PENTINGNYA BAHASA JAWA GUNA MENOPANG PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Posted: Maret 24, 2016 in Intelegensia Muslim, Ke-Indonesian

foto LKK jogjaSuku jawa adalah salah satu suku di Indonesia yang terbesar dan menempati pulau jawa yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur dan dan sebagian Jawa Barat dan menggunakan bahasa Jawa, namun ada perbedaaan pendapat dialek didaerah tertentu. Dari perbedaan dialek, bahasa menjadi aspek penting dalam komunikasi. Bahasa menjadi kebutuhan sehari-hari dalam berkomunikasi sehingga bahasa menjadi salah satu bagian dari budaya yang menjadi keharusan di masyarakat. Bahasa menjadi sarana berinteraksi secara sosial dengan makhluk hidup lain baik yang sejenis maupun tidak sejenis. Dalam perjalanannya, kita dapat membedakan bahasa itu menjadi 3 jenis yaitu bahasa lisan, bahasa tulis dan bahasa tubuh (body language). Sedangkan yang ingin ditulis oleh penulis dalam essai ini lebih difokuskan pada bahasa lisan.

Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan “dan percayalah saudaraku semua, selama kita merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban kita. Janganlah kita mengharapkan akan dapat menjauhkan anak-anak kita dari keinginan hidup seperti Belanda-Polan. Sebaliknya kalau anak-anak kita dapat kita didik menggunakan bahasa kita dan anak bangsa kita maka dijiwanya akan tertanam jiwa nasionalisme dan mereka akan kembali dan memegang kultur budaya bangsa kita sejak abad lalu yang sekarang sudah tidak hidup lagi di dunia kita, dan hidup seolah-olah hidup dalam penghambaan, percayalah bahwa mereka itu akan merasa puas sebagai anak bangsa Indonesia.”

Dari pernyataan Ki Hajar Dewantara di atas, bahasa menjadi aspek penting dalam perkembangan perilaku dan sikap bagi penerus bangsa Indonesia. Bahasa menjadi identitas dari sebuah bangsa yang akan menghasilkan budaya baik budaya daerah ataupun budaya nasional. Budaya nasional merupakan kumpulan dari budaya daerah. Indonesia memiliki banyak keragaman budaya yang terletak di seluruh pulau dari Sabang sampai Merauke. Bahasa daerah yang mereka pergunakan merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional dan dilindungi oleh negara sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36 UUD 1945 Bab XV. Bahasa daerah merupakan lambang identitas daerah, lambang kebanggaan daerah dan menjadi pembinaan serta pengembangan kebudayaan daerah. Salah satunya adalah Bahasa Jawa.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Jawa memiliki fungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat lain di daerah Jawa. Selain sebagai bahasa dan identitas, bahasa Jawa dapat dijadikan sebagai media pembentuk budi pekerti (unggah – ungguh) terhadap generasi muda.

Unggah – ungguh dalam berbicara adalah tata cara berbahasa sesuai dengan tata krama, yaitu tata cara berbicara terhadap orang lain dan pola tingkah laku yang baik dan tepat. Dalam Qur’an Luqman ayat 6 juga menjelaskan yang menggunakan bahasa yang sopan yang berbunyi

z`ÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB “ÎŽtIô±tƒ uqôgs9 Ï]ƒÏ‰ysø9$# ¨@ÅÒã‹Ï9 `tã È@‹Î6y™ «!$# ΎötóÎ/ 5Où=Ïæ $ydx‹Ï‚­Gtƒur #·râ“èd 4 y7Í´¯»s9’ré& öNçlm; Ò>#x‹tã ×ûüÎg•B ÇÏÈ

Artinya:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Dari ayat diatas dijelaskan tentang pentingnya penggunaan bahasa yang baik (unggah-ungguh) dalam berbicara. Unggah – ungguh bahasa mewujudkan adat sopan santun dalam kebiasaan sehari-hari yang mencirikan kepribadian suatu individu dan masyarakat. Salah satu contohnya adalah unggah ungguh Bahasa Jawa. Namun dalah perkembangannya bahasa Jawa mulai ditinggalkan kaum muda.

Salah satu kutipan yang saya ambil dalam Kompas.com bahwa di era modern ini, bahasa daerah khususnya bahasa Jawa kurang memiliki daya tarik di kalangan pemuda bahkan bisa menjadi tidak popular bahkan asing untuk daerah asalnya sendiri. Dahulu, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang besar, dengan ber-tambahnya waktu, penggunaannya semakin berkurang. Saat ini para kaum muda di Pulau Jawa, khususnya yang masih di usia sekolah, sebagian besar tidak menguasai bahasa Jawa.

Melihat realita yang terjadi di Indonesia khususnya pulau Jawa, banyak kalangan muda yang antipati terhadap bahasa daerah yang terlihat dari tata bicara mereka yang meniru orang Korea berbicara. Hal ini bisa disebabkan karena masuknya dan menjamurnya budaya asing dan peran media yang menyebarluaskan informasi tersebut melalui film-film di televisi dan lain-lain. Selain itu keadaan Indonesia yang sebentar lagi akan dihadapkan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan terjadi di awal tahun 2016, semakin banyak generasi muda yang berbondong-bondong belajar bahasa inggris yang menjadi kebutuhan global. Itu juga berdampak pada semakin tergerusnya dan menghilangnya bahasa jawa sebagai identitas kepribadian orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apabila kita mempelajari bahasa jawa, bahasa daerah ini tidak hanya mengajarkan seni berbahasa saja, tetapi juga mengajarkan tentang nilai-nilai budi luhur.

Pemakaian bahasa asing, dan bahasa campuran (Jawa-Indonesia-Inggris) ini akan memperparah kondisi bahasa Jawa. Apalagi kita melihat jam mata pelajaran untuk bahasa Jawa, baik untuk tingkatan sekolah Dasar, Menengah dalam kurikulum 2013 hanya diberikan 2 X 45 menit dalam seminggu. Selain itu kurangnya didikan dari orang tua terhadap anaknya dalam penggunaan bahasa Jawa semakin berdampak pada hilangnya eksistensi dari bahasa Jawa itu sendiri. Banyak orang tua didaerah Solo yang mengajarkan kepada anaknya untuk berbahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Padahal kita mengenal bahwasanya kota solo terkenal sebagai Kota Budaya

Banyak orang beranggapan bahwa bahasa jawa adalah bahasa orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang zaman dulu. Mereka merasa malu dan gengsi menggunakan bahasa Jawa dan memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Namun apabila diajak berbicara dengan bahasa jawa mereka mengerti tetapi mereka tidak bisa membalas perkaatan tersebut. Lunturnya bahasa Jawa membuat kualitas budi pekerti dan tata krama para pemuda di Jawa semakin menurun. Ini yang menyebabkan muncul pepatah “wong Jawa ilang Jawane

Dalam falsafah orang jawa mengatakan mendhem jero mikul dhuwur, anak molah bapa kepradhah, yang berarti menimbun yang dalam dan memikul yang tinggi, anak yang berbuat bapak yang bertanggung jawab. Sehingga dalam falsafah hidup orang jawa harus mendidik anak supaya anak mempunyai kepribadian yang baik seperti:

  1. Sikap saling menghormati, ini terlihat pada bahasa keseharian orang jawa dimana di dalamnya adaundak-unduk basa (tingkatan bahasa) yang dilakukan antara orang muda dengan orang yang lebih tua. Dalam falsafah orang jawa sering dikenal dengan among saha miturut, sedulur tuwa iku dadi gegantining wong tuwa.
  2. Sikap dan watak jujur, para orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk berperilaku jujur baik dalam ucapan maupun tindakan.
  3. Sikap adil, anak-anak harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing dan tahu bagaimana memperlakukan saudaranya dalam segala hal. Tidak boleh berbuat serakah, murka, ora narima ing pandum atau loba, tamak.
  4. Rukun agawe santosa, sikap saling tolong menolong, gotong royong, dan tanggung awab harus ditanamkan olejh orang tua kepada anaknya sejak dini supaya anak dalam menghadapi kehidupanya tidak berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan pribadi saja akan tetapi juga membawa kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnaya. Seperti dalam falsafah jawa rukun agawe santosa lan crah agawe bubrah

Bahasa Jawa banyak mencerminkan adanya norma-norma susila, tata krama serta berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik adalah untuk menghormati sesame. Bahasa jawa mengajarkan tentang pendidikan karakter terhadap manusia. Pendidikan karakter yang menjadi pilar pendidikan budi pekerti bangsa, karena pendidikan karakter sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa, yang tak hanya unggul, tetapi juga bangsa yang cerdas. Keunggulan suatu bangsa terletak pada pemikiran dan karakter. Kedua jenis keunggulan tersebut dapat dibangun dan dikembangkan melalui pendidikan salah satunya bisa melalui pendidikan agama islam. Oleh karena itu, sasaran pendidikan agama islam bukan hanya masalah kepintaran dan kecerdasan (pemikiran), tetapi juga moral dan budi pekerti, watak, nilai, dan kepribadian yang tangguh, unggul dan mulia (karakter) atau mampu menyentuh 3 aspek psikologis yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik.

Bahasa dan sastra Jawa bisa menjadi sumber pendidikan karakter. Fungsi pokok bahasa dalam pembelajaran ada tiga hal yaitu (1) alat komunikasi, (2) edukatif, dan (3) kultural. Pada fungsi pertama, bahasa sebagai alat komunikasi yang diarahkan agar siswa dapat berbahasa Jawa dengan baik dan benar, mengandung nilai hormat atau sopan santun. Seperti kita diketahui bahwa penggunaan bahasa Jawa berlaku sesuai dengan unggah-ungguhnya. Dalam unggah-ungguh terkandung nilai-nilai hormat di antara para pembicara, yaitu orang yang berbicara,  orang yang diajak berbicara, dan orang yang dibicarakan. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai pembicaraan anata ra anak dan ibu dalam kalimat “Ibu nembe tilem” (Ibu sedang Tidur), jika yang sedang makan orang yang berbicara  anak, menggunakan kalimat “Aku arep turu” (Saya mau tidur). Penggunaan kata tilem (tidur) merupakan realisasi dari rasa hormat dari anak kepada orang tua.

Fungsi yang kedua adalah fungsi edukatif yang mengarahkan siswa untuk memperoleh nilai-nilai budaya Jawa untuk keperluan pembentukan kepribadian dan identitas bangsa. Pengajaran unggah-ungguh bahasa Jawa seperti diuraikan di depan, selain untuk keperluan alat komunikasi juga dapat mengembangkan fungsi edukatif. Melalui unggah-ungguh basa, siswa dapat ditanamkan nilai-nilai sopan santun. Ungkapan tradisonal Jawa juga banyak mengandung nilai-nilai lokal Jawa untuk kepentingan pendidikan. Salah satu semboyan yang kita dengar dalam pendidikan yang dijadikan sebagai semboyan pendidikan nasional adalah “Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tutwuri Handayani” juga berasal dari ungkapan tradisional Jawa. Bahasa dan sastra Jawa banyak mengandung nilai-nilai lokal Jawa yang dapat berfungsi untuk mengembangkan fungsi edukatif, yaitu fungsi untuk pembentukan kepribadian.

Fungsi yang ketiga adalah fungsi kultural yang diarahkan untuk menggali dan menanamkan kembali nilai-nilai budaya Jawa sebagai upaya untuk membangun identitas bangsa. Jika fungsi bahasa jawa sebagai alat komunikasi dan edukatif sudah terlaksana dengan baik, maka fungsi yang ketiga ini akan tercapai dalam penanaman nilai-nilai kepribadian luhur sebagai bagian dari dari tata nilai dan budaya Jawa. Jika penanaman nilai-nilai budaya Jawa telah berhasil, maka akan terbangun kepribadian yang kuat, dan pada akhirnya akan membentuk karakter yang kuat pula.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa jawa dapat menopang pendidikan agama Islam di Indonesia. Karena dalam pendidikan agama Islampun juga mengajarakan tentang memperbaiki akhlaq. Dijelaskan dalam KMA 211 tahun 2011 mengenai pendidikan agama islam adalah pendidikanyang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, dan ketrampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama islam yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang. Sehingga Bahasa Jawa dan Pendidikan Agama Islam mampu menjadi toggak atau penopang berdirinya pendidikan islam di Indonesia yang menjadi indentitas bagi bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s