker-proker yang dilakukan komisariat kebanyakan sudah mengarah ke dunia kemasyarakaratan, namun apabila kita sadari dan membaca buku karya Prof Dr Agus Sitompul “44 indikator kemunduran HMI” banyak sekali yang harus menjadi koreksi bagi kader-kader HMI dalam melakukan perjuangannya. Di dalam bukunya, Beliau juga mengatakan bahwa kader-kader HMI harus kembali kedalam fitrahnya yaitu fitrah keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan agar pergerakan yang dilakukan HMI tidak stagnan atau mengalami kemandekan. Perlunya kader HMI mengkaji Al-Quran, hadits, dan Nilai dasar perjuangan agar menemukan sebuah teori-teori social baru untuk meningkatkan mutu masyarakat Indonesia.

Setelah kita mengetahui apa saja yang yang menjadi indikator kemunduran HMI, lantas apa yang akan kita lakukan. Dalam buku “AKSI MASSA” karya Tan Malaka mengatakan bahwasanya revolusi itu mencipta. Maksudnya kita sebagai kader HMI harus melakukan perubahan atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan kader HMI untuk mencapai tujuan HMI yang terdapat dalam pasal 4 AD HMI yang berbunyi “terbinanya insane akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Selain itu Soekarno juga pernah berkata dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams yang berjudul Bung Karno “Penyambung Lidah Rakyat” adalah apabila Negara diberikan 1000 orang tua maka tidak akan mampu membangun sebuah Negara, akan tetapi bila Negara mempunyai pemuda yang baik maka dia akan mampu membangun bangda dan Negara.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. SIMPULAN

Rumusan NDP yang dijadikan ideologis perjuangan HMI merupakan hasil pemikiran Nurcholish Madjid. Secara sosiologis, NDP dirumuskan dalam kancah pertarungan ideology – ideology besar antara lain Nasionalisme Bung Karno, Komunisme PKI dan Sosialisme PSI. Factor-factor berikut dikemukakan Cak Nur yang menginspirasi perumusan nilai dasar perjuangan (NDP) adalah sebagai berikut:

  1. Pemahaman keislaman masyarakat di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan dalam menghayati nilai-nilai islam itu karena persoalan keislaman agaknya kurang mendapat tempat yang memadai di hati masyarakat.
  2. Sampai bulan april, HMI belom memiliki buku pegangan atau pedoman perjuangan bagi kader HMI sebagai mana layaknya organisasi perjuangan. Agar HMI memiliki suatu ideology yang dapat bertahan relative lama antara 20 -25 tahun.
  3. Memberikan panduan bagi kader HMI agar bisa memahami Islam dengan baik dan bisa menerjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu dalam bingkai keislaman, keindonesiaan dan kemodernan, karena NDP berisi nilai-nilai ajaran Al-Qur’an yang bersifat universal.

Pada kongres ke-10 di Palembang tahun 1971 konsep dasar islam ini dikukuhkan dengan nama “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan” yang disingkat NDP tidak ada perubahan isi. NDP yang dijadikan landasan pedoman perjuangan HMI memuat tujuh tema pokok yang dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dasar-dasar Kepercayaan
  2. Pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan
  3. Keharusan Universal (Takdir) dan Kebebasan Berusaha (ikhtiar)
  4. Ketuhanan Yang Maha Esa da Perikemanusiaan
  5. Individu dan Masyarakat
  6. Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi
  7. Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan

Dengan adanya NDP, semua kader HMI mempunyai pegangan dalam memahami dan menghayati nilai keislaman yang terdapat dalam Al-Qur’an ynag terbagi menjadi 3 tafsir yaitu tafsir islam sebagai azas, tafsir tujuan, tafsir indepenesi. Dengan adanya NDP dan tafsir, peranan kader HMI dalam masyarakat sangat besar, yaitu memberikan sumbangsih gagasan dan kerjanya guna merubah masyarakat yang adil makmur dan diridhoi Allah SWT.

  1. SARAN

Dengan kita mengenal apa yang yang disebut Nilai Dasar Perjuangan, sebagai kader HMI harus mampu mengambil nilai- nilai islam yang terkandung didalamnya untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur agar terjadi stabilitas Negara yang seimbang dan kader HMI mengabdi kepada Negara sebagai pemimpin Muslim yang adil karena kader HMI adalah kader Umat dan kader bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an dan terjemahan

Adams, Cindy. 2014. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta: Yayasan Bung Karno

Ananta Toer, Pramoedya. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara

Buku saku Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukoharjo

Hasil-Hasil Kongres HMI XXVIII, Jakarta Timur, Depok, Jakarta Selatan, 15 Maret-15 April 2013. Hal. 160

Malaka, Tan. 2000. Aksi Massa. Jakarta: Teplok Press

Solichin. 2010. HMI Candradimuka Mahasiswa. Jakarta: Sinergi Persadatama Foundation

Sitompol, Agussalim. 2005. 44 Indikator Kemunduran HMI, Suatu Kritik dan Koreksi untuk Kebangkitan Kembali HMI. Jakarta : Penerbit Misaka Gliza

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Perabadan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Anshori, M. Afif. http://integralist.blogspot.com/2015/02/pemikiran-kalam-cak-nur.html?m=1 yang diakses pada hari Minggu pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 21.19 WIB

Anshori, M. Afif. http://integralist.blogspot.com/2015/02/pemikiran-kalam-cak-nur.html?m=1 yang diakses pada hari Minggu pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 21.19 WIB

Devayan, Ampuh . https://id-id.facebook.com/notes/himpunan-mahasiswa-islam-hmi/mission-hmi/157624360939900) yang diakses pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2015 pada pukul 19.22 WIB

Esa Dalam, Elban Faqih. http://equalizem.blogspot.com/2014/05/fitrah-hanif-manusia-pijakan-inklusif.html?m=1 yang diakses pada hari minggu tanggal 26 Juli 2015 jam 19.55 WIB

Sopyan, Asep. http://asepsopyan.com/2008/12/18/nilai-dasar-perjuangan-hmi/ yang diakses pada hari kamis tanggal 23 Juli 2015 pada pukul 20.03 WIB

                BIODATA

 

  1. DATA PRIBADI
  2. Nama Lengkap : Dariyana
  3. Tempat, Tanggal Lahir : Sukoharjo, 17 Agustus 1994
  4. Umur : 21 tahun
  5. Agama : Islam
  6. Jenis Kelamin : Perempuan
  7. Kewarganegaraan : WNI
  8. Status : Belum Menikah
  9. Alamat Asal : Dongeng, Rt. 03 Rw. 01 Sapen, Mojolaban,

Sukoharjo, Jawa Tengah, 57554

  1. Handpone : 085642122515
  2. Motto : “Diam untuk Berfikir, Bergerak

   untuk Bertindak”

  1. PENDIDIKAN FORMAL
  2. 1999-2000 : TK Sapen 1
  3. 2000-2006 : SD Negeri 2 Sapen
  4. 2006-2009 : SMP Negeri 1 Mojolaban
  5. 2009-2012 : SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar
  6. 2013 – sekarang : Universitas Muhammadiyah Surakarta

[1] Buku saku Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukoharjo hal. 1

[2] Ideology adalah kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Ideology NDP inilah yang dijadikan dasar perjuangan untuk menggerakan kader-kader HMI untuk mencapai tujuan organisasi yang tertuang dalam pasal 4 AD HMI.

[3] Asep Sopyan, asepsopyan.com/2008/12/18/nilai-dasar-perjuangan-hmi/ yang diakses pada hari kamis tanggal 23 Juli 2015 pada pukul 20.03 WIB

[4] Lihat Al-Qur’an dan terjemahan (diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama RI, 2007) hal. 6

[5] Ampuh Devayan, https://id-id.facebook.com/notes/himpunan-mahasiswa-islam-hmi/mission-hmi/157624360939900) yang diakses pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2015 pada pukul 19.22 WIB

[6] Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) adalah paham atau ideology yang dipakai oleh presiden soekarno pada masa orde lama mengenai perpolitikan di Indonesia. Soekarno menginginkan paham nasakom didalam tubuh idelogi Indonesia agar dapat sejajar dengan pancasila. Demi mewujudkan cita-citanya, ia mencoba menyisipkan misi nasakom pada semua gerakan partai, organisasi massa bahkan dalam tubuh TNI Angkatan Darat.yang bertujuan sebagai alat penyeimbang kekuatan TNI/AD, mengacau, dan pengekang kekuatan militer (TNI/AD) yang makin besar dan mengancam dengan cara membuka jalan untuk PKI pada masa demokrasi terpimpin. Salah satu bentuk Nasakom terdapat dalam pidato-pidato presiden yang berjudul “Jalan Revolusi Kita” pada tahun 1960 dan mengadakan diklat kader Nasakom. Namun, dari TNI/AD menolak paham Nasakom terutama Komunisme karena paham ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan bertentangan pula dengan visi TNI/AD. TNI/AD beranggapan bahwa nasionalisme dan konsep agama tidak dapat disatukan dengan komunis. Karena sudah tertera jelas bahwasanya komunis tidak mempunyai agama/atheis. Pertentangan dilakukan oleh TNI/AD terhadap paham ini menjadikan adanya tiga kekuatan besar yang terdapat di Indonesia pada masa demokrasi terpimpin yaitu antara presiden Soekarno, PKI, dan TNI/AD yang terjadi pada tahun 1959-1965.

[7] Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa, (Jakarta: Sinergi Persadatama Foundation, 2010) hal.218

[8] Menurut KBBI offline, Kongres adalah pertemuan besar para wakil organisasi untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai berbagai masalah. Kongres yang dilakukan oleh organisasi HMI diadakan 2 tahun sekali guna mengambil kebijakan yang bersifat keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan demi mewujudkan pasal 4 AD HMI.

[9] Menurut KBBI politeisme adalah kepercayaan atau pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan atau dengan kata lain banyak Tuhan.

[10] Lihat hasil-hasil kongres HMI XXVIII, Jakarta Timur, Depok, Jakarta Selatan, 15 Maret-15 April 2013. Hal. 160

[11] Dikutip dalam Al-Qur’an yang diterbitkan oleh

[12] Hasil-hasil Kongres HMI Ke XXVIII. 2013 (Jakarta: PB HMI) hal. 164

[13] Elban Faqih Esa Dalam, http://equalizem.blogspot.com/2014/05/fitrah-hanif-manusia-pijakan-inklusif.html?m=1 yang diakses pada hari minggu tanggal 26 Juli 2015 jam 19.55 WIB

[14] M. Afif Anshori, http://integralist.blogspot.com/2015/02/pemikiran-kalam-cak-nur.html?m=1 yang diakses pada hari Minggu pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 21.19 WIB

[15] Hasil diskusi (yang disampaikan oleh Yunda Wenda selaku Kabid PPPA komisariat Ahmad Dahlan 1 Cabang Sukoharjo)

[16] Lihat hasil-hasil kongres HMI XXVIII, Jakarta Timur, Depok, Jakarta Selatan, 15 Maret-15 April 2015. Hal. 170-171

[17] System demokrasi yang dikeluarkan dari seorang ahli pemerintahan yang bernama Abraham Lincone.

[18] Kapitalisme adalah gagasan yang dikeluarkan oleh Karl Mark yang membedakan masyarakat borjuis dan proletar. Sehingga berdampak dalam kehidupan dimasyarakat, bahwa orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. System kapitalisme tersebut dicurahkan dalam bukunya yang berjudul dies capital yang terdiri dari tiga jilid buku.

[19] Penjelasan mengenai reaksioner adalah sifat menentang kemajuan atau pembaruan, bersifat berlawanan dengan tindakan revolusioner, bersifat berlawanan dengan kebijakan pemerintah yg sah.

[20] Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa, (Jakarta: Sinergi Persadatama Foundition, 2010) hal. 242

[21] Kutipan kata yang diambil dari buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s