Implikasi Pergerakan Kartini dalam Pembentukan Karakter Bangsa Sebagai Upaya Menghadapi Tantangan Zaman (Masyarakat Ekonomi ASEAN)

Posted: Maret 24, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-Indonesian

mahasiswa berkualitasPada tangggal 31 Desember 2015, Indonesia akan menghadapi tantangan baru yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang sering kita sebut dengan MEA. MEA adalah sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi, dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang akan terdiri dari 10 negara ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand, Brunai Darusalam, Myanmar, Filipina, Malaysia, Laos.

Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini berawal dari kesepakatan pemimpin ASEAN pada tahun 1997 dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur Malaysia. Yang kemudian dilanjutkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Bali tahun 2003 dan memperoleh keputusan untuk mendeklarasikan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Tujuan adanya MEA adalah untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di ASEAN sehingga mampu mengatasi masalah-masalah dalam bidang ekonomi yang agar nantinya tidak terulang kembali krisis pada tahun 1997. Sehingga siap atau tidak siap, masyarakat Indonesia harus menghadapi tantangan tersebut.

Kesiapan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN salah satunya adalah pembentukan karakter bangsa agar masyarakat Indonesia menonjol dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sebagai Tuan rumah Indonesia harus mampu menjadi contoh yang baik. Pembentuk karakter masyarakat terutama karakter seorang perempuan bisa dilakukan dengan cara belajar, seperti yang dicontohkan oleh salah satu pahlawan bangsa R.A. Kartini.

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Rembang. Kartini adalah seseorang anak dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Apabila kita menilik sejarah perjuangan R.A Kartini, beliau adalah seorang perempuan yang gigih dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan, sejak kecil dia tidak bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi walaupun dia anak seorang priyayi atau keturunan bangsawan seperti yang kebanyakan perempuan bisa lakukan pada saat ini. Tapi itu tidak menjadikan Kartini menyerah atau putus asa tetapi dia tetap berusaha untuk dapat mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan walaupun secara otoditak atau belajar sendiri.

Kartini merupakan perintis perubahan kaum wanita, dimana dia selalu berusaha untuk menyamakan kedudukan perempuan agar sebanding dengan kaum laki-laki. Dia mempunyai pemikiran yang maju, cekatan dan pintar. Dia juga fasih berbahasa Belanda, selain itu ia juga pandai memsak, menjahit dan mengurus rumah tangga. Dan sangat taat dalam menerapkan ilmu agama di rumahnya. Ini yang seharusnya menjadi contoh untuk kaum wanita pada saat ini, karena hal-hal tersebut makin lama makin luntur. Walaupun hidupnya bagai di dalam sangkar emas, tapi dia tidak pernah mengeluh. Dan itu yang justru menjadikan Kartini semakin bersemangat untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang saat ini sering kita sebut emansipasi wanita.

Emansipasi wanita adalah pemerataan kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki agar tidak adanya kasta atau tingkatan-tingkatan. Latar belakang adanya emansipasi wanita adalah budaya feodal yaitu derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Sebagai contohnya laki-laki bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi (sampai sarjana) sedangkan perempuan tidak boleh memperoleh pendidikan, dan perempuan hanya menunggu dirumah dengan memasak, mencuci,. mengasuh anak, mengurus dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dari budaya feodal inilah yang ingin dirubah oleh Kartini untuk kemajuan perabadan perempuan.

Karena Ide-ide besarnya inilah Kartini mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi perempuan itu sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Karna ide-idenyalah beliau digadang-gadang sebagai pelopor pergerakan atau perjuangan perempuan di Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak dan kewajiban perempuan. Begitulah sejarah singkat perjuangan Kartini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s